Editor
KOMPAS.com – Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Bakauheni, Suratno, memberikan klarifikasi terkait keluhan sejumlah pengemudi mengenai adanya antrean panjang di Pelabuhan Bakauheni. Isu yang beredar menyebutkan bahwa kendaraan pengangkut logistik, khususnya pisang, harus menunggu hingga 24 jam untuk menyeberang.
Suratno menegaskan bahwa kendaraan pengangkut komoditas seperti pisang masuk dalam kategori prioritas. Hal ini dilakukan agar barang kiriman tersebut tidak rusak dan bisa segera sampai ke tujuan.
"Berdasarkan data di lapangan, tidak ada antrean hingga 12 jam apalagi 24 jam. Rata-rata antrean berkisar antara satu hingga tiga jam, tergantung kapasitas angkut," ujar Suratno kepada awak media, Selasa (24/3/2026).
Baca juga: Kunci Kontak Tertinggal di Dalam Mobil, Polisi di Bakauheni Bantu Ambil Pakai Ranting Kayu
Terkait kabar adanya buah-buahan yang membusuk akibat tertahan lama di area pelabuhan, pihak KSOP menyatakan hingga kini belum menemukan bukti otentik di lokasi. Menurut Suratno, laporan tersebut masih bersifat klaim sepihak yang belum terverifikasi.
"Kami belum melihat secara fisik adanya barang busuk. Foto atau laporan yang beredar belum menunjukkan kondisi sebenarnya," katanya lagi.
Ia menambahkan bahwa seluruh operasional di lintasan Bakauheni-Merak dipantau secara real-time oleh Media Center Kementerian Perhubungan. Jika terjadi hambatan teknis, petugas akan langsung melakukan tindakan cepat di lapangan.
Suratno juga meluruskan persepsi masyarakat mengenai waktu tunggu yang disebut mencapai 7 hingga 10 jam. Berdasarkan perhitungan teknis operasional, keterlambatan kapal rata-rata berada di kisaran 5 jam.
Perbedaan angka ini terjadi karena pengguna jasa biasanya menghitung waktu sejak mereka tiba di area pelabuhan, sementara otoritas menghitung sejak kapal mulai beroperasi.
"Kalau dihitung dari sisi operasional kapal, rata-rata keterlambatan sekitar lima jam. Namun masyarakat biasanya sudah menghitung sejak masuk area pelabuhan," jelas Suratno.
Beberapa faktor teknis yang memicu keterlambatan antara lain:
Baca juga: Arus Mudik Bakauheni Melonjak, ASDP Siapkan Buffer Zone dan Pelabuhan Tambahan
Menghadapi arus balik Lebaran 2026, KSOP Bakauheni telah menyiagakan total 31 armada kapal. Dari jumlah tersebut, 28 kapal beroperasi secara normal dan 3 kapal disiagakan sebagai cadangan untuk memperkuat daya angkut di dermaga.
"Penambahan ini kami lakukan karena kondisi masih landai. Namun, jika ada peningkatan signifikan khususnya sore hari, skema tiba-bongkar-berangkat (TBB) akan langsung diberlakukan," tegasnya.
Selain itu, pemerintah telah menyiapkan dua rute alternatif jika terjadi lonjakan penumpang:
Di sisi lain, Executive Director Regional II PT ASDP Indonesia Ferry, Zulvidon, menyebutkan bahwa arus balik di Pelabuhan Bakauheni saat ini masih terpantau cukup landai. Hal ini dipengaruhi oleh durasi libur Lebaran yang cukup panjang, sehingga masyarakat bisa mengatur waktu kepulangan dengan lebih fleksibel.
"Berbeda dengan arus mudik yang biasanya terpusat, arus balik kali ini terlihat lebih tersebar. Pemudik kini lebih cerdas dalam mengatur jadwal perjalanan untuk menghindari kemacetan," ungkap Zulvidon.
Baca juga: Jalan ke Bakauheni Gelap Gulita saat Mudik 2026, Pemudik Khawatir soal Keselamatan
Meskipun demikian, tim gabungan dari kepolisian, ASDP, dan BPTD tetap melakukan pengawasan ketat dan menyiapkan rekayasa lalu lintas guna mengantisipasi lonjakan volume kendaraan yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Artikel ini telah tayang di TribunLampung.co.id dengan judul Penjelasan KSOP soal Pisang Busuk karena Antre 24 Jam di Bakauheni
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang