JAKARTA, KOMPAS.com - Cita-cita pertumbuhan ekonomi nasional yang besar dapat tercapai dengan mengisi celah di sektor pembiayaan dan mendatangkan investasi yang besar.
Dalam hal ini kehadiran pinjaman daring (pindar) dapat menjadi satu katalis untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029.
Direktur Pengembangan Big Data Indef Eko Listiyanto mengatakan, masih terdapat gap atau celah yang lebar dari pertumbuhan ekonomi saat ini menuju 8 persen.
Secara makro, Eko menjelaskan salah satu cara mendorong pertumbuhan ekonomi adalah dengan mendatangkan investasi.
Baca juga: Akses Kredit Masih Terbatas, Kolaborasi Bank dan Pindar Jadi Solusi
Dengan kata lain, investasi yang meningkat akan turut meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi juga dipengaruhi oleh peran fungsi intermediasi yang tinggi.
Pertumbuhan ekonomi membutuhkan bahan bakar dari pertumbuhan pembiayaan.
"Tanpa ini memang ada risiko kita memang akan stagnan di level (pertumbuhan ekonomi) 5 persenan," kata dia dalam Paparan Riset Industri Pindar dan Buka Puasa Bersama Media di Jakarta, Rabu, (4/3/2026).
Ia menambahkan, untuk menutup gap pembiayaan industri pinjaman daring (pindar) telah berinovasi dengan menyalurkan pembiayaan ke segmen yang belum terlayani termasuk UMKM.
"Itu jadi bagian penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," imbuh dia.
Eko menyadari, pindar memang belum dapat dibandingkan dengan industri perbankan dari sisi pembiayaan.
Namun, peran pindar dalam ekosistem kredit jadi sangat penting karena punya manfaat besar untuk UMKM.
Eko menjelaskan meskipun UMKM memiliki porsi sekitar 99 persen dengan porsi di Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 60 persen, tetapi kemampuannya untuk mendapatkan kredit dari bank masih kecil atau sekitar 19 persen.
Lebih lanjut, Eko menyampaikan untuk mencapai cita-cita pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029, Indonesia perlu melakukan ekspansi investasi, meningkatkan produktivitas, dan dukungan pembiayaan.
"Tidak hanya jauh lebih besar, tetapi juga jauh lebih inklusif," ungkap dia.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya