Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sukses Tumbangkan Venezuela, Trump Mau Pakai Taktik yang Sama di Iran

Kompas.com, 30 Januari 2026, 08:19 WIB
Inas Rifqia Lainufar

Penulis

Sumber AFP

TEHERAN, KOMPAS.com – Beberapa pekan setelah operasi Amerika Serikat yang menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Presiden AS Donald Trump mulai mengarahkan pendekatan serupa terhadap Iran.

Ia mengirim apa yang disebutnya sebagai “armada” ke dekat wilayah Iran dan memperingatkan Pemerintah Teheran yang dinilainya otoriter.

Meski Trump merasa terdorong oleh apa yang ia anggap sebagai keberhasilan taktis di Venezuela, situasi Iran disebut jauh lebih kompleks.

Baca juga: Berpotensi Jadi Target Iran, Ini Daftar Pangkalan Militer AS di Timur Tengah

Para pejabat dan analis menilai perbedaan struktur kekuasaan, kondisi militer, serta dampak regional membuat risiko di Iran jauh lebih besar.

Perbedaan karakter pemerintahan

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei saat berpidato dalam siaran televisi di Teheran, 18 Juni 2025, ketika perang Israel-Iran berkecamuk.KHAMENEI.IR via AFP Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei saat berpidato dalam siaran televisi di Teheran, 18 Juni 2025, ketika perang Israel-Iran berkecamuk.

Setelah pasukan khusus AS menangkap Maduro dan istrinya pada 3 Januari 2026 untuk menghadapi dakwaan perdagangan narkoba di New York—tuduhan yang mereka bantah, Trump menekan penerusnya, Wakil Presiden Delcy Rodriguez, dengan ancaman serangan baru jika tidak memenuhi keinginan Washington, dimulai dari akses terhadap minyak negara itu.

Seperti halnya Maduro, salah satu prinsip utama kepemimpinan di Teheran adalah perlawanan terhadap Amerika Serikat.

Namun, di Iran disebutkan hanya ada sedikit tanda-tanda perpecahan dalam tubuh negara.

Republik Islam Iran bertumpu pada Garda Revolusi, yang dalam beberapa pekan terakhir secara brutal dilaporkan menumpas protes massal, menewaskan ribuan orang.

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (86) tidak pernah meninggalkan negara itu sejak 1989.

Sebagai ulama Syiah, ia hidup sederhana dan dibesarkan dalam tradisi keagamaan yang menjunjung kemartiran.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada komite Senat, Iran kini lebih lemah daripada sebelumnya sejak revolusi 1979 yang menggulingkan shah pro-Barat.

Namun, ia juga mengatakan bahwa tidak ada “jawaban sederhana” mengenai apa atau siapa yang akan menggantikan Khamenei jika ia jatuh.

“Saya membayangkan situasinya akan jauh lebih kompleks dibanding Venezuela,” ujarnya.

Risiko militer yang lebih besar

Trump mengatakan di media sosial bahwa armada AS di dekat Iran lebih besar daripada yang dikirim ke Venezuela.

Halaman:

Terkini Lainnya
Mengapa Israel Menolak Disalahkan Atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon?
Mengapa Israel Menolak Disalahkan Atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon?
Internasional
Irak Mendadak 'Lupa Perang' Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Irak Mendadak "Lupa Perang" Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Internasional
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Sukses Tumbangkan Venezuela, Trump Mau Pakai Taktik yang Sama di Iran
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat