Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penyebab IHSG Anjlok Hari Ini: Geopolitik Timur Tengah dan Risiko Inflasi

Kompas.com, 26 Maret 2026, 20:11 WIB
Suparjo Ramalan ,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (26/3/2026) ditutup melemah.

Indeks melemah 1,89 persen atau 138,029 poin ke level 7.164,091, setelah sepanjang hari bergerak dalam tren menurun.

Saat pembukaan di posisi 7.313,665, IHSG sempat menguat tipis dan mencatatkan level tertinggi harian di 7.323,702.

Baca juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 16.904 per Dollar AS, IHSG Terkoreksi 1,89 Persen

Ilustrasi IHSGANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA Ilustrasi IHSG

Namun, tekanan jual mulai mendominasi sejak sesi pagi, mendorong IHSG bergerak turun secara bertahap hingga menyentuh angka terendah di 7.152,592, sebelum akhirnya ditutup sedikit di atas level tersebut.

Dari sisi likuiditas, aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi dengan volume mencapai 30,83 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 31,88 triliun, serta frekuensi transaksi menembus 1,71 juta kali.

Tekanan juga tecermin dari breadth market yang negatif, di mana jumlah saham yang turun mencapai 380 saham, jauh lebih banyak dibandingkan saham yang naik sebanyak 292 saham, sementara 148 saham stagnan.

Dengan kondisi ini, kapitalisasi pasar BEI menyentuh Rp 12.620,998 triliun.

Baca juga: IHSG Ditutup Melemah ke Level 7.164, Hampir Semua Sektor Terkoreksi

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai pelemahan IHSG bukan karena faktor domestik, melainkan lebih dipicu oleh sentimen global, terutama meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia dan memicu kembali kekhawatiran inflasi global.

Kondisi itu membuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed kembali tertunda, sehingga dollar AS menguat dan dana asing cenderung keluar dari emerging market, termasuk Indonesia.

Menariknya di tengah kenaikan harga minyak, justru saham sektor energi mengalami penurunan paling dalam, yang menunjukkan bahwa pasar saat ini lebih takut pada risiko inflasi dan suku bunga tinggi dibandingkan potensi kenaikan harga komoditas itu sendiri.

“Artinya pasar sedang berada dalam fase risk off, di mana investor cenderung mengurangi aset berisiko seperti saham dan beralih ke aset safe haven,” ujar Hendra saat dihubungi Kompas.com.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau