KOMPAS.com - Seiring meningkatnya eksklasi perang di Iran dan negara Timur Tengah dengan Amerika Serikat (AS) membuat beberapa negara mulai khawatir dengan stok minyak bumi atau Bahan Bakar Minyak (BBM) mereka.
Hal itu disebabkan karena negara Arab merupakan salah satu pemasok minyak bumi terbesar dan akses jalan untuk membawa minyak bumi tersebut harus melewati daerah-daerah krusial yang tengah mengalami perang.
Kekhawatiran itu salah satunya juga melanda Indonesia. Saat ini pemerintah mempertimbangkan untuk melakukan penghematan BBM.
Baca juga: 8 Bidang Ilmu Binus University Masuk Daftar 1-9 Terbaik Nasional 2026
Mulai dari memberlakukan work from home (WFH) bagi pegawai negeri hingga membuka opsi siswa belajar secara hybrid atau secara daring dan luring.
Namun terkait opsi belajar hybrid, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menegaskan tidak akan ada pembelajaran secara daring dalam rangka negara melakukan penghematan BBM.
Menurut Mu'ti, ada dua pertimbangan dalam memberikan keputusan ini yakni berkaitan dengan pertimbangan akademik dan pendidikan karakter.
Baca juga: Jelang Masuk Sekolah, KPAI: Jangan Bebani Siswa dengan Materi Berat
"Pembelajaran di sekolah dilaksanakan sebagaimana biasa dengan pertimbangan akademik dan penguatan pendidikan karakter," kata Mu'ti dikutip dari keterangan tertulis Kamis (26/3/2026).
Mu'ti menegaskan hal itu merupakan hasil rapat lintas kementerian dan juga keterangan resmi dari Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno pada 23 Maret lalu.
Terkait aturan mengenai pembelajaran di sekolah dalam kondisi tersebut, kata Mu'ti, akan diatur lebih lanjut melalui Surat Edaran Mendikdasmen. "Penjelasan lebih lanjut akan disampaikan dalam Surat Edaran Menteri Dikdasmen," jelas Mu'ti.
Baca juga: 10 Bidang Ilmu Undip Masuk Ranking QS WUR by Subject 2026, Tembus Top 500
Sebelumnya, Menko PMK Pratikno, pada Selasa juga menuturkan bahwa Presiden Prabowo Subianto menaruh perhatian besar terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), terutama di sektor pendidikan dan kesehatan.
Dengan demikian, dari koordinasi lintas kementerian diputuskan bahwa pembelajaran tatap muka harus tetap berjalan untuk memastikan kualitas pendidikan tidak menurun.
"Bahwa di sektor pendidikan, proses pembelajaran harus semakin optimal dan jangan sampai timbul learning loss. Oleh karena itu, diutamakan penyelenggaraan proses pembelajaran tetap berjalan secara luring bagi siswa,” kata Pratikno dari keterangan resminya, sebagaimana dilansir Kompas.com.
Baca juga: Jadwal TKA SD-SMP 2026 Lengkap Per Sesi, Siap-siap Dimulai April
Pratikno membenarkan bahwa sempat juga ada opsi untuk melakukan pembelajaran hybrid, yakni gabungan luring dan daring. Namun, kembali menjaga kualitas pendidikan menjadi yang terpenting.
Langkah pemerintah itu didukung juga oleh Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menilai pembelajaran tatap muka di sekolah harus tetap menjadi prioritas bagi pemerintah.
Hal ini Hetifah ungkapkan merespons sempat adanya opsi pembelajaran dari rumah sebagai bagian dari upaya efisiensi energi di tengah dinamika global.
Baca juga: Peserta Tak Bisa Pilih Pusat UTBK SNBT 2026, Ini Penjelasan Panitia SNPMB