
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Oleh: Binandar D. Setiawan*
TAN Malaka di bukunya Rencana Ekonomi Berjuang (1945), menulis “...kalau begitu bukan saja mata pencaharian, atau alat penghasil yang mesti dimasyarakatkan lagi. Kehidupan sosial sendiri, bukankah mesti dimasyarakatkan pula. Bagaimana bisa diadakan rencana kalau tiap-tiap pembeli dan penghasil masih berdiri atas perseorangan?”
Meski sudah delapan puluh tahun berlalu, pemikirannya masih relevan hingga saat ini. Golongan yang ia sebut “kaum kromo”, agaknya memiliki kesamaan makna dengan pekerja informal sekarang ini. Kesamaannya terletak pada peran mereka sebagai produsen nilai yang esensial.
Namun di sisi lain, mereka seringkali terjerat kerentanan finansial akibat sistem moneter formal yang gagal mengintegrasikan nilai kerja mereka secara proporsional.
Kerja dan keringat mereka seakan kehilangan daya guna. Sebabnya, karena tak dihargai secara sepadan dalam perputaran ekonomi.
Kerentanan finansial ini ujungnya menciptakan kesenjangan ekonomi. Begitu banyak aspek kehidupan yang tak bisa diakses layak karena kondisi finansial yang ringkih.
Baca juga: Purbaya Bersih-bersih Kementerian Keuangan
Pendidikan, kesehatan, pangan, papan, dan banyak kebutuhan dasar lain menjadi urusan memusingkan dalam keseharian kaum kromo.
Sesunggunya solusi atas kerentanan itu sudah ada dan sudah berjalan sebagai kultur masyarakat kita zaman dulu. Secara merata dengan mudah kita dapati berbagai cerita dan pengalaman soal pertukaran non-moneter di tingkat akar rumput.
Satu contoh, praktik “sambatan” yang dilakukan masyarakat Bantul, Yogyakarta. Sambatan adalah bentuk kerja non-moneter. Sekitar 20 hingga 30 tetangga membantu membangun rumah warga lain.
Hasilnya dalam satu Rukun Tetangga (RT), ada sekian rumah yang terbangun dengan sistem itu. Yang menarik adalah sama sekali tak melibatkan bayaran uang.
Jadilah sejumlah anggaran pemilik rumah bisa dialihkan untuk kebutuhan lain. Imbasnya dapat memperbesar perputaran uang ekonomi setempat.
Saat ini praktik itu masih ada, tapi cenderung terbatas di ranah sosial. Misal, kerja bakti membangun jalan, memperbaiki irigasi dan lainnya.
Di sinilah urgensi kita perlu untuk merevitalisasi praktik itu dan mensistemasinya menjadi gerakan yang masif.
Sebagai ilustrasi, Rina, seorang desainer grafis. Pada suatu hari tidak punya cukup uang untuk perbaiki kendaraannya.
Kebetulan temannya, Bimo, seorang teknisi. Dia butuh desain shop sign untuk bengkelnya. Mereka sepakati pertukaran jasa; Bimo berikan jasa perbaikan motor senilai ekuivalen Rp 100.000. Di mana dibayar penuh oleh Rina melalui jasa desain dengan nilai setara.
Pertukaran itu tidak melibatkan likuiditas tunai.