Penulis
KOMPAS.com - Fenomena El Nino dengan intensitas kuat yang disebut sebagai "Godzilla" diprediksi berpotensi terjadi pada 2026.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap, kondisi ini dapat memicu musim kemarau yang lebih panjang dan kering di Indonesia.
Terutama jika terjadi bersamaan dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
"Fenomena ini berpotensi memicu kekeringan yang dapat berdampak pada berbagai sektor, termasuk pertanian dan sumber daya air," ujar periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Prof. Erma Yulihastin, dalam unggahan @brin_indonesia di Instagram Kamis (19/3/2026).
Lantas, apa yang dimaksud dengan El Nino "Godzilla" dan bagaimana dampaknya bagi Indonesia?
Baca juga: Minim Hujan, BNPB Ungkap 6 Kecamatan di Samosir Terdampak Kekeringan Sejak Oktober 2025
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang memengaruhi pola cuaca global.
Dalam kondisi tertentu, intensitas El Nino dapat menjadi sangat kuat. BRIN menyebut kondisi ini sebagai El Nino ekstrem atau "Godzilla".
Fenomena ini akan semakin berdampak jika terjadi bersamaan dengan IOD positif, yakni kondisi ketika suhu permukaan laut di Samudra Hindia bagian barat lebih hangat dibandingkan bagian timur.
"Kombinasi El Nino kuat dan IOD positif dapat memperkuat penurunan curah hujan di Indonesia," bunyi keterangan BRIN.
Baca juga: BRIN Prediksi El Nino Godzilla Terjadi 2026, Ini Sederet Dampaknya
BRIN menjelaskan, saat El Nino terjadi, pembentukan awan dan hujan cenderung bergeser ke wilayah Samudra Pasifik.
Sementara itu, IOD positif menyebabkan pendinginan suhu permukaan laut di sekitar Sumatera dan Jawa, sehingga memperkuat berkurangnya curah hujan.
Akibatnya, sebagian wilayah Indonesia berpotensi mengalami kemarau yang lebih panjang dan kering.
Wilayah selatan Indonesia, seperti Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara, diprediksi menjadi daerah yang paling terdampak.
Institusi tersebut menambahkan, kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.
Meskipun demikian, dampak fenomena ini tidak merata di seluruh Indonesia.
Wilayah timur seperti Sulawesi, Halmahera, dan Maluku justru masih berpotensi mengalami curah hujan yang relatif tinggi.
Perbedaan ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer dan posisi wilayah terhadap pusat pembentukan awan.
Baca juga: BMKG Deteksi 12 Titik Panas di Sumatera Utara, Ini Sebaran Wilayahnya
BRIN memprediksi fenomena El Nino dan IOD positif akan terjadi bersamaan pada periode musim kemarau, yakni sekitar April hingga Oktober 2026.
Dalam periode tersebut, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak yang ditimbulkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang