Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AS Ultimatum Presiden Interim Venezuela: Patuh atau Bernasib seperti Maduro

Kompas.com, 28 Januari 2026, 08:16 WIB
Inas Rifqia Lainufar

Penulis

Sumber AFP

WASHINGTON DC, KOMPAS.com — Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio pada Rabu (28/1/2026) memperingatkan pemimpin sementara Venezuela bahwa ia bisa mengalami nasib yang sama seperti Nicolas Maduro jika tidak mengikuti keinginan Washington.

Peringatan itu tertuang dalam kesaksian tertulis Rubio yang akan disampaikan di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS.

Pernyataan tersebut muncul setelah operasi militer Amerika Serikat awal Januari lalu yang berhasil menangkap Maduro di Caracas.

Baca juga: Lama-lama Lelah Juga Venezuela Didikte Amerika

Langkah Washington itu menuai perdebatan politik di dalam negeri AS sekaligus memicu klaim korban jiwa dari pihak Venezuela.

Peringatan keras untuk Delcy Rodriguez

Dalam kesaksian yang telah dipersiapkan, Rubio menyebut Delcy Rodriguez — yang sebelumnya menjabat wakil presiden dan kini menjadi presiden sementara Venezuela — memahami risiko yang ia hadapi.

Rubio menyatakan bahwa Rodríguez “sangat menyadari nasib Maduro.”

Ia menambahkan, “Kami percaya bahwa kepentingan pribadinya sejalan dengan memajukan tujuan-tujuan utama kami.”

Rubio juga menegaskan sikap tegas Washington dengan mengatakan, “Jangan salah, seperti yang telah dinyatakan presiden, kami siap menggunakan kekuatan untuk memastikan kerja sama maksimal jika metode lain gagal.” Pernyataan itu merujuk pada Presiden Donald Trump.

Penangkapan Maduro di Caracas

Foto Presiden Venezuela Nicolas Maduro dengan penutup mata saat diangkut di kapal USS Iwo Jima menuju New York, diunggah Presiden Amerika Serikat Donald Trump di platform Truth Social pada Sabtu (3/1/2026), setelah serangan di Caracas.TRUTH SOCIAL DONALD TRUMP via AFP Foto Presiden Venezuela Nicolas Maduro dengan penutup mata saat diangkut di kapal USS Iwo Jima menuju New York, diunggah Presiden Amerika Serikat Donald Trump di platform Truth Social pada Sabtu (3/1/2026), setelah serangan di Caracas.

Pasukan komando Amerika Serikat melakukan penggerebekan di Caracas pada 3 Januari dan menangkap Nicolas Maduro, sosok lama yang menjadi musuh politik Washington, bersama istrinya, Cilia Flores.

Keduanya kemudian diterbangkan ke New York untuk diadili atas dakwaan perdagangan narkoba yang diajukan oleh otoritas AS, tuduhan yang mereka bantah.

Dalam pembelaannya terhadap operasi tersebut, Rubio mengatakan, Amerika Serikat “menangkap dua pengedar narkotika” dan menyebut Maduro sebagai “pengedar narkotika yang didakwa, bukan kepala negara yang sah.”

Baca juga: Trump Bocorkan Senjata Rahasia Saat Tangkap Maduro hingga Tentara Venezuela Muntah Darah

Rubio menekankan bahwa operasi itu berhasil tanpa kerugian militer dari pihak Amerika.

Ia mengatakan, “Semua ini dicapai tanpa kehilangan satu pun nyawa warga Amerika, atau pendudukan militer yang berkelanjutan.”

Rubio bahkan menyebut, “Sejarah hanya memiliki sedikit contoh di mana begitu banyak yang dicapai dengan biaya yang begitu kecil.”

Namun, pejabat Venezuela menyatakan lebih dari 100 orang tewas, termasuk warga Venezuela dan Kuba yang berupaya melindungi Maduro namun gagal.

Tekanan politik di dalam negeri AS

Rubio, yang merupakan mantan senator, setuju memberikan kesaksian setelah berminggu-minggu mendapat tekanan dari Partai Demokrat.

Para anggota Demokrat menuduh pemerintahan Trump menyesatkan anggota parlemen serta melampaui kewenangan dengan menggunakan kekuatan militer.

Di sisi lain, Trump disebut menuntut agar Rodriguez bekerja dengan cara yang menguntungkan perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat.

Baca juga: Usai Serang Venezuela, Trump Kini Atur Strategi Tumbangkan Kuba lewat Orang Dalam

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Mengapa Israel Menolak Disalahkan Atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon?
Mengapa Israel Menolak Disalahkan Atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon?
Internasional
Irak Mendadak 'Lupa Perang' Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Irak Mendadak "Lupa Perang" Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Internasional
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
AS Ultimatum Presiden Interim Venezuela: Patuh atau Bernasib seperti Maduro
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat