Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kadin: Dunia Usaha RI Berat Jika Rupiah Tembus Rp 17.000 Per Dollar AS

Kompas.com, 16 Januari 2026, 05:30 WIB
Debrinata Rizky,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Umum Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Aviliani menilai, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) berpotensi memberikan tekanan luas terhadap kondisi makroekonomi nasional, terutama bagi dunia usaha dan inflasi.

Menurut Aviliani, nilai tukar rupiah idealnya tidak melemah hingga menembus level Rp 17.000 per dollar AS. Jika hal itu terjadi, dampaknya dinilai akan cukup berat bagi pelaku usaha.

“Kita berharap jangan sampai itu sampai Rp 17.000 atau lebih ya. Karena memang itu akan berdampak pada dunia usaha,” ujar Lili dalam acara "Kadin: Global & Domestic Economic Outlook 2026" di Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Ia menjelaskan, pelemahan rupiah akan langsung meningkatkan beban utang luar negeri perusahaan sekaligus biaya impor. Pasalnya, sekitar 70 persen industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor.

Baca juga: Rupiah Hari Ini Ditutup Turun 31 Poin ke Level Rp 16.896 per Dollar AS

Kadin akui tekanan rupiah sangat kuat

Petugas menghitung Dollar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (3/8/2018). KOMPAS/PRIYOMBODO Petugas menghitung Dollar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (3/8/2018).
Aviliani menilai Bank Indonesia (BI) akan berupaya menjaga stabilitas nilai tukar agar rupiah tidak melemah terlalu dalam.

Namun, tekanan terhadap rupiah saat ini dinilai cukup kuat, terutama akibat keluarnya dana investor asing dari pasar keuangan domestik.

“Yang terjadi memang kalau kita lihat dari data, investor asing itu dari SRBI keluar cukup banyak, hampir Rp 100 triliun. Kemudian dari SBN totalnya hampir Rp 122 triliun,” tuturnya.

Dalam kondisi tersebut, Aviliani berharap kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang akan diterapkan pemerintah dapat membantu menjaga cadangan devisa sekaligus menopang nilai tukar rupiah.

Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan dengan ketersediaan likuiditas dollar di pasar.

“Sehingga kalau dollar mahal itu juga akan berdampak pada kredit dalam USD. Jadi ini harus dijaga keseimbangan antara peraturan DHE dengan likuiditas dolar di pasar, itu yang harus dijaga,” ujar Aviliani.

Baca juga: Rupiah Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Tembus Rp 16.877 per Dollar AS, Ini Biang Keroknya

Pelemahan rupiah sebabkan inflasi pangan

Lebih lanjut, Aviliani menyebut pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada komoditas kedelai, tetapi juga sektor lain yang sangat bergantung pada impor, terutama sektor manufaktur.

Selain sektor industri, Aviliani juga menyoroti potensi dampak terhadap inflasi pangan.

Menurut dia, perhatian pemerintah selama ini masih banyak tertuju pada beras, padahal Indonesia masih mengimpor berbagai komoditas pangan lainnya.

“Nah ini juga akan berdampak pada inflasi pangan. Makanya itu perlu dijaga nilai tukar,” katanya.

Baca juga: Menyikapi Pelemahan Rupiah Terparah dalam Sejarah

Halaman:


Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau