Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Minyak Dunia Diperkirakan “Menggila” Awal Pekan Ini

Kompas.com, 23 Maret 2026, 06:47 WIB
Suparjo Ramalan ,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pergerakan harga minyak dunia diproyeksikan “menggila” alias mahal pada awal pekan ini, Senin (23/3/2026). Lonjakan ini disebabkan oleh memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS).

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai secara umum harga minyak mentah dunia masih akan bergerak dalam rentang yang lebar. Ia memperkirakan level support berada di kisaran 93,3 dollar AS per barrel. Sementara resistansi menembus 107,1 dollar AS per barrel.

“Untuk crude oil ya, saya melihat crude oil ini kemungkinan dalam minggu depan ini akan ditransaksikan di support-nya 93,4 (dollar AS per barrel). Kemudian resisten-nya kemungkinan akan tembus di 107,1,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Minggu (22/3/2026).

Menurutnya, lonjakan minyak mentah tidak terlepas dari peran kawasan Timur Tengah, khususnya Iran yang merupakan produsen utama minyak, terutama untuk kebutuhan bahan bakar avtur atau penerbangan.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Melemah Usai AS Pertimbangkan Lepas Minyak Iran

Kenaikan tajam pada brent crude berdampak langsung pada sektor transportasi udara, di mana biaya bahan bakar meningkat signifikan. Efek berantai dari kondisi ini adalah meningkatnya tekanan inflasi global, seiring naiknya biaya logistik dan mobilitas masyarakat.

“Ya karena yang kelihatan kenaikannya cukup tajam bukan crude oil tapi brain crude oil yang berdampak terhadap apa? Terhadap transportasi penerbangan yang mengalami kenaikan yang cukup tajam ya sehingga berdampak terhadap inflasi,” paparnya.

Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) merilis laporan terbaru yang menyoroti berbagai opsi untuk meredakan tekanan harga minyak terhadap konsumen. Ini seiring gangguan pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah.

Dalam laporan tersebut, IEA menilai krisis pasokan yang terjadi saat ini berpotensi menjadi salah satu gangguan terbesar dalam sejarah pasar energi global.

Baca juga: IEA Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Minyak dan Beban Konsumen Global

Gangguan aliran energi, khususnya di kawasan Teluk dan jalur pengiriman strategis seperti Selat Hormuz, telah memicu lonjakan harga minyak serta meningkatkan risiko terhadap stabilitas ekonomi global.

IEA menyebutkan, konflik di kawasan tersebut telah menyebabkan sejumlah produsen utama mengurangi produksi minyak secara signifikan.

Dikutip dari Arab News, Minggu (22/3/2026), secara keseluruhan, negara-negara Teluk telah memangkas produksi minyak hingga sekitar 10 juta barrel per hari (bph), setara dengan hampir 10 persen dari permintaan minyak dunia.

Situasi ini diperburuk oleh hambatan pada arus pengiriman minyak mentah, yang mengakibatkan pasokan global diproyeksikan turun drastis.

IEA memperkirakan pasokan minyak global dapat anjlok sekitar 8 juta bph pada Maret 2026, terutama akibat terganggunya aliran ekspor dari kawasan Timur Tengah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau