JAKARTA, KOMPAS.com – Memasuki 2026, industri teknologi finansial atau fintech dinilai memiliki ruang lebih besar untuk mendorong perekonomian nasional.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menilai kontribusi fintech tidak hanya terasa di level nasional. Dampaknya juga menjangkau ekonomi daerah melalui penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM.
Layanan keuangan digital dinilai mampu menjangkau segmen akar rumput. Peran tersebut terlihat dari model bisnis fintech seperti Amartha yang fokus menyalurkan pembiayaan ke pelaku UMKM di daerah.
“Data penyaluran kredit untuk UMKM dari perbankan mengalami kontraksi secara tahunan. Padahal di satu sisi, kebutuhan permodalan masih cukup tinggi dalam konteks pengembangan usaha,” kata Huda di Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Baca juga: Gagal Bayar Fintech Lending pada 2025: Akseleran, DSI, hingga Crowde
Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha mencari sumber pembiayaan lain. Pinjaman daring menjadi salah satu alternatif yang dipilih.
“Pelaku usaha akhirnya mencari sumber pembiayaan alternatif, salah satunya adalah pinjaman daring. Jadi tidak ayal, pertumbuhan pinjaman daring masih cukup tinggi di tahun 2025 dan dilanjutkan di tahun 2026,” tambah dia.
Huda juga menyoroti dampak pinjaman daring terhadap inklusi keuangan di perdesaan. Kehadiran layanan tersebut meningkatkan peran agen bank di tingkat desa.
Pembayaran cicilan pinjaman daring dilakukan melalui agen bank lokal. Kebutuhan terhadap agen bank pun ikut meningkat.
“Begitu juga dengan adanya pinjaman daring membuka kesempatan orang untuk berusaha maka ada kenaikan industri,” ujarnya.
Potensi fintech dinilai masih besar. Sektor swasta perlu jeli membaca peluang sekaligus mengelola risiko.
Baca juga: Lonjakan Fintech Bayangi Risiko, Laporan Penipuan Tembus Rp 7 Triliun
Peluang tersebut antara lain ekspansi ke luar Pulau Jawa, menyasar segmen akar rumput, menjalin kemitraan dengan institusi, serta mengembangkan produk keuangan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Ekspansi tetap menyimpan risiko. Gejolak geopolitik global, potensi penipuan, serta rendahnya literasi keuangan digital menjadi tantangan yang perlu diantisipasi pelaku fintech.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya