Penulis
KOMPAS.com – Wakil Ketua Pengawasan Federal Reserve (The Fed), Philip Jefferson, memperkirakan konflik di Iran akan mendorong kenaikan inflasi dalam jangka pendek.
Di sisi lain, ia menilai suku bunga saat ini sudah berada pada posisi yang tepat untuk merespons berbagai kemungkinan kondisi ekonomi.
Dalam pidatonya di Dallas, Kamis (26/3/2026) waktu setempat, Jefferson mengatakan kenaikan inflasi terutama dipicu lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
“Setidaknya dalam jangka pendek, saya memperkirakan inflasi secara keseluruhan akan meningkat, mencerminkan kenaikan harga energi yang bersumber dari konflik di Timur Tengah,” ujar Jefferson, dikutip dari Yahoo Finance, Jumat (27/3/2026).
Baca juga: Penyebab IHSG Anjlok Hari Ini: Geopolitik Timur Tengah dan Risiko Inflasi
Ia menambahkan, kebijakan moneter saat ini memberikan ruang bagi bank sentral untuk menentukan waktu dan besaran penyesuaian suku bunga ke depan.
Menurut Jefferson, perkembangan konflik di Timur Tengah dan dinamika pasar energi global masih perlu dicermati lebih lanjut. Ia menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan dampaknya terhadap perekonomian secara keseluruhan.
Namun, ia menekankan bahwa durasi kenaikan harga energi menjadi faktor kunci. Gangguan jangka pendek dinilai tidak akan berdampak signifikan terhadap ekonomi, kecuali hanya terasa dalam satu hingga dua kuartal.
Sebaliknya, jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, dampaknya bisa lebih besar.
Sejauh ini, kenaikan harga minyak dinilai masih memberikan efek terbatas terhadap inflasi. Meski demikian, konsumen sudah mulai merasakan dampaknya melalui kenaikan harga bahan bakar.
Baca juga: The Fed Tahan Suku Bunga Acuan, Redam Inflasi akibat Perang Timur Tengah?
Jefferson mengatakan pihaknya memantau apakah kenaikan biaya energi ini akan menyebar ke harga barang dan jasa lainnya di seluruh perekonomian.
Ia juga mengingatkan, jika harga energi tetap tinggi, rumah tangga akan menghadapi pilihan sulit dalam pengeluaran.
Kenaikan biaya transportasi dan energi rumah tangga bisa memaksa masyarakat mengurangi belanja non-esensial, seperti makan di restoran atau berbelanja ritel, bahkan berpotensi meningkatkan utang rumah tangga.
Di sisi lain, ketidakpastian kebijakan tarif serta lonjakan harga energi memperumit upaya bank sentral dalam mengendalikan inflasi sekaligus menjaga tingkat lapangan kerja maksimal.
Sebelum konflik Iran pecah, inflasi di AS sudah bertahan di atas target 2 persen selama lima tahun. Dalam setahun terakhir, upaya penurunan inflasi bahkan terlihat melambat.
Baca juga: BI: Perang Timur Tengah Tekan Ekonomi Global, Inflasi Naik, Rupiah Melemah
Jefferson menilai kondisi ini terutama dipengaruhi kebijakan tarif, sementara inflasi sektor jasa di luar perumahan cenderung stagnan.