JAKARTA, KOMPAS.com - PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) mencatat pertumbuhan kinerja sepanjang 2025. Laba bersih dan pendapatan meningkat.
Laba bersih mencapai Rp 256,51 miliar. Angka ini naik 20,87 persen dibandingkan 2024 sebesar Rp 212,21 miliar.
Pendapatan mencapai Rp 929,96 miliar. Nilai ini tumbuh 12,7 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 824,60 miliar.
Direktur Keuangan, SDM dan Manajemen Risiko IPCC Wing Megantoro menyebut kontribusi terbesar berasal dari Branch Tanjung Priok. Unit ini menyumbang 91 persen atau Rp 842,55 miliar. Terminal satelit di berbagai wilayah menyumbang 9 persen atau Rp 85,15 miliar.
Baca juga: IPCC Bagikan Dividen Interim Rp 47,57 Miliar, Berikut Jadwalnya
Segmen Completely Built Up atau CBU menjadi penopang utama. Pendapatan dari segmen ini mencapai Rp 697,66 miliar. Segmen alat berat menyumbang Rp 82,67 miliar. Segmen truk dan bus mencapai Rp 77,31 miliar.
“Struktur pendapatan ini mencerminkan positioning IPCC yang kuat sebagai pemain kunci dalam rantai logistik otomotif nasional sekaligus menunjukkan diversifikasi portofolio bisnis yang semakin solid,” kata Wing dalam keterangan resmi, Kamis (26/3/2026).
Pertumbuhan juga didorong tren kendaraan listrik. Segmen Battery Electric Vehicle menjadi salah satu pendorong utama sepanjang 2025.
IPCC melayani lebih dari 101.731 unit kendaraan listrik. Merek asal Tiongkok mendominasi dengan kontribusi lebih dari 80.000 unit.
Perkembangan ini memperkuat peran IPCC dalam ekosistem logistik otomotif. Perseroan juga melihat peluang dari transisi menuju industri yang lebih ramah lingkungan.
Baca juga: KAI Logistik Angkut 5.740 Ton Barang Selama Ramadan–Lebaran 2026
IPCC menerapkan sistem single billing secara penuh pada 2025. Perusahaan juga meluncurkan layanan In-Land Transportation pada triwulan IV 2025. Langkah ini menjadi bagian dari penguatan konsep Integrated Auto Solutions.
Total aset meningkat 11,21 persen. Nilainya naik dari Rp 1,85 triliun pada 2024 menjadi Rp 2,05 triliun pada akhir 2025. Kenaikan didorong pertumbuhan kas dan setara kas menjadi Rp 1,08 triliun atau naik 33,55 persen.
Wing menegaskan efisiensi biaya terus dilakukan. Fokus diarahkan pada biaya yang tidak terkait langsung dengan pendapatan. Digitalisasi pembayaran juga diperkuat melalui sistem PRAYA dan PTOS-C.