Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bernardus Djonoputro
Ketua Majelis Kode Etik, Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP)

Bernardus adalah praktisi pembiayaan infrastruktur dan perencanaan kota. Lulusan ITB jurusan Perencanaan Kota dan Wilayah, dan saat ini menjabat Advisor Senior disalah satu firma konsultan terbesar di dunia. Juga duduk sebagai anggota Advisory Board di Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung ( SAPPK ITB).

Selain itu juga aktif sebagai Vice President EAROPH (Eastern Region Organization for Planning and Human Settlement) lembaga afiliasi PBB bidang perencanaan dan pemukiman, dan Fellow di Salzburg Global, lembaga think-tank globalisasi berbasis di Salzburg Austria. Bernardus adalah Penasehat Bidang Perdagangan di Kedubes New Zealand Trade & Enterprise.

Pertobatan Ekologis Para Perencana Kota

Kompas.com, 22 Desember 2025, 09:10 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PARA perencana kota punya bahasa baru yang menjadi tren, yaitu urbanisme ekologis. Namun, para perencana Indonesia nampaknya perlu banyak berkontemplasi ketika negara didera bencana, awal tragis untuk memulai pertobatan ekologis.

Fenomena krisis di dunia ini saling terhubung. Krisis iklim dapat dilihat sebagai krisis moral dan spiritual.

Masalah degradasi lingkungan berakar pada krisis moral dan etika yang dalam, berakar pada "paradigma teknokratis" yang memperlakukan alam dan manusia sebagai objek yang dieksploitasi untuk keuntungan, alih-alih menghargai nilai intrinsiknya.

Dekade terakhir ini dunia menyaksikan pergeseran besar dalam perkembangan di perkotaan maupun pedesaan.

Migrasi lokal dan global, kesenjangan yang semakin melebar, dan pengangguran kaum muda terus memperdalam kesenjangan di perkotaan. Informalitas, isu perumahan, pekerjaan, dan tata kelola menjadi isu dominan dalam manajemen perkotaan.

Urbanisasi hari ini di dunia telah melewati ambang batas simbolis, yaitu lebih dari 3,75 miliar atau 58 persen manusia tinggal di daerah perkotaan. Diproyeksikan pada 2050 mencapai 70 persen.

Baca juga: Belajar Ketangguhan dari Bencana Sumatera

Belahan bumi selatan berkontribusi besar pada angka tingkat urbanisasi dunia walaupun tahapnya berbeda-beda di tiap negara.

Di China dan Asia Tenggara, kota-kotanya tumbuh pesat mengikuti pertumbuhan dan dinamika industri.

Namun tempat lain, seperti di Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan, urbanisasi lebih didorong oleh ketiadaan kesempatan kerja.

Kesulitan hidup di pedesaan mendorong jutaan orang beralih ke mata pencaharian informal di kota-kota yang sedang berkembang dan wilayah pinggiran kota.

Dengan penduduk mendekati 300 juta, Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat urbanisasi tertinggi. Dalam proses itu, dalam 30 tahun kedepan akan tercipta 60 juta masyarakat urban baru.

Pada saat bersamaan, kita melihat fenomena politik populis menjadi panggung utama di banyak negara, memengaruhi peran penting perencanaan jangka panjang yang seharusnya berbasis data, kalah oleh pengambilan keputusan yang bersifat ad-hoc dan reaktif.

Awal bulan ini di Riyadh, Kerajaan Arab Saudi, saya bersama masyarakat internasional perencana kota berkumpul dalam rangka 60 tahun International Society of City & Regional Planners (ISOCARP).

Momen penting refleksi komunitas para praktisi global bidang perencanaan kota, para akademisi, dan pembuat kebijakan. Kita berkumpul membahas bagaimana masa depan perkotaan yang adil, tangguh dan berkelanjutan.

Para pemikir perkotaan terkemuka dunia menyadari tantangan kebutuhan membangun kota berketahanan, yang kini dihadapkan pada praktik dan instrumen perencanaan yang seringkali terbukti terlalu kaku, terlalu lambat, dan terlalu jauh dari realitas kehidupan.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau