JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (26/3/2026) ditutup melemah.
Indeks melemah 1,89 persen atau 138,029 poin ke level 7.164,091, setelah sepanjang hari bergerak dalam tren menurun.
Saat pembukaan di posisi 7.313,665, IHSG sempat menguat tipis dan mencatatkan level tertinggi harian di 7.323,702.
Baca juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 16.904 per Dollar AS, IHSG Terkoreksi 1,89 Persen
Ilustrasi IHSGNamun, tekanan jual mulai mendominasi sejak sesi pagi, mendorong IHSG bergerak turun secara bertahap hingga menyentuh angka terendah di 7.152,592, sebelum akhirnya ditutup sedikit di atas level tersebut.
Dari sisi likuiditas, aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi dengan volume mencapai 30,83 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 31,88 triliun, serta frekuensi transaksi menembus 1,71 juta kali.
Tekanan juga tecermin dari breadth market yang negatif, di mana jumlah saham yang turun mencapai 380 saham, jauh lebih banyak dibandingkan saham yang naik sebanyak 292 saham, sementara 148 saham stagnan.
Dengan kondisi ini, kapitalisasi pasar BEI menyentuh Rp 12.620,998 triliun.
Baca juga: IHSG Ditutup Melemah ke Level 7.164, Hampir Semua Sektor Terkoreksi
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai pelemahan IHSG bukan karena faktor domestik, melainkan lebih dipicu oleh sentimen global, terutama meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia dan memicu kembali kekhawatiran inflasi global.
Kondisi itu membuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed kembali tertunda, sehingga dollar AS menguat dan dana asing cenderung keluar dari emerging market, termasuk Indonesia.
Menariknya di tengah kenaikan harga minyak, justru saham sektor energi mengalami penurunan paling dalam, yang menunjukkan bahwa pasar saat ini lebih takut pada risiko inflasi dan suku bunga tinggi dibandingkan potensi kenaikan harga komoditas itu sendiri.
“Artinya pasar sedang berada dalam fase risk off, di mana investor cenderung mengurangi aset berisiko seperti saham dan beralih ke aset safe haven,” ujar Hendra saat dihubungi Kompas.com.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang