Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wamenkeu Juda Sebut Pertumbuhan Ekonomi RI Ungguli China, Dorong Lapangan Kerja

Kompas.com, 10 Februari 2026, 13:39 WIB
Debrinata Rizky,
Teuku Muhammad Valdy Arief

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonomi Indonesia pada kuartal IV tercatat mencapai 5,39 persen, lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara besar, termasuk China.

Capaian ini dinilai tidak hanya kompetitif secara global, tetapi juga mulai memberikan dampak nyata terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan, meski pertumbuhan tersebut masih berada di bawah potensi ekonomi nasional, kinerjanya patut disyukuri karena menjadi yang tertinggi sejak fase pemulihan pascapandemi Covid-19 pada 2022.

“Kalau ditanya puas atau belum puas, tentu bisa puas atau belum puas. Tapi yang perlu kita syukuri, pertumbuhan 5,39 persen ini adalah yang tertinggi sejak 2022, setelah rebound Covid-19,” ujar Juda dalam ekonomi outlook 2026 di Jakarta pada Selasa (10/2/2026).

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi dan Ujian Kesejahteraan Petani

Ia menjelaskan, setelah fase pemulihan pandemi, pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung berada di kisaran 5 persen. Kenaikan menjadi 5,39 persen pada kuartal IV menunjukkan momentum penguatan ekonomi yang mulai terbentuk.

Juda menyebut, dari sisi perbandingan global, Juda menilai posisi Indonesia cukup solid. Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal IV tercatat berada di kisaran 4,5 persen, lebih rendah dibandingkan Indonesia.

Bahkan, di antara negara-negara G20, Indonesia termasuk salah satu yang mencatat pertumbuhan relatif tinggi.

“China misalnya, di kuartal IV itu sekitar 4,5 persen, sementara Indonesia 5,4 persen. Di antara negara G20, kita salah satu yang paling tinggi,” kata Juda.

Menurut dia, penguatan ekonomi juga tercermin dari indikator kepercayaan konsumen. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menunjukkan tren peningkatan yang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, menandakan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan.

“Ini matching antara pertumbuhan ekonomi dan indeks keyakinan konsumen. Keduanya sama-sama naik, dan ini patut kita catat,” ujarnya.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi RI 2025 Tertinggi Tiga Tahun, Pasar Masih Ragu...

Lebih jauh, Juda menekankan bahwa kualitas pertumbuhan ekonomi tercermin dari dampaknya terhadap kesejahteraan.

Salah satu indikator utama adalah penciptaan lapangan kerja. Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), penyerapan tenaga kerja menunjukkan tren yang cukup menggembirakan.

Menurut Juda jika dilihat dalam periode Agustus hingga November 2025, jumlah tenaga kerja bertambah sekitar 1,37 juta orang hanya dalam satu kuartal. Secara tahunan, penciptaan lapangan kerja bahkan mencapai kisaran 3,4 juta hingga 4 juta orang.

“Biasanya dalam setahun pertambahannya sekitar 3 juta. Ini dalam satu kuartal sudah naik 1,37 juta. Artinya, pertumbuhan ekonomi di kuartal-IV benar-benar mendorong penciptaan lapangan kerja,” kata Juda.

Ia menilai momentum positif tersebut perlu terus dijaga dan diperkuat pada kuartal I tahun ini. Dengan pertumbuhan kuartal IV yang solid, pemerintah berharap kinerja ekonomi pada awal tahun dapat melampaui capaian periode yang sama tahun sebelumnya.

“Momentumnya sudah bagus. Di kuartal I ini kita harapkan bisa lebih baik lagi dibandingkan kuartal I tahun lalu,” ujarnya.

Pemerintah, kata Juda, akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi agar tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga berdampak luas terhadap kesejahteraan masyarakat, penurunan kemiskinan, dan perluasan kesempatan kerja.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau