Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Serba-serbi CFD Jakarta: Dari Tari India hingga Arak-arakan Keranda

Kompas.com, 21 September 2025, 08:36 WIB
Lidia Pratama Febrian,
Dani Prabowo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Suasana Car Free Day (CFD) di kawasan Jalan MH Thamrin dan Bundaran HI pada Minggu (21/9/2025) pagi berlangsung meriah.

Ribuan warga memadati ruas jalan yang ditutup untuk kendaraan bermotor sejak pukul 06.00 WIB.

Selain aktivitas olahraga, warga disuguhi berbagai atraksi budaya dan aksi kreatif dari komunitas.

Pantauan Kompas.com, sekitar pukul 07.00 WIB, rombongan penari dengan pakaian warna-warni khas India menampilkan tarian energik di depan Gedung Deutsche Bank.

Baca juga: Jadwal dan Lokasi CFD Bekasi, di Jalan Ahmad Yani sampai Summarecon

Lantunan musik rancak membuat sejumlah warga ikut berjoget, menambah semarak suasana pagi.

Tak jauh dari sana, arak-arakan budaya khas Banten melintas membawa replika kapal berhiaskan hasil bumi dan padi.

Di spanduk besar, tertulis pesan “Dari Banten untuk Indonesia” yang mengajak masyarakat menjaga kemandirian desa sekaligus kelestarian lingkungan.

Di area Bundaran HI, sebuah rombongan marching band pelajar menambah keriuhan dengan tabuhan drum.

Di belakangnya, sekelompok warga membawa replika keranda bertuliskan pesan moral “Harta Tidak Dibawa Mati”.

Baca juga: Car Free Day Bekasi Kembali Digelar Hari Minggu Ini

Aksi tersebut sontak menyedot perhatian pejalan kaki yang berhenti untuk mengabadikan momen.

Rania (28), warga Kemayoran, mengaku sengaja datang lebih pagi untuk menikmati CFD karena tahu ada parade budaya.

“Biasanya saya cuma jogging, tapi hari ini beda. Seru banget ada tarian India, ada juga karnaval lokal. Rasanya kayak nonton festival budaya gratis di jalan raya,” ujarnya kepada Kompas.com di lokasi.

Sementara itu, Fajar (35), warga Gambir yang datang bersama keluarganya, menilai CFD bukan hanya ruang olahraga tapi juga sarana hiburan.

“Menurut saya bagus CFD bisa dipakai untuk hal-hal positif seperti ini,” kata Fajar.

Kepadatan warga terlihat mulai dari kawasan Dukuh Atas hingga Bundaran HI. Sebagian memilih bersepeda, jogging, atau berjalan santai, sementara lainnya berhenti menonton pertunjukan budaya.

Petugas kepolisian dan Satpol PP tampak berjaga untuk memastikan arus warga tetap tertib.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Longsor Maswati-Sasaksaat Ganggu Jalur Kereta, Sejumlah Perjalanan Jakarta-Bandung Batal
Longsor Maswati-Sasaksaat Ganggu Jalur Kereta, Sejumlah Perjalanan Jakarta-Bandung Batal
Megapolitan
Potongan Tubuh Korban Mutilasi dalam Freezer di Bekasi Dibuang ke 2 Titik di Bogor
Potongan Tubuh Korban Mutilasi dalam Freezer di Bekasi Dibuang ke 2 Titik di Bogor
Megapolitan
Pedagang Ketoprak Dibacok di Cengkareng, Warga Duga Dipicu Masalah Asmara
Pedagang Ketoprak Dibacok di Cengkareng, Warga Duga Dipicu Masalah Asmara
Megapolitan
Harga Plastik Naik, Tukang Nasi Goreng dan Pecel Lele Resah
Harga Plastik Naik, Tukang Nasi Goreng dan Pecel Lele Resah
Megapolitan
Barang Korban Mutilasi dalam Freezer di Bekasi Turut Dicuri Rekan Kerja, Penadah Ditangkap
Barang Korban Mutilasi dalam Freezer di Bekasi Turut Dicuri Rekan Kerja, Penadah Ditangkap
Megapolitan
Kawal Kasus Andrie Yunus, 12 Orang Terima Ancaman di Medsos dan Diganggu Telepon Misterius
Kawal Kasus Andrie Yunus, 12 Orang Terima Ancaman di Medsos dan Diganggu Telepon Misterius
Megapolitan
Hindari Gerobak, Pemotor Wanita di Bekasi Tewas Terlindas Truk Trailer
Hindari Gerobak, Pemotor Wanita di Bekasi Tewas Terlindas Truk Trailer
Megapolitan
Di Balik Kasus Andrie Yunus, Teror Mengintai Tim Kuasa Hukum
Di Balik Kasus Andrie Yunus, Teror Mengintai Tim Kuasa Hukum
Megapolitan
Polisi Limpahkan Berkas Perkara Richard Lee ke Kejati Banten
Polisi Limpahkan Berkas Perkara Richard Lee ke Kejati Banten
Megapolitan
Progres Kasus Penyiraman Andrie Yunus di Puspom TNI Sudah 80 Persen
Progres Kasus Penyiraman Andrie Yunus di Puspom TNI Sudah 80 Persen
Megapolitan
Sampah di Komplek UKA Meluber hingga Tutupi Setengah Jalan
Sampah di Komplek UKA Meluber hingga Tutupi Setengah Jalan
Megapolitan
Ganjil Genap Jakarta Dihapus Sementara Pada 3 April, Semua Kendaraan Bebas Melintas
Ganjil Genap Jakarta Dihapus Sementara Pada 3 April, Semua Kendaraan Bebas Melintas
Megapolitan
Bengkel di Pamulang Kebakaran, Kerugian Capai Rp 3,5 Miliar
Bengkel di Pamulang Kebakaran, Kerugian Capai Rp 3,5 Miliar
Megapolitan
WFH 1 Hari Sepekan Juga Diberlakukan di Jakarta, Kenapa Dipilih Hari Jumat?
WFH 1 Hari Sepekan Juga Diberlakukan di Jakarta, Kenapa Dipilih Hari Jumat?
Megapolitan
Digugat Purnawirawan TNI, Polda Metro Jaya Belum Terima Surat Panggilan Sidang Pertama
Digugat Purnawirawan TNI, Polda Metro Jaya Belum Terima Surat Panggilan Sidang Pertama
Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Serba-serbi CFD Jakarta: Dari Tari India hingga Arak-arakan Keranda
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat