Penulis
KOMPAS.com - Ilmuwan mengungkap ada kaitan erat antara desain rumah dengan kesehatan mental.
Arsitektur hunian kerap dipandang sebagai disiplin teknis yang bertumpu pada gambar rencana, regulasi, fasad, luasan bangunan, dan sistem konstruksi. Namun dalam praktiknya, hunian sangat bersifat psikologis.
Menurut ilmuwan, rumah tempat kita tinggal adalah lingkungan emosional yang aktif, jauh melampaui sekadar bangunan fisik.
Rumah membentuk suasana hati, rasa aman, tingkat stres, relasi keluarga, serta cara kita menghadapi dunia setiap kali pulang di akhir hari.
Banyak orang kesulitan menjelaskan mengapa mereka merasa tidak nyaman atau terasing di hunian mereka sendiri. Penjelasan yang sering muncul biasanya berkisar pada kebisingan, tetangga, ketidaknyamanan umum, kelelahan akibat ruang, atau perasaan sesak yang sulit dijelaskan.
Padahal, riset luas dalam bidang psikologi lingkungan menunjukkan bahwa dalam banyak kasus, sumber masalahnya terletak pada desain itu sendiri.
Dilansir dari Ynet News, Rabu (4/2/2026), cara ruang-ruang terhubung, alur pergerakan, tingkat pencahayaan, hingga bagaimana sebuah bangunan “menyambut” penghuninya di pintu masuk, semuanya berdampak langsung pada kesejahteraan mental.
Baca juga: 6 Peralatan Rumah Tangga yang Umurnya Lebih Pendek dari Perkiraan, Bisa Picu Boros Listrik
Sejak tahun 1970-an, peneliti psikologi lingkungan Irwin Altman telah mengemukakan teori tentang privasi, yang menyatakan bahwa privasi bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar manusia.
Ia menunjukkan bahwa lingkungan fisik berfungsi sebagai alat utama bagi individu untuk mengatur interaksi sosial, privasi, dan rasa kendali.
Studi-studi yang lebih mutakhir di Eropa dan Amerika Serikat memperkuat kesimpulan ini, dengan menunjukkan bagaimana kesalahan desain kecil dapat terakumulasi menjadi pengalaman hidup sehari-hari yang melelahkan.
Berikut lima kesalahan desain rumah yang sebaiknya dihindari:
Ilustrasi pintu rumah yang langsung menghadap ruang keluarga.Area masuk berfungsi sebagai transisi psikologis antara dunia luar yang bising dan penuh tuntutan dengan ruang dalam yang intim.
Tanpa zona penyangga untuk berhenti sejenak, meletakkan barang, dan menurunkan ketegangan, penghuni akan terus-menerus merasa terekspos.
Sebuah studi tahun 2016 yang diterbitkan dalam Journal of Environmental Psychology menemukan bahwa apartemen tanpa pemisahan jelas antara area masuk dan ruang hunian berkaitan dengan tingkat stres yang lebih tinggi serta menurunnya rasa privasi dan kendali.
Baca juga: Bukan AC dan Kulkas, Ini Alat Rumah Tangga yang Diam-diam Boros Listrik