Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Kenaikan biaya hidup yang terus menekan anggaran mendorong Gen Z memikirkan ulang cara mereka memaknai menabung.
Di Amerika Serikat (AS), misalnya, sebagian besar anak muda tidak lagi melihat menabung semata sebagai upaya mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk masa depan, melainkan sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas hidup di tengah tekanan ekonomi sehari-hari.
Survei Intuit pada 2023 menunjukkan hampir tiga perempat Gen Z menyatakan lebih memilih kualitas hidup yang lebih baik saat ini dibandingkan memiliki uang ekstra di bank.
Baca juga: Tips Menabung Harian agar Konsisten di Tengah Biaya Hidup Naik
Ilustrasi mengelola keuangan saat resesi.Temuan tersebut mencerminkan perubahan sikap generasi muda terhadap pengelolaan keuangan, seiring mahalnya biaya perumahan, pendidikan, dan kebutuhan pokok.
Dikutip dari The Economic Times, Rabu (7/1/2026), berdasarkan laporan Yahoo Finance, perubahan pola pikir ini mendorong munculnya tren soft saving atau menabung lunak.
Soft saving adalah pendekatan yang berfokus pada keseimbangan antara menikmati kehidupan saat ini dan menjaga keamanan finansial jangka panjang.
Soft saving mengambil pendekatan yang lebih lembut terhadap pengelolaan uang.
Baca juga: Mengapa Menabung Kerap Gagal? Ini Penyebab dan Solusinya
Alih-alih menekan pengeluaran secara agresif demi masa depan, pendekatan ini memprioritaskan pengalaman dan kesejahteraan mental, sembari tetap menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan.
Pendekatan ini muncul di tengah realitas bahwa banyak anak muda tumbuh dengan pengalaman resesi ekonomi, beban utang pendidikan, serta lonjakan biaya perumahan. Kondisi tersebut membuat strategi menabung konvensional terasa sulit dijalankan.
Ilustrasi menabung. Meski demikian, laporan TIAA Institute pada 2024 menunjukkan Gen Z masih menghargai menabung. Sebanyak 84 persen responden mengatakan mereka menyisihkan sebagian pendapatan setiap bulan, sementara 57 persen mempertahankan anggaran.
Namun, cara mereka mendefinisikan kesuksesan finansial mulai berubah.
Baca juga: Survei KG Media: Gen Z Makin Percaya Menabung di E-Wallet, QRIS Jadi Gaya Hidup Digital Baru
“Kita melihat bahwa Gen Z dan milenial yang lebih muda adalah pendukung paling vokal dari soft saving,” ujar akuntan publik bersertifikat Eleanor Victorioso, yang juga pendiri The DoubleLine.
Ia menjelaskan, generasi ini menolak pendekatan lama yang menuntut pengorbanan besar saat ini demi menikmati masa pensiun kelak.
“Bagi Gen Z dan milenial yang lebih muda, kehidupan mereka saat ini sama pentingnya dengan keamanan finansial masa depan mereka,” kata Victorioso.
Perubahan cara pandang terhadap menabung tersebut juga relevan dengan kondisi generasi muda di Indonesia.
Baca juga: Tips Warren Buffett untuk Kelas Menengah: Utamakan Menabung Sebelum Belanja