Penulis
KOMPAS.com - Warga penyintas bencana banjir di Desa Sijudo, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, memperkuat rasa kekeluargaan antarwarga di momen hari raya Idul Fitri 1447 H dengan tradisi Meugang.
"Di tradisi Meugang ini, semua warga saling bergotong-royong menyembelih hewan, memasak hingga makan bersama, jadi rasa kekeluargaan semakin erat," kata Kepala Dusun Rantau Panjang Rubek Jahidin saat ditemui Antara di Desa Sijudo, Aceh Timur, Jumat.
Hingga kini, menurutnya, warga setempat masih menjaga dan menjalankan tradisi Meugang dengan penuh kebersamaan.
Dalam tradisi ini, para laki-laki bertugas menyembelih dan memotong daging sapi secara gotong royong yang mencerminkan nilai kekompakan dan solidaritas yang telah diwariskan turun-temurun.
Setelah proses penyembelihan selesai, daging sapi dibagikan secara merata kepada 46 kepala keluarga yang tinggal di dusun tersebut.
Namun, ada daging yang tidak dibagikan kepada warga, melainkan diolah untuk dimasak dan dinikmati secara bersama-sama dalam suasana kekeluargaan.
Kaum wanita mendapat tugas menyiapkan berbagai bumbu dan bahan masakan.
Setelah daging dimasak dengan aneka rempah khas, hidangan tersebut kemudian disajikan dan disantap bersama nasi.
Menurut Jahidin, meski hingga kini warga masih berjuang untuk memulihkan kondisi selepas bencana besar di akhir tahun 2025, namun tradisi Meugang tetap dijalankan untuk menyambut Lebaran.
Baca juga: 9 Nomor Kontak Darurat yang Wajib Disimpan Saat Mudik
Dilansir dari Kompas.com (25/6/2024), tradisi Meugang atau Makmeugang dilakukan menjelang hari-hari besar umat Islam, misalnya untuk menyambut bulan Ramadhan, Idul Fitri, atau Idul Adha.
Konon katanya, tradisi ini sudah ada sejak era Kesultanan Aceh.
Menurut catatan sejarah, tradisi Meugang juga dikenal dengan berbagai sebutan, antara lain Makmeugang, Haghi Mamagang, Uroe Meugang, atau Uroe Keuneukoh.
Dalam bahasa Aceh, "gang" berarti pasar.
Pada hari biasa, pasar tidak begitu meriah. Namun menjelang hari-hari besar Islam seperti Ramadhan dan Idul Fitri, masyarakat ramai mendatangi pasar, sehingga muncul istilah "Makmu that gang nyan" (makmur sekali pasar itu) atau Makmeugang.
Sedangkan dilansir dari situs resmi Pemerintah Banda Aceh, tradisi Meugang sudah ada bersamaan dengan penyebaran agama Islam di Aceh pada sekitar abad ke-14.