Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Stres Perang, Warga Israel Kabur ke Gurun

TEL AVIV, KOMPAS.com - Di tengah dentuman rudal Iran dan roket Hizbullah yang mengguncang kota-kota besar di Israel, sebuah kota gurun kecil di selatan Gurun Negev kini menjadi primadona baru. 

Mitzpe Ramon, kota berpenduduk sekitar 5.000 jiwa, mendadak dipadati pengunjung yang mencari ketenangan dari stres akibat perang.

Berada di tepi tebing yang menghadap kawah raksasa sepanjang 40 kilometer, Mitzpe Ramon seolah menjadi "suaka" bagi warga yang jenuh dengan bunyi sirene peringatan udara.

Konselor sekolah, Tair Momo (33), adalah salah satu pengunjung yang rela menunggu berhari-hari demi mendapatkan kamar kosong di kota tersebut. 

Dia datang dari Kiryat Gat bersama tiga rekannya, sebagaimana dilansir AFP, Senin (16/3/2026).

"Saya datang ke sini untuk mendapatkan jeda, untuk tidak mendengar sirene, tidak mendengar peringatan, dan berada di tempat alam yang terasa lebih rileks," ujar Momo kepada AFP.

Direktur Jenderal Dewan Lokal Mitzpe Ramon, Yaniv Harush, mengungkapkan bahwa sejak AS-Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, kota ituhanya mencatat satu kali alarm peringatan.

"Ini seperti pulau perdamaian dan keamanan," kata Harush di kantornya yang sederhana.

Menurut Harush, jumlah pengunjung melonjak drastis hingga 80 persen dari waktu normal. 

Sekitar 2.000 orang tambahan kini menetap sementara di sana, membuat hotel dan apartemen sewaan penuh.

Bisnis di tengah deru perang

Kondisi perang yang bekecamuk tersebut membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi pengusaha lokal. 

Sami Elkrnwi, seorang pengusaha yang mengelola empat hotel di kota tersebut, mengaku seluruh kamarnya yang berjumlah 100 unit telah terisi penuh.

"Bisnis sangat bagus. Tidak ada ledakan di sini, semuanya sempurna," tutur Elkrnwi sambil bersantai di kafe miliknya yang juga ramai pengunjung.

Meski suasananya tenang, bagi banyak pengunjung, keberadaan mereka di Mitzpe Ramon bukanlah sebuah liburan yang menyenangkan.

Michal Gat, seorang konsultan merek dari Tel Aviv, memilih pindah sementara karena rumahnya tidak memiliki bunker atau ruang pelindung. 

Meski bekerja secara jarak jauh dari gurun, pikirannya tetap tertuju pada situasi di kota asal.

"Ini bukan hari libur. Anda terus memikirkan orang-orang yang Anda kenal. Hati kami sepenuhnya bersama orang-orang di pusat dan juga di utara Israel," ungkap Gat.

Di sisi lain kota, Haggai Landa, seorang pekerja sektor teknologi, mencoba mengalihkan perhatian anak-anaknya dengan kegiatan luar ruang seperti rappelling di tebing setinggi 40 meter.

Landa terpaksa membawa keluarganya keluar dari Tel Aviv setelah jendela rumah mereka hancur akibat serangan rudal pada malam pertama perang.

Meski demikian, Landa mengaku memiliki perasaan campur aduk saat harus merencanakan kepulangan ke Tel Aviv untuk mengunjungi kerabat. 

"Jika perang terus berlanjut, kami mungkin akan keluar lagi dan kembali ke sini," tutupnya.

https://www.kompas.com/global/read/2026/03/17/123100770/stres-perang-warga-israel-kabur-ke-gurun

Terkini Lainnya

Jika Iran Buka Selat Hormuz, Apakah Krisis Energi Dunia Langsung Reda?
Jika Iran Buka Selat Hormuz, Apakah Krisis Energi Dunia Langsung Reda?
Internasional
Misteri Astronot Tiba-tiba Tak Bisa Berbicara Saat Jalankan Misi di Luar Angkasa, Penyebab Belum Diketahui
Misteri Astronot Tiba-tiba Tak Bisa Berbicara Saat Jalankan Misi di Luar Angkasa, Penyebab Belum Diketahui
Global
Kisah Pilu Wanita Indonesia Jadi 'Budak' di Australia
Kisah Pilu Wanita Indonesia Jadi "Budak" di Australia
Internasional
Macron Balas Sindir Trump soal Perang Iran, Singgung Kerugian yang Dibuat Sekutu
Macron Balas Sindir Trump soal Perang Iran, Singgung Kerugian yang Dibuat Sekutu
Internasional
AS-Israel Serang Iran, Kompleks Baja di Isfahan Jadi Sasaran
AS-Israel Serang Iran, Kompleks Baja di Isfahan Jadi Sasaran
Internasional
Benarkah Timur Tengah Berlomba Kembangkan Nuklir Imbas Perang Iran?
Benarkah Timur Tengah Berlomba Kembangkan Nuklir Imbas Perang Iran?
Internasional
Krisis Minyak Dunia Juga Pernah Terjadi 1970-an, Lebih Parah Mana Dibanding Sekarang?
Krisis Minyak Dunia Juga Pernah Terjadi 1970-an, Lebih Parah Mana Dibanding Sekarang?
Internasional
Mengapa Israel Menolak Disalahkan Atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon?
Mengapa Israel Menolak Disalahkan Atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon?
Internasional
Irak Mendadak 'Lupa Perang' Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Irak Mendadak "Lupa Perang" Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Internasional
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com