Editor
Penulis: Lekhanath Pandey/DW Indonesia
KOMPAS.com - Sebuah gelombang pemberontakan anak muda di Nepal meruntuhkan rezim yang berkuasa bak kartu domino. Pemerintahan Perdana Menteri KP Sharma Oli tumbang hanya dalam hitungan hari, setelah demonstran membakar gedung parlemen dan menyerbu kediaman pribadi pejabat negara.
Di ibu kota Kathmandu, warga masih terhentak oleh aksi protes berdarah yang digalang kaum muda perkotaan. Aksi kaum muda awal bulan ini berhasil menggulingkan pemerintahan Oli.
Begitu cepat keruntuhan rezim, sempat muncul dugaan aksi demonstrasi dikendalikan aktor asing dari luar negeri. Ucapan selamat yang tergolong langka dari pemimpin spiritual Dalai Lama kian memanaskan perdebatan di media sosial.
Namun, sebagian besar yakin revolusi di Nepal murni digerakkan rakyat sendiri.
"Gerakan Gen Z ini sering dibandingkan dengan perlawanan di Bangladesh, Sri Lanka, atau Suriah," tulis jurnalis Kathmandu, Devendra Bhattarai, dalam sebuah kolom.
"Namun jangan dilupakan, ini bukan semata hasil pengaruh asing, melainkan revolusi yang lahir dan dipelihara oleh pemimpin muda di Nepal sendiri," lanjutnya.
Baca juga: Pemerintah Sementara Usut Kematian 74 Orang dalam Demo Nepal
Sucheta Pyakurel, ilmuwan politik, menyebut tumbangnya pemerintahan di bawah PM Oli sebagai revolusi frustrasi massal akibat minimnya peluang kerja dan maraknya praktik kroniisme, terutama gaya hidup mewah keluarga pejabat.
Namun dia juga menekankan adanya hubungan erat antara kedaulatan dan pengaruh luar.
"Ketika kita kehilangan kendali atas institusi negara dan pasar, dengan begitu banyak anak muda memilih bekerja di luar negeri, pengaruh eksternal akan tumbuh secara alami," ujarnya.
Nepal, negeri 30 juta jiwa yang terjepit di antara India dan China, memang sudah lama dilanda ketidakstabilan.
Sejak konstitusi baru diberlakukan pada 2015, Kathmandu telah berganti delapan pemerintahan, dipimpin tiga tokoh yang sama yang bergiliran memegang kekuasaan: Oli dari CPN-UML, Sher Bahadur Deuba dari Nepali Congress, dan Pushpa Kamal Dahal dari Partai Komunis Nepal (CPN).
Baca juga: Usai Kerusuhan, Ribuan Napi Nepal yang Kabur Pilih Balik ke Penjara
Sebagian elite politik Nepal, terutama dari kubu kiri dan pro-monarki, berulang kali menuding ada campur tangan asing di balik pergeseran politik yang kerap terjadi.
India, Amerika, dan Uni Eropa sering disebut sebagai aktor berpengaruh. Belakangan, China juga masuk dalam daftar tersebut, setelah tidak lagi mengandalkan diplomasi senyap.
Secara resmi, Kathmandu masih berpegang pada prinsip nonblok yang diwariskan Raja Prithvi, tokoh pemersatu Nepal modern pada 1768.