Editor
JAKARTA, KOMPAS.com – Kinerja ekonomi Indonesia yang masih tumbuh tidak diikuti dengan peningkatan pendapatan riil pekerja.
Pertumbuhan upah riil bahkan tertinggal jauh dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), yang memperlihatkan gejala pemisahan antara pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan pekerja.
Laporan Indonesia Economic Outlook (IEO) Q3-2025 dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mencatat, sejak 2017 hingga 2024, upah riil hanya tumbuh 0,6 persen per tahun.
Angka ini jauh di bawah pertumbuhan PDB yang mencapai rata-rata 4,0 persen per tahun.
“Periode stagnasi upah ini bertepatan dengan menurunnya porsi kelas menengah Indonesia, yang menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan yang lemah telah mengikis mobilitas ke atas dan ketahanan rumah tangga,” tulis laporan itu.
Baca juga: Lipstick Effect Muncul, Konsumen Tetap Belanja Kecil di Tengah Tekanan Daya Beli
LPEM juga mencatat ketimpangan yang kian melebar antara pelaku usaha dan pekerja.
Kenaikan keuntungan ekonomi lebih banyak dinikmati oleh pemilik modal, bukan oleh pekerja.
Salah satu penyebabnya adalah dominasi sektor padat modal seperti pertambangan dan keuangan, di mana pendapatan non-upah tumbuh lebih cepat.
Di sisi lain, tekanan terhadap daya beli tidak hanya berasal dari stagnasi upah.
Data penggunaan pendapatan rumah tangga menunjukkan, proporsi pengeluaran untuk konsumsi naik dari 67 persen pada 2012 menjadi 74,6 persen pada kuartal I-2025. Sementara itu, tabungan dan pembayaran utang menyusut.
“Porsi konsumsi tetap bernilai tinggi, dengan hanya sedikit koreksi menjadi 74,6 persen pada awal tahun 2025, sementara tingkat tabungan terus merosot menjadi 14,6 persen,” tertulis dalam laporan.
Baca juga: DPR Khawatir Pembatasan Konsumsi Gula Garam dan Lemak Gerus Daya Beli dan Lemahkan UMKM
Tekanan ini kian kompleks dengan meningkatnya beban cicilan. Porsi pendapatan rumah tangga untuk membayar pinjaman naik dari 9 persen pada 2023 menjadi 10,8 persen pada kuartal I-2025.