Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rumor Kematian dan Dugaan Video Deepfake Benjamin Netanyahu...

Kompas.com, 19 Maret 2026, 11:44 WIB
Tim Cek Fakta

Penulis

KOMPAS.com - Isu kematian Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sempat ramai dibicarakan di media sosial di tengah kecamuk Perang Iran.

Kabar ini bermula dari unggahan akun X kantor berita Iran, Tasnim, pada 10 Maret 2026. Saat itu, Tasnim menyebut ada laporan yang belum terkonfirmasi soal kematian Netanyahu.

"Laporan yang belum terkonfirmasi menunjukkan munculnya spekulasi dalam sumber berbahasa Ibrani mengenai kemungkinan luka parah atau kematian PM rezim Israel Benjamin Netanyahu, karena pembatalan mendadak kunjungan yang direncanakan ke Israel oleh utusan Trump menimbulkan pertanyaan," demikian unggahan Tasnim di X.

Namun, laporan Tasnim dibantah oleh The Jerusalem Post. Menurut media Israel itu, Tasnim tidak menyertakan bukti kredibel untuk mendukung laporan tersebut.

"Sebaliknya, kantor berita itu mengumpulkan serangkaian poin berdasarkan keadaan, termasuk tidak adanya klip video Netanyahu baru-baru ini, laporan di media berbahasa Ibrani tentang peningkatan keamanan di sekitar rumahnya, penundaan kunjungan yang dilaporkan oleh Jared Kushner dan utusan khusus AS Steve Witkoff, dan transkrip percakapan telepon antara Presiden Emmanuel Macron dan Netanyahu dalam bahasa Perancis yang tidak menyebutkan tanggal percakapan tersebut," tulis The Jerusalem Post, 10 Maret 2026.

Dugaan video AI

Beberapa hari kemudian, Netanyahu muncul dalam pernyataan video. Ini adalah kemunculan pertama setelah absen selama beberapa waktu. Ketidakhadiran yang menguatkan rumor kematiannya.

Video itu diunggah di kanal YouTube resmi resmi Kantor Pers Pemerintah Israel (GPO) pada 12 Maret 2026.

Dalam pernyataannya, Netanyahu mengeklaim bahwa serangan AS dan Israel mengakibatkan Iran tidak bisa melanjutkan proyek rudal balistik dan senjata nuklir.

Namun, video itu dituding sebagai hasil manipulasi AI oleh sebagian pihak. Israel dituding menutupi kematian Netanyahu dengan deepfake.

Salah satu kejanggalan yang disoroti adalah Netanyahu terlihat memiliki enam jari dalam video tersebut. Ini disebut sebagai bukti rekayasa AI.

Kendati demikian, pemeriksa fakta seperti Lead Stories, menjelaskan bahwa video itu asli dan kejanggalan yang dimaksud adalah ilusi optik.

Pada detik ke-34, Netanyahu mengangkat kedua tangannya, dan menuding dengan jari telunjuknya. Ia memiliki lima jari di setiap tangan.

Ketika melakukan gerakan ini, untuk sesaat dalam video tersebut, bayangan terbentuk sebentar di lipatan sisi tangan kanan Netanyahu.

Bayangan sementara inilah yang membuat seolah-olah Netanyahu terlihat memiliki enam jari.

Video kopi

Meski berbagai media arus utama dan pemeriksa fakta telah mengatakan bahwa video pernyataan Netanyahu itu bukan deepfake, rumor kematiannya masih dipercaya.

Halaman:


Terkini Lainnya
[HOAKS] Video Dedi Mulyadi Usulkan Semua Aset Koruptor Dirampas
[HOAKS] Video Dedi Mulyadi Usulkan Semua Aset Koruptor Dirampas
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Bahlil Usir Rakyat Indonesia yang Tidak Pakai Motor Listrik
[HOAKS] Bahlil Usir Rakyat Indonesia yang Tidak Pakai Motor Listrik
Hoaks atau Fakta
INFOGRAFIK: Muncul Hoaks Prabowo dan Trump Pamerkan Produk Olahan Babi
INFOGRAFIK: Muncul Hoaks Prabowo dan Trump Pamerkan Produk Olahan Babi
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Farel Prayoga Meninggal Dunia pada 1 April 2026
[HOAKS] Farel Prayoga Meninggal Dunia pada 1 April 2026
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Pigai Sebut Yaqut Tidak Melanggar HAM karena Korupsi Sesuai Prosedur
[HOAKS] Pigai Sebut Yaqut Tidak Melanggar HAM karena Korupsi Sesuai Prosedur
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Foto Ronaldo Bentangkan Bendera Portugal Diedit Jadi Bendera Palestina
[KLARIFIKASI] Foto Ronaldo Bentangkan Bendera Portugal Diedit Jadi Bendera Palestina
Hoaks atau Fakta
INFOGRAFIK: Hoaks Bandara Terbesar di AS Hancur Lebur, Simak Faktanya
INFOGRAFIK: Hoaks Bandara Terbesar di AS Hancur Lebur, Simak Faktanya
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Bahlil Sebut PLN Merugi karena Rakyat Tidak Hemat Listrik
[HOAKS] Bahlil Sebut PLN Merugi karena Rakyat Tidak Hemat Listrik
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Dirjen Bimas Hindu Umumkan Bantuan Rp 15,2 Miliar
[HOAKS] Dirjen Bimas Hindu Umumkan Bantuan Rp 15,2 Miliar
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Video Ribuan Burung di Texas, Bukan Gagak di Tel Aviv
[KLARIFIKASI] Video Ribuan Burung di Texas, Bukan Gagak di Tel Aviv
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Kemenaker Mulai Salurkan BSU Rp 600.000
[HOAKS] Kemenaker Mulai Salurkan BSU Rp 600.000
Hoaks atau Fakta
INFOGRAFIK: Hoaks Prabowo Nyatakan Indonesia Siap Berperang, Simak Bantahannya
INFOGRAFIK: Hoaks Prabowo Nyatakan Indonesia Siap Berperang, Simak Bantahannya
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Video Ronaldo Ucapkan Kalimat Syahadat adalah Konten AI
[KLARIFIKASI] Video Ronaldo Ucapkan Kalimat Syahadat adalah Konten AI
Hoaks atau Fakta
INFOGRAFIK: Muncul Hoaks Wapres Gibran Pernah Bertemu Ayatollah Ali Khamenei
INFOGRAFIK: Muncul Hoaks Wapres Gibran Pernah Bertemu Ayatollah Ali Khamenei
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Video Serangan Drone di Bahrain, Bukan Citibank Dubai
[KLARIFIKASI] Video Serangan Drone di Bahrain, Bukan Citibank Dubai
Hoaks atau Fakta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau