JAKARTA, KOMPAS.com - Momen Lebaran identik dengan cairnya Tunjangan Hari Raya (THR). Namun, tidak sedikit masyarakat yang mengalami kondisi di mana dana tersebut cepat habis setelah periode libur usai.
Fenomena ini tidak hanya dipengaruhi oleh tingginya konsumsi musiman, tetapi juga berkaitan dengan cara pengelolaan keuangan. Tanpa strategi yang tepat, THR berisiko hanya menjadi pengeluaran jangka pendek tanpa memberikan manfaat finansial berkelanjutan.
Chief Marketing Officer PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Sergio Ticoalu, mengatakan periode THR seharusnya menjadi momentum untuk mulai berpikir seperti smart money, yaitu menggunakan uang secara lebih strategis, bukan sekadar mengikuti dorongan konsumsi sesaat.
“Momentum THR sebenarnya adalah kesempatan bagus untuk mulai berpikir seperti smart money. Artinya bukan sekadar membelanjakan uang, tapi mengalokasikannya dengan lebih strategis agar sebagian tetap bisa tumbuh dan bekerja untuk masa depan,” ujar Sergio lewat keterangan pers, Selasa (17/3/2026).
Baca juga: THR Jangan Dianggap Bonus, Ini Strategi Pengelolaan yang Disarankan
Menurutnya, pola pikir ini penting agar dana THR tidak hanya lewat begitu saja di rekening, tetapi dapat menjadi langkah awal membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat.
IPOT pun membagikan empat strategi sederhana agar dana THR dapat dikelola secara lebih produktif.
Langkah pertama adalah memastikan kondisi finansial tetap aman. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengalokasikan sebagian THR untuk memperkuat dana darurat.
“Minimal 20–30 persen THR bisa dialokasikan sebagai dana cadangan. Ini penting agar kondisi finansial tetap stabil sepanjang tahun,” paparnya.
Dengan adanya dana darurat, masyarakat dapat menghadapi kebutuhan tak terduga tanpa harus berutang atau mengganggu rencana keuangan lainnya.
Setelah kebutuhan Lebaran terpenuhi, sisa THR dapat dimanfaatkan sebagai tambahan modal investasi.
Sergio menekankan pentingnya melakukan investasi dengan dasar analisis dan keyakinan, bukan sekadar mengikuti tren atau FOMO.
“Investor yang sehat adalah mereka yang punya convictionterhadap keputusan investasinya. Jadi bukan sekadar ikut ramai, tapi memahami kenapa mereka memilih instrumen tersebut,” katanya.
Mengelola uang dengan baik tidak hanya bergantung pada besar kecilnya pendapatan, tetapi juga pada tingkat literasi finansial.
Dengan pemahaman yang baik tentang investasi dan pengelolaan keuangan, seseorang dapat mengambil keputusan yang lebih rasional dan terukur.
“Confidence dalam berinvestasi datang dari pemahaman. Semakin kita mengerti cara kerja pasar dan instrumen investasi, semakin baik pula keputusan yang bisa kita ambil,” tambah Sergio.
Baca juga: Cara Kelola THR 2026 Agar Tak Habis Pakai Rumus 40-30-30
Salah satu cara agar dana tidak cepat habis adalah dengan menempatkannya pada rekening dana nasabah (xRDN) yang tetap memberikan potensi imbal hasil.
Di aplikasi IPOT, saldo yang tersimpan di xRDN tetap dapat memberikan potensi imbal hasil sekitar 2 persen, lebih tinggi dibandingkan bunga tabungan konvensional yang umumnya berada di kisaran 0,02–0,2 persen per tahun, namun tetap memiliki likuiditas tinggi.
Dengan cara ini, dana tetap produktif sekaligus membantu mengurangi dorongan belanja impulsif.
“Konsep smart money bukan berarti menahan diri dari menikmati momen Lebaran, tetapi memastikan sebagian uang tetap bekerja untuk kita setelah liburan selesai,” tutup Sergio.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang