Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pertambangan Jadi Backbone Indonesia Emas 2045, Ini Tantangan Eksplorasi, Teknologi, hingga Persepsi

Kompas.com, 22 November 2025, 10:49 WIB
Aprillia Ika

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia memasuki fase penting menuju visi Indonesia Emas 2045. Di balik ambisi besar itu, sektor pertambangan disebut menjadi “tulang punggung masa depan” yang menopang transformasi ekonomi dan perkembangan teknologi global.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA), Hendra Sinadia, mengatakan bahwa komoditas mineral, baik emas, perak, nikel, hingga tembaga, akan menjadi fondasi strategis Indonesia dalam 100 tahun sejak kemerdekaan, atau 2045. Namun, ia mengingatkan bahwa meski Indonesia memiliki banyak mineral kritis, jumlahnya tidak bisa disebut melimpah.

Pengelolaan harus dilakukan secara bijak, tepat, dan berkelanjutan agar cadangan tetap terjaga.

“Kita memiliki banyak mineral kritis, tetapi tetap terbatas. Eksplorasi yang tepat dan bijak menjadi kunci untuk memastikan umur cadangannya panjang,” ujar Hendra, di kantor Kompas.com, sebagai tamu podcast Naratama bersama Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin, Rabu (19/11/2025) lalu.

Baca juga: Risiko Besar, Bos SKK Migas Sebut Pebankan Nasional Ogah Biayai Eksplorasi Migas

Mendesaknya Eksplorasi Jangka Panjang: “Kalau Tidak Sekarang, Terlambat”

Menurut Hendra, banyak wilayah tambang di Indonesia yang selama ini hanya mengandalkan deposit berkadar tinggi (high grade). Tanpa eksplorasi aktif, umur cadangan akan cepat menurun.

Eksplorasi menjadi kewajiban pemegang izin tambang dan menjadi salah satu indikator ketika mereka mengajukan rencana kerja serta anggaran tahunan.

Namun, eksplorasi juga terbuka bagi investor baru, khususnya yang fokus pada sektor hulu atau “junior mining companies”.

Di tengah tren global, Hendra menekankan bahwa tembaga adalah komoditas paling strategis dan paling berpotensi mengalami kelangkaan global.

“Tembaga akan mengalami shortage pada 2035. Mengembangkan tambang tembaga butuh belasan tahun, bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Momennya harus sekarang.”

Baca juga: Eksplorasi, Kunci Indonesia Masuk Rantai Pasok Logam Tanah Jarang

Hendra mengakui adanya masalah struktural dalam industri tambang Indonesia: minimnya pendanaan untuk research & development (R&D).

Secara nasional, alokasi R&D Indonesia berada pada level terendah di kawasan Asia.

Di pertambangan, lemahnya investasi teknologi membuat Indonesia harus bergantung pada teknologi dari luar negeri, contohnya pada pengolahan nikel.

“Kalau tidak ada Tiongkok, kita tidak bisa memproses nikel sampai teroperasi. Ini menunjukkan teknologi hilir kita masih tertinggal.”

Baca juga: ESDM: PLTU Batu Bara Bukan Barang Haram

Ia menyoroti contoh menarik dari sektor batu bara. Dulu, pemegang PKP2B dikenai royalti 13,5 persen, dengan 6,5 persen dirancang khusus untuk dana pengembangan batu bara, termasuk teknologi bersih. Namun, dalam praktiknya dana tersebut masuk ke kas negara untuk kebutuhan operasional.

“Kalau saja skema itu konsisten, seharusnya kita sudah punya teknologi batu bara bersih. Tapi kenyataannya tidak terjadi.”

Hendra menyebut bahwa kebijakan fiskal yang konsisten sangat diperlukan untuk memperkuat pengembangan teknologi pertambangan dalam negeri.

Baca juga: Raksasa Migas Dunia Berebut Eksplorasi di Indonesia, Apa Sebabnya?

Halaman:


Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau