Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Alasan Wamen Stella Tak Mau Tulis Buku tentang Coding dan AI untuk Anak

Kompas.com, 17 Desember 2025, 19:13 WIB
Melvina Tionardus,
Mahar Prastiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti saintek) Stella Christie bercerita bahwa ia sering diminta untuk menulis dan mempublikasikan buku tentang coding dan AI untuk anak-anak dengan iming-iming nominal royalti yang besar.

"Saya sering diminta untuk menulis buku tentang coding dan AI dan semua tentang anak-anak karena riset saya berkaitan dengan AI dan anak-anak," ujar Wamen Stella dalam acara 2025 International Symposium on ECED yang diselenggarakan Tanoto Foundation di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (17/12/2025).

Kata profesor lulusan Northwestern University ini, buku tentang AI dan coding pun memiliki pasarnya sendiri dan ada banyak buku tentang kedua hal tersebut.

"Saya sering diminta penerbit menulis buku serupa dan jujur saja ditawari sejumlah uang yang cukup besar untuk melakukan itu. Tetapi saya tidak pernah mau tulis buku ini," akunya.

Baca juga: Kampus dan Jurusan Pilihan Menteri-Wamen Pendidikan di Pemerintahan Prabowo

Ragu untuk tulis buku tentang coding-AI untuk anak-anak kecil

Alasannya, ia masih meragukan apakah kita benar-benar membutuhkan buku-buku ini.

Beberapa tahun lalu ia berpikir apakah membaca buku ini adalah penggunaan waktu anak-anak yang terbaik.

"Di dalam waktu yang sama kalau mereka baca buku tentang AI, apakah itu yang terbaik yang dilakukan? Atau ada yang lebih baik yang bisa dilakukan dalam waktu yang sama?" ucap Wamen Stella.

Kepada para audiens sebelumnya Wamen Stella mengajukan pertanyaan "apakah Anda mau jika otak anak-anak Anda atau yang Anda kenal digantikan dengan AI?'.

Menurutnya kemampuan berpikir anak-anak akan tergantikan dengan AI jika kita orang dewasa atau orangtua berperilaku seperti AI.

"Satu-satunya kunci agar Anda atau anak Anda tidak dapat digantikan oleh AI adalah Anda harus memiliki kemampuan yang berbeda dari kecerdasan buatan. Inilah mengapa saya sangat ragu untuk menulis buku tentang coding dan AI untuk anak-anak kecil," jelas Wamen Stella.

Baca juga: Wamen Stella Bahas Frequency Bias di Kasus Whoosh, Ungkap 3 Analisa Keuntungannya

Ilustrasi coding.Cyberprogrammers.net Ilustrasi coding.

Hasil penelitian MIT

Wamen Stella juga memaparkan hasil penelitian terbaru dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat.

Para peneliti menguji mahasiswa-mahasiswa dari Harvard University, MIT, dan Wellesley College untuk membuat esai selama empat bulan.

Mahasiswa dibagi ke dalam tiga kelompok yakni kelompok yang boleh mengerjakan tugas tersebut dengan LLM (fitur AI) apapun yang dimau, tidak boleh memakai LLM namun boleh menggunakan mesin pencari (search engine), dan kelompok terakhir hanya boleh menggunakan kemampuan otak.

Baca juga: Wamen Fajar: Keselamatan dan Kesehatan Psikologis Anak Jadi Prioritas di Daerah Bencana Sumatera

"Selama empat bulan, pengguna LLM konsisten kinerjanya buruk pada neural, linguistik, dan perilaku. Hasil ini menimbulkan kekhawatiran tentang implikasi pendidikan jangka panjang dari ketergantungan pada LLM dan menggarisbawahi perlunya penyelidikan yang lebih mendalam tentang peran AI dalam pembelajaran," ungkap Wamen Stella.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau