Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Biaya Hidup Naik, "Soft Saving" ala Gen Z Bisa Jadi Strategi Menabung

Kompas.com, 7 Januari 2026, 17:02 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Kenaikan biaya hidup yang terus menekan anggaran mendorong Gen Z memikirkan ulang cara mereka memaknai menabung.

Di Amerika Serikat (AS), misalnya, sebagian besar anak muda tidak lagi melihat menabung semata sebagai upaya mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk masa depan, melainkan sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas hidup di tengah tekanan ekonomi sehari-hari.

Survei Intuit pada 2023 menunjukkan hampir tiga perempat Gen Z menyatakan lebih memilih kualitas hidup yang lebih baik saat ini dibandingkan memiliki uang ekstra di bank.

Baca juga: Tips Menabung Harian agar Konsisten di Tengah Biaya Hidup Naik

Ilustrasi mengelola keuangan saat resesi.Thinkstockphotos Ilustrasi mengelola keuangan saat resesi.

Temuan tersebut mencerminkan perubahan sikap generasi muda terhadap pengelolaan keuangan, seiring mahalnya biaya perumahan, pendidikan, dan kebutuhan pokok.

Dikutip dari The Economic Times, Rabu (7/1/2026), berdasarkan laporan Yahoo Finance, perubahan pola pikir ini mendorong munculnya tren soft saving atau menabung lunak.

Soft saving adalah pendekatan yang berfokus pada keseimbangan antara menikmati kehidupan saat ini dan menjaga keamanan finansial jangka panjang.

Soft saving di tengah tekanan ekonomi

Soft saving mengambil pendekatan yang lebih lembut terhadap pengelolaan uang.

Baca juga: Mengapa Menabung Kerap Gagal? Ini Penyebab dan Solusinya

Alih-alih menekan pengeluaran secara agresif demi masa depan, pendekatan ini memprioritaskan pengalaman dan kesejahteraan mental, sembari tetap menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan.

Pendekatan ini muncul di tengah realitas bahwa banyak anak muda tumbuh dengan pengalaman resesi ekonomi, beban utang pendidikan, serta lonjakan biaya perumahan. Kondisi tersebut membuat strategi menabung konvensional terasa sulit dijalankan.

Ilustrasi menabung. FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi menabung.

Meski demikian, laporan TIAA Institute pada 2024 menunjukkan Gen Z masih menghargai menabung. Sebanyak 84 persen responden mengatakan mereka menyisihkan sebagian pendapatan setiap bulan, sementara 57 persen mempertahankan anggaran.

Namun, cara mereka mendefinisikan kesuksesan finansial mulai berubah.

Baca juga: Survei KG Media: Gen Z Makin Percaya Menabung di E-Wallet, QRIS Jadi Gaya Hidup Digital Baru

“Kita melihat bahwa Gen Z dan milenial yang lebih muda adalah pendukung paling vokal dari soft saving,” ujar akuntan publik bersertifikat Eleanor Victorioso, yang juga pendiri The DoubleLine.

Ia menjelaskan, generasi ini menolak pendekatan lama yang menuntut pengorbanan besar saat ini demi menikmati masa pensiun kelak.

“Bagi Gen Z dan milenial yang lebih muda, kehidupan mereka saat ini sama pentingnya dengan keamanan finansial masa depan mereka,” kata Victorioso.

Realitas di Indonesia

Perubahan cara pandang terhadap menabung tersebut juga relevan dengan kondisi generasi muda di Indonesia.

Baca juga: Tips Warren Buffett untuk Kelas Menengah: Utamakan Menabung Sebelum Belanja

Halaman:


Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau