Editor
KOMPAS.com – Hiruk-pikuk Simpang Keudah, Banda Aceh, di sore hari menjelang waktu berbuka puasa menjadi saksi bisu perjuangan Sayuti. Di balik lapak sederhana pinggir jalan, pria ini tak kenal lelah menggiling tebu demi mengumpulkan rupiah untuk masa depan sang buah hati.
Sayuti merupakan salah satu pedagang musiman yang menggantungkan harap pada berkah Ramadan. Minuman sari tebu murni buatannya dijual dengan harga terjangkau, yakni Rp5.000 per plastik.
Namun, di balik kesegaran segelas tebu tersebut, tersimpan misi besar: mengantarkan putranya menuntut ilmu hingga ke Universitas Al Azhar, Mesir.
Baca juga: Pemuda asal Aceh Diciduk saat Selundupkan 2 Kg Sabu melalui Bandara Silangit, Sempat 4 Kali Berhasil
Meski terlihat ramai, Sayuti mengaku kondisi ekonomi tahun ini cukup menantang. Pada awal Ramadan, ia mampu mengantongi pendapatan antara Rp300.000 hingga Rp400.000 per hari. Memasuki pertengahan bulan, omzetnya meningkat ke angka Rp500.000 hingga Rp600.000.
Kendati demikian, angka tersebut rupanya masih di bawah capaian tahun lalu yang bisa menyentuh Rp800.000 dalam sehari. Faktor kenaikan harga bahan baku tebu dan menjamurnya pedagang serupa menjadi penyebab utama.
“Dulu bisa sampai Rp800.000 sehari,” tutur Sayuti pelan saat menceritakan penurunan omzetnya dikutip dari Baznas.go.id.
Ketangguhan Sayuti dalam berdagang tidak lepas dari pendampingan yang ia terima selama empat tahun terakhir. Ia merupakan mitra binaan BMD (Baitul Mal Digital) Aceh yang mendapatkan bantuan modal usaha sebesar Rp5 juta.
Dana tersebut ia manfaatkan secara optimal untuk memperbaiki infrastruktur lapak, memperbarui peralatan giling, hingga menambah stok bahan baku tebu. Selain bantuan materiil, Sayuti juga dibekali kemampuan manajemen keuangan agar usahanya lebih tertata.
Bagi Sayuti, modal usaha ini adalah jembatan untuk bertahan hidup sekaligus jalan perjuangan menyekolahkan anaknya, Muhammad Khalid Akbar.
Baca juga: Bolos Hari Pertama Kerja, 126 ASN Aceh Utara Kena Potong Tunjangan 50 Persen
Putra sulungnya, Khalid, baru saja dinyatakan lulus seleksi masuk Universitas Al Azhar di Mesir. Pencapaian ini diraih setelah perjuangan panjang Khalid mengikuti program tahfidz di Solo dan kelas daring bersama syekh dari Mesir setiap pagi.
Kini, tantangan baru muncul. Khalid membutuhkan biaya keberangkatan dan akomodasi awal yang tidak sedikit sebelum beasiswa cair di semester kedua. Sayuti sempat mengajukan bantuan ke Baitul Mal, namun kuota bantuan untuk tahun ini telah terpenuhi.
Hal inilah yang memacu Sayuti untuk terus berdiri di terik matahari Simpang Keudah. Ia menyisihkan setiap rupiah dari hasil jualan tebu untuk menutupi kekurangan biaya tiket pesawat sang anak.
“Yang penting anak saya bisa berangkat dulu,” ucap Sayuti dengan mata berkaca-kaca penuh harapan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang