Penulis
KOMPAS.com - Warga Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu) diimbau untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih terjadi hingga awal April 2026.
Imbauan tersebut datang dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Karangoloso, Malang.
Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso Linda Fitrotul mengatakan, cuaca ekstrem mampu memicu hujan dengan intensitas deras yang disertai angin kencang dan petir.
Baca juga: Libur Lebaran, Wisatawan di Jatim Tembus 5,3 Juta Orang, Ini Objek Favorit
"Kami mengimbau masyarakat dan instansi terkait agar senantiasa mewaspadai perubahan cuaca mendadak serta adanya potensi cuaca ekstrem, berupa hujan dengan intensitas sedang hingga deras yang disertai petir dan angin kencang," kata Linda dilansir Antara, Selasa (31/3/2026).
Dampak cuaca ekstrem disebutnya mampu memicu berbagai kejadian berbahaya, seperti pohon tumbang dan banjir yang sempat terjadi di Kota Batu dan Kota Malang, pada Senin (30/3/2026) lalu.
"Selain itu, bisa menimbulkan tanah longsor, jarak pandang yang minim, dan kondisi jalan yang licin," ujar dia.
Pihaknya mengimbau masyarakat supaya memantau informasi terkait perkembangan kondisi cuaca secara berkala yang dikeluarkan secara resmi oleh BMKG.
Baca juga: Di Paripurna DPRD, Khofifah Paparkan Capaian RKPD Jatim Capai 98,33 Persen
Imbauan BMKG Karangploso Malang ini sekaligus menindaklanjuti siaran resmi dari BMKG Kelas I Juanda Sidoarjo tentang Kewaspadaan Cuaca Ekstrem di Jawa Timur, pada 26 Maret sampai 4 April 2026.
Wilayah Malang Raya, yakni Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu, masuk wilayah berpotensi terdampak cuaca ekstrem yang bisa memicu terjadinya bencana hidrometeorologi.
BMKG Kelas I Juanda menjelaskan cuaca ekstrem dipicu adanya gangguan gelombang rossby dan gelombang kelvin yang akan melintasi wilayah Jawa Timur.
Baca juga: BMKG Rilis Peringatan Dini Cuaca Ekstrem 31 Maret 2026, 37 Wilayah Indonesia Siaga Hujan Lebat
Suhu muka laut pun secara umum menunjukkan aktivitas penguapan yang cukup signifikan di Selat Madura.
Tak hanya itu, fenomena cuaca ini juga dipengaruhi dampak tidak langsung siklon tropis narelle di Samudera Hindia bagian barat Australia dan atmosfer lokal yang labil.
Hal itu mendukung pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga deras disertai petir serta angin kencang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang