Penulis
NEW YORK, KOMPAS.com – Tekanan inflasi global yang meningkat seiring lonjakan harga energi dan biaya impor mendorong pelaku pasar mulai mempertimbangkan kemungkinan perubahan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed).
Dikutip dari CNBC, Sabtu (28/3/2026), data terbaru menunjukkan, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga mulai menguat.
Pelaku pasar di instrumen berjangka bahkan mendorong probabilitas kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) hingga akhir 2026 menjadi 52 persen pada Jumat (27/3/2026) pagi waktu setempat.
Baca juga: Rupiah Dekati Rp 17.000 Per Dollar AS: Geopolitik dan Kebijakan The Fed Menekan
Ilustrasi suku bunga, suku bunga acuan, BI Rate. Angka ini menjadi yang pertama kalinya menembus ambang 50 persen, berdasarkan data dari CME Group melalui FedWatch Tool.
Perubahan ekspektasi ini terjadi di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia yang melampaui 110 dollar AS per barrel.
Kenaikan harga energi tersebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat tekanan inflasi, terutama seiring berlarutnya konflik Iran serta kebijakan tarif AS yang meningkatkan biaya impor.
Tekanan inflasi juga tercermin dari data resmi pemerintah AS. Bureau of Labor Statistics melaporkan, harga impor naik 1,3 persen pada Februari 2026, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Maret 2022.
Baca juga: Konflik Iran Picu Inflasi, The Fed Isyaratkan Tahan Suku Bunga
Sementara itu, harga ekspor meningkat 1,5 persen, tertinggi sejak Mei 2022.
Di saat yang sama, proyeksi inflasi Amerika Serikat juga direvisi naik oleh Organisation for Economic Co-operation and Development.
Lembaga tersebut memperkirakan inflasi utama (headline inflation) mencapai 4,2 persen tahun ini, jauh di atas proyeksi sebelumnya dan melampaui ekspektasi The Fed sebesar 2,7 persen.
Ilustrasi inflasi.Kondisi ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap risiko stagflasi, yakni situasi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan perlambatan ekonomi.
Baca juga: Bitcoin Melemah ke 70.000 Dollar AS, Investor Respons Kebijakan Ketat The Fed
Sejumlah ekonom di Wall Street bahkan meningkatkan probabilitas terjadinya resesi dalam 12 bulan ke depan.
Moody's Analytics memperkirakan peluang resesi mendekati 50 persen. Sementara itu, Goldman Sachs menaikkan proyeksi menjadi 30 persen.
Beberapa institusi lain seperti EY Parthenon dan Wilmington Trust juga menempatkan probabilitas resesi pada kisaran 40 persen atau lebih.
Situasi ini menempatkan mandat ganda The Fed, yakni menjaga inflasi tetap rendah dan mencapai lapangan kerja maksimal, dalam posisi yang semakin sulit.
Baca juga: Dampak The Fed Tahan Suku Bunga, Ekonom Sebut Bikin Rupiah Rentan