Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Psikolog Sebut Keamanan Emosional Anak Penting di Sekolah

Kompas.com, 28 Januari 2026, 00:01 WIB
Sandra Desi Caesaria,
Mahar Prastiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di tengah tuntutan akademik yang kian tinggi, sekolah dan orangtua kerap berlomba mengejar nilai, ranking, dan target capaian.

Psikolog anak Anastasia Satriyo mengatakan di balik angka-angka tersebut, ada satu faktor penting yang sering luput diperhatikan.

Yaitu rasa aman dan kenyamanan emosional anak. Tanpa itu, anak justru bisa kehilangan semangat di sekolah.

“Otak anak tidak bisa belajar optimal saat ia sedang dalam situasi bertahan hidup secara emosional,” ujarnya, dari rilis resminya yang dikutip Selasa, (27/1/2026).

Situasi emosional ini menjadi kunci untuk memahami mengapa banyak anak tampak sulit fokus, mudah cemas, atau kehilangan minat belajar di sekolah.

Anastasia menjelaskan, rasa aman berarti saat anak merasa diterima, tidak dihakimi, dan tidak ditakuti. Sehingga otaknya berada dalam kondisi siap belajar.

Di fase ini, bagian otak yang berperan dalam berpikir, memahami, dan memecahkan masalah dapat bekerja dengan baik. Anak lebih rileks, berani mencoba, dan tidak takut melakukan kesalahan.

Baca juga: LPDP Dorong Alumni Beasiswa Bisa Terserap Dunia Industri

Belajar adalah proses relasional

Sebaliknya, ketika anak dalam tekanan dan kondisi takut salah, takut dimarahi, takut dibandingkan, atau merasa dirinya tidak cukup pintar, yang aktif justru adalah mode bertahan hidup.

“Di kondisi ini, anak mungkin terlihat malas, tidak fokus, atau menolak belajar. Padahal yang terjadi adalah otaknya sedang melindungi diri,” jelasnya.

Karena itu, belajar sejatinya bukan hanya soal materi pelajaran. Belajar adalah proses relasional. Ada pertanyaan emosional yang selalu berjalan di benak anak yaitu apakah di sini aku aman untuk mencoba?

Anas mengatakan masalah muncul ketika sekolah dan lingkungan belajar terlalu menitikberatkan pada pencapaian akademik semata.

Fokus berlebihan pada nilai, ranking, dan target sering kali tanpa sadar menanamkan pesan bahwa anak hanya berharga ketika berprestasi.

Anak pun belajar mengejar hasil, bukan memahami proses.

Ilustrasi siswa. Siswa belajar IPSPexels/ROMAN ODINTSOV Ilustrasi siswa. Siswa belajar IPS

Baca juga: Lika-liku Aghnia Dima, 3 Kali Daftar LPDP Baru Bisa Lolos ke Columbia University

Mungkin hanya gaya belajarnya berbeda

Menurut Anastasia, efeknya bisa panjang. Anak yang kesulitan secara akademik akan cenderung merasa dirinya “bermasalah”, padahal mungkin hanya gaya belajarnya berbeda dibanding sistem pengajaran di sekolah.

“Dalam jangka panjang, ini bisa membuat anak sulit mengenal dirinya sendiri, cepat burnout (kelelahan mental), dan kehilangan rasa ingin tahu alami. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat mengikis rasa ingin tahu. Padahal rasa ingin tahu adalah bahan bakar belajar yang paling sehat,” paparnya.

Baca juga: Psikolog UI: Kondisi Geografis Berpengaruh terhadap Kesejahteraan Siswa

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau