KOMPAS.com - Di tengah tuntutan akademik yang kian tinggi, sekolah dan orangtua kerap berlomba mengejar nilai, ranking, dan target capaian.
Psikolog anak Anastasia Satriyo mengatakan di balik angka-angka tersebut, ada satu faktor penting yang sering luput diperhatikan.
Yaitu rasa aman dan kenyamanan emosional anak. Tanpa itu, anak justru bisa kehilangan semangat di sekolah.
“Otak anak tidak bisa belajar optimal saat ia sedang dalam situasi bertahan hidup secara emosional,” ujarnya, dari rilis resminya yang dikutip Selasa, (27/1/2026).
Situasi emosional ini menjadi kunci untuk memahami mengapa banyak anak tampak sulit fokus, mudah cemas, atau kehilangan minat belajar di sekolah.
Anastasia menjelaskan, rasa aman berarti saat anak merasa diterima, tidak dihakimi, dan tidak ditakuti. Sehingga otaknya berada dalam kondisi siap belajar.
Di fase ini, bagian otak yang berperan dalam berpikir, memahami, dan memecahkan masalah dapat bekerja dengan baik. Anak lebih rileks, berani mencoba, dan tidak takut melakukan kesalahan.
Baca juga: LPDP Dorong Alumni Beasiswa Bisa Terserap Dunia Industri
Sebaliknya, ketika anak dalam tekanan dan kondisi takut salah, takut dimarahi, takut dibandingkan, atau merasa dirinya tidak cukup pintar, yang aktif justru adalah mode bertahan hidup.
“Di kondisi ini, anak mungkin terlihat malas, tidak fokus, atau menolak belajar. Padahal yang terjadi adalah otaknya sedang melindungi diri,” jelasnya.
Karena itu, belajar sejatinya bukan hanya soal materi pelajaran. Belajar adalah proses relasional. Ada pertanyaan emosional yang selalu berjalan di benak anak yaitu apakah di sini aku aman untuk mencoba?
Anas mengatakan masalah muncul ketika sekolah dan lingkungan belajar terlalu menitikberatkan pada pencapaian akademik semata.
Fokus berlebihan pada nilai, ranking, dan target sering kali tanpa sadar menanamkan pesan bahwa anak hanya berharga ketika berprestasi.
Anak pun belajar mengejar hasil, bukan memahami proses.
Ilustrasi siswa. Siswa belajar IPSBaca juga: Lika-liku Aghnia Dima, 3 Kali Daftar LPDP Baru Bisa Lolos ke Columbia University
Menurut Anastasia, efeknya bisa panjang. Anak yang kesulitan secara akademik akan cenderung merasa dirinya “bermasalah”, padahal mungkin hanya gaya belajarnya berbeda dibanding sistem pengajaran di sekolah.
“Dalam jangka panjang, ini bisa membuat anak sulit mengenal dirinya sendiri, cepat burnout (kelelahan mental), dan kehilangan rasa ingin tahu alami. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat mengikis rasa ingin tahu. Padahal rasa ingin tahu adalah bahan bakar belajar yang paling sehat,” paparnya.
Baca juga: Psikolog UI: Kondisi Geografis Berpengaruh terhadap Kesejahteraan Siswa