Penulis
TEHERAN, KOMPAS.com - Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel mengenai pesawat penumpang yang sedang parkir di Bandara Bushehr, Teheran, Iran.
Media Iran pada Selasa (3/3/2026) melaporkan bahwa pesawat tersebut hancur berkeping-keping terkena serangan udara.
Insiden ini merupakan bagian dari serangan besar-besaran yang menargetkan pusat komando Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), fasilitas rudal, pertahanan udara, hingga kompleks kepemimpinan Iran.
Baca juga: Rusia Akhirnya Buka Suara soal Dukungan Militer ke Iran dalam Perang
Selain di Bushehr, serangan juga menyasar ibu kota Teheran, sebagaimana dilansir NDTV.
Kantor berita Mehr News Agency merilis foto-foto yang menunjukkan gumpalan asap abu-abu membubung ke langit di balik landasan pacu Bandara Mehrabad.
"Teroris Amerika-Zionis menyerang area di sekitar bandara Mehrabad di bagian barat ibu kota," tulis laporan Mehr News Agency dikutip dari artikel aslinya.
Di awal serangan, militer AS dan Israel mengerahkan berbagai rudal balistik, termasuk rudal Tomahawk dari kapal perang di Teluk Persia, serta jet tempur siluman generasi kelima seperti F-22 dan F-35.
Baca juga: Situasi Memanas, Kapal Perang Iran Merapat ke Sri Lanka Usai Serangan Torpedo AS
Di awal-awal, konflik langsung mencapai puncaknya setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan di kompleks kediamannya di pusat kota Teheran pada hari pertama operasi.
Laporan media menyebutkan bahwa serangan ini telah direncanakan selama berbulan-bulan.
Operasi intelijen tersebut melibatkan peretasan kamera lalu lintas untuk melacak konvoi Khamenei guna mengonfirmasi posisinya di hari serangan.
Pihak Iran merespons serangan tersebut dengan meluncurkan rentetan rudal dan pesawat nirawak bunuh diri, di mana drone Shahed menjadi senjata utama.
Baca juga: Eropa Kini Berani Terang-terangan Lawan Trump, Tolak Perang Iran
Serangan balik ini tidak hanya menyasar target di Israel dan pangkalan militer AS, tetapi juga menghantam bangunan sipil di negara-negara tetangga di kawasan Teluk.
Eskalasi ini memicu kekhawatiran akan pecahnya perang regional yang lebih luas di Asia Barat.
Dampak ekonomi global pun mulai terasa setelah Iran memutuskan untuk menutup Selat Hormuz.
Jalur pelayaran ini sangat krusial bagi pasokan energi dunia, mengingat rata-rata 20 juta barel minyak mentah dikirim melalui selat tersebut setiap harinya.
Baca juga: Giliran Azerbaijan yang Dihantam Drone Iran, Ancam Balas Teheran
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang