NEW YORK, KOMPAS.com - Indeks utama Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Senin (30/3/2026), dengan tekanan dari eskalasi konflik Timur Tengah mengimbangi sentimen positif dari pernyataan pemerintah Amerika Serikat terkait negosiasi dengan Iran.
Mengutip Reuters Selasa (31/3/2026), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik tipis 49,50 poin atau 0,11 persen ke level 45.216,14. Sementara itu, indeks S&P 500 turun 25,13 poin atau 0,39 persen ke 6.343,72, dan Nasdaq Composite terkoreksi 153,72 poin atau 0,73 persen ke level 20.794,64.
Pelemahan terutama terjadi pada saham-saham teknologi yang menjadi penekan utama S&P 500. Indeks semikonduktor bahkan tercatat turun hingga 4,2 persen, mencerminkan tekanan yang cukup signifikan di sektor tersebut.
Di sisi lain, sektor energi juga tidak mampu mempertahankan penguatan meskipun harga minyak dunia mengalami kenaikan. Indeks energi S&P 500 justru ditutup turun 0,9 persen.
Harga minyak mentah Brent tercatat berada di jalur kenaikan bulanan tertinggi, sementara minyak mentah Amerika Serikat ditutup di atas 100 dollar AS per barrel untuk pertama kalinya sejak 2022.
Baca juga: Wall Street Melemah Saat Perang Iran Memanas, Harga Minyak Kembali Melonjak
Berbeda dengan sektor lainnya, indeks keuangan mencatatkan penguatan sebesar 1,1 persen, setelah Departemen Tenaga Kerja AS merilis pedoman baru terkait pengelolaan aset alternatif dalam dana pensiun 401(k).
Kebijakan tersebut mendorong saham perusahaan manajemen aset menguat, dengan saham Blackstone naik 3,3 persen dan KKR menguat 2,1 persen.
Secara keseluruhan, volume perdagangan di bursa saham AS mencapai 18,85 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 20 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.
Baca juga: IHSG Masih Dibayangi Risiko Perang Timur Tengah, Analis Proyeksikan Uji Level 6.800
Sentimen pasar masih dibayangi ketidakpastian geopolitik. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa AS tengah melakukan diskusi serius untuk mengakhiri konflik.
Namun, Trump juga kembali memperingatkan kemungkinan tindakan agresif, termasuk ancaman terhadap infrastruktur energi Iran jika ketegangan terus berlanjut.
Di sisi lain, Iran menilai proposal perdamaian dari AS tidak realistis. Ketegangan semakin meningkat setelah kelompok milisi Houthi di Yaman yang didukung Iran turut terlibat dalam konflik pada akhir pekan lalu.
Kondisi ini membuat investor cenderung berhati-hati. Lonjakan harga minyak akibat konflik turut memicu kekhawatiran terhadap inflasi global yang berpotensi menekan pasar saham.
“Pemerintah terus mengirimkan pesan yang campur aduk. Ketika pesan positif dipercaya, pasar menguat. Namun jika ada sinyal agresif, pasar bisa langsung turun tajam,” ujar Rick Meckler, mitra di Cherry Lane Investments.
Baca juga: Wall Street Kembali Anjlok, Perang Iran Vs AS-Israel Jadi Pemicu
Menurut dia, investor saat ini juga mulai mencari titik terendah teknikal setelah aksi jual yang terjadi dalam beberapa sesi terakhir.
Ketiga indeks utama sempat dibuka menguat setelah mengalami penurunan tajam sebelumnya. Namun, sejak konflik dimulai, indeks Dow Jones, Nasdaq, serta indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 telah masuk ke wilayah koreksi, atau turun lebih dari 10 persen dari posisi tertinggi sebelumnya.
Sentimen pasar juga sempat ditopang oleh pernyataan Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, yang menyebutkan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang masih relatif stabil meskipun terjadi guncangan harga energi.
Powell juga menegaskan bahwa bank sentral belum perlu mengambil keputusan terkait respons kebijakan terhadap perkembangan terbaru tersebut.
Namun demikian, pelaku pasar uang kini mulai mengubah ekspektasi kebijakan moneter. Berdasarkan FedWatch Tool dari CME Group, pasar memperkirakan peluang pelonggaran kebijakan moneter semakin kecil, bahkan membuka kemungkinan tidak adanya penurunan suku bunga pada tahun ini, berbeda dengan proyeksi sebelumnya sebelum konflik pecah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang