JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Umum Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Aviliani menilai, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) berpotensi memberikan tekanan luas terhadap kondisi makroekonomi nasional, terutama bagi dunia usaha dan inflasi.
Menurut Aviliani, nilai tukar rupiah idealnya tidak melemah hingga menembus level Rp 17.000 per dollar AS. Jika hal itu terjadi, dampaknya dinilai akan cukup berat bagi pelaku usaha.
“Kita berharap jangan sampai itu sampai Rp 17.000 atau lebih ya. Karena memang itu akan berdampak pada dunia usaha,” ujar Lili dalam acara "Kadin: Global & Domestic Economic Outlook 2026" di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Ia menjelaskan, pelemahan rupiah akan langsung meningkatkan beban utang luar negeri perusahaan sekaligus biaya impor. Pasalnya, sekitar 70 persen industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor.
Baca juga: Rupiah Hari Ini Ditutup Turun 31 Poin ke Level Rp 16.896 per Dollar AS
Petugas menghitung Dollar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (3/8/2018). Namun, tekanan terhadap rupiah saat ini dinilai cukup kuat, terutama akibat keluarnya dana investor asing dari pasar keuangan domestik.
“Yang terjadi memang kalau kita lihat dari data, investor asing itu dari SRBI keluar cukup banyak, hampir Rp 100 triliun. Kemudian dari SBN totalnya hampir Rp 122 triliun,” tuturnya.
Dalam kondisi tersebut, Aviliani berharap kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang akan diterapkan pemerintah dapat membantu menjaga cadangan devisa sekaligus menopang nilai tukar rupiah.
Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan dengan ketersediaan likuiditas dollar di pasar.
“Sehingga kalau dollar mahal itu juga akan berdampak pada kredit dalam USD. Jadi ini harus dijaga keseimbangan antara peraturan DHE dengan likuiditas dolar di pasar, itu yang harus dijaga,” ujar Aviliani.
Baca juga: Rupiah Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Tembus Rp 16.877 per Dollar AS, Ini Biang Keroknya
Lebih lanjut, Aviliani menyebut pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada komoditas kedelai, tetapi juga sektor lain yang sangat bergantung pada impor, terutama sektor manufaktur.
Selain sektor industri, Aviliani juga menyoroti potensi dampak terhadap inflasi pangan.
Menurut dia, perhatian pemerintah selama ini masih banyak tertuju pada beras, padahal Indonesia masih mengimpor berbagai komoditas pangan lainnya.
“Nah ini juga akan berdampak pada inflasi pangan. Makanya itu perlu dijaga nilai tukar,” katanya.
Baca juga: Menyikapi Pelemahan Rupiah Terparah dalam Sejarah