Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apa Dampak Revolusi Nepal Bagi China, India, dan AS?

Kompas.com, 23 September 2025, 19:36 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Editor

Penulis: Lekhanath Pandey/DW Indonesia

KOMPAS.com - Sebuah gelombang pemberontakan anak muda di Nepal meruntuhkan rezim yang berkuasa bak kartu domino. Pemerintahan Perdana Menteri KP Sharma Oli tumbang hanya dalam hitungan hari, setelah demonstran membakar gedung parlemen dan menyerbu kediaman pribadi pejabat negara.

Di ibu kota Kathmandu, warga masih terhentak oleh aksi protes berdarah yang digalang kaum muda perkotaan. Aksi kaum muda awal bulan ini berhasil menggulingkan pemerintahan Oli.

Begitu cepat keruntuhan rezim, sempat muncul dugaan aksi demonstrasi dikendalikan aktor asing dari luar negeri. Ucapan selamat yang tergolong langka dari pemimpin spiritual Dalai Lama kian memanaskan perdebatan di media sosial.

Namun, sebagian besar yakin revolusi di Nepal murni digerakkan rakyat sendiri.

"Gerakan Gen Z ini sering dibandingkan dengan perlawanan di Bangladesh, Sri Lanka, atau Suriah," tulis jurnalis Kathmandu, Devendra Bhattarai, dalam sebuah kolom.

"Namun jangan dilupakan, ini bukan semata hasil pengaruh asing, melainkan revolusi yang lahir dan dipelihara oleh pemimpin muda di Nepal sendiri," lanjutnya.

Baca juga: Pemerintah Sementara Usut Kematian 74 Orang dalam Demo Nepal

Frustrasi massal

Sucheta Pyakurel, ilmuwan politik, menyebut tumbangnya pemerintahan di bawah PM Oli sebagai revolusi frustrasi massal akibat minimnya peluang kerja dan maraknya praktik kroniisme, terutama gaya hidup mewah keluarga pejabat.

Namun dia juga menekankan adanya hubungan erat antara kedaulatan dan pengaruh luar.

"Ketika kita kehilangan kendali atas institusi negara dan pasar, dengan begitu banyak anak muda memilih bekerja di luar negeri, pengaruh eksternal akan tumbuh secara alami," ujarnya.

Nepal, negeri 30 juta jiwa yang terjepit di antara India dan China, memang sudah lama dilanda ketidakstabilan.

Sejak konstitusi baru diberlakukan pada 2015, Kathmandu telah berganti delapan pemerintahan, dipimpin tiga tokoh yang sama yang bergiliran memegang kekuasaan: Oli dari CPN-UML, Sher Bahadur Deuba dari Nepali Congress, dan Pushpa Kamal Dahal dari Partai Komunis Nepal (CPN).

Baca juga: Usai Kerusuhan, Ribuan Napi Nepal yang Kabur Pilih Balik ke Penjara

Sebagian elite politik Nepal, terutama dari kubu kiri dan pro-monarki, berulang kali menuding ada campur tangan asing di balik pergeseran politik yang kerap terjadi.

India, Amerika, dan Uni Eropa sering disebut sebagai aktor berpengaruh. Belakangan, China juga masuk dalam daftar tersebut, setelah tidak lagi mengandalkan diplomasi senyap.

Secara resmi, Kathmandu masih berpegang pada prinsip nonblok yang diwariskan Raja Prithvi, tokoh pemersatu Nepal modern pada 1768.

Halaman:

Terkini Lainnya
Irak Mendadak 'Lupa Perang' Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Irak Mendadak "Lupa Perang" Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Internasional
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Apa Dampak Revolusi Nepal Bagi China, India, dan AS?
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat