JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menjelaskan alasan harga tiket pesawat masih terasa mahal bagi masyarakat meskipun pemerintah telah memberikan berbagai stimulus dan program diskon pada periode Lebaran 2026.
Menurut Dudy, salah satu faktor utama yang memengaruhi harga tiket pesawat adalah tingginya permintaan perjalanan pada periode puncak seperti musim libur panjang atau Lebaran.
“Tarif pesawat selalu menjadi isu. Kalau peak season itu sebenarnya hukum ekonomi, ketika ada high demand kemudian jumlah flight yang tersedia sedikit, berarti harganya pasti naik,” kata Dudy di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Ilustrasi tiket pesawat. Ia menjelaskan, pada momen seperti Lebaran atau kegiatan besar lainnya, mobilitas masyarakat meningkat secara signifikan sehingga berdampak langsung terhadap harga tiket pesawat.
“Lebaran maupun event besar di mana pergerakan masyarakat tinggi, biasanya harga akan naik. Ketika banyak keluarga bepergian pada saat high season, harganya pasti cukup tinggi karena jumlah orang yang bepergian juga besar,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah terus berupaya membantu masyarakat melalui berbagai stimulus agar harga tiket tetap lebih terjangkau, termasuk dengan kebijakan diskon maupun pengaturan tarif.
“Dalam event seperti ini pemerintah mencoba membantu dengan stimulus-stimulus agar masyarakat bisa bepergian dengan harga yang lebih terjangkau walaupun kondisinya cukup padat,” kata dia.
Baca juga: Diskon Tiket Pesawat 17-18 Persen Berlaku 14-29 Maret 2026
Selain tingginya permintaan, keterbatasan jumlah pesawat juga menjadi faktor yang memengaruhi harga tiket.
Dudy mengungkapkan jumlah armada pesawat di Indonesia belum sepenuhnya pulih sejak pandemi Covid-19.
Ilustrasi harga tiket pesawat. “Ketersediaan pesawat kita memang belum kembali seperti sebelum Covid-19. Sebelum pandemi ada sekitar 700 pesawat, sekarang yang tersedia sekitar setengahnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat kapasitas kursi penerbangan terbatas sehingga maskapai sulit menekan harga tiket ketika permintaan perjalanan meningkat.
Baca juga: Pelita Air Beri Diskon Tiket Pesawat untuk Mudik Lebaran, Cek Rute dan Jadwal Pesannya
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah bersama maskapai berupaya menambah penerbangan tambahan atau extra flight pada rute-rute dengan permintaan tinggi.
“Kami menyikapinya dengan menambah extra flight untuk mengangkut sebanyak mungkin masyarakat yang akan bepergian dengan ketersediaan kursi pesawat,” jelas Dudy.
Di sisi lain, ia juga mengungkapkan bahwa maskapai sempat mengusulkan penyesuaian tarif batas atas dan tarif batas bawah.
Namun hingga saat ini usulan tersebut masih dikaji karena pemerintah juga harus mempertimbangkan kemampuan masyarakat.
Baca juga: Kemenhub Siapkan Mudik Gratis hingga Diskon Tiket Pesawat untuk Lebaran 2026
“Memang ada permintaan dari airline untuk perubahan tarif batas atas dan bawah, tapi kondisinya sekarang belum diterima. Kita harus memahami kondisi masyarakat karena penerbangan sekarang sudah menjadi kebutuhan, bukan lagi sesuatu yang mewah,” ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang