Editor
KOMPAS.com – Gema suara takbir mulai berkumandang memecah kesunyian malam seiring berakhirnya bulan suci Ramadhan dan ditetapkannya 1 Syawal. Lantunan tersebut menjadi penanda resmi datangnya Hari Raya Idul Fitri yang disambut penuh suka cita oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia.
Di berbagai tempat, mulai dari masjid besar, mushalla, hingga langgar di pelosok desa, suara takbir terdengar bersahut-sahutan.
Sebagian masyarakat merayakannya dengan tradisi takbiran keliling, sementara yang lain memilih untuk berdzikir khusyuk di tempat ibadah maupun di rumah masing-masing.
Baca juga: Malam Takbiran di Jakarta, Ada Pawai Obor 5.000 Peserta dan 1.000 Bedug
Tradisi takbiran bukan sekadar ekspresi kegembiraan semata. Secara esensial, takbiran adalah bentuk dzikir kepada Allah SWT untuk mengagungkan kebesaran-Nya sekaligus mensyukuri nikmat menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan.
Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 185:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: “Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Para ulama menjelaskan bahwa ayat tersebut mengandung anjuran eksplisit untuk menampakkan dzikir sebagai bentuk rasa syukur. Imam Ibn Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa bertakbir merupakan manifestasi nyata dari syukur atas nikmat Ramadhan.
قَوْلُهُ تَعَالَى: وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ. وَقَدْ أَمَرَ اللَّهُ عِبَادَهُ بِشُكْرِ نِعْمَةِ صِيَامِ رَمَضَانَ بِإِظْهَارِ ذِكْرِهِ
“Firman Allah Ta’ala yang berbunyi: 'Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur', mengandung makna bahwa Allah SWT memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mensyukuri nikmat puasa Ramadhan dengan menampakkan dzikir kepada-Nya.” (Rawa’i at-Tafsir, vol. 1, h. 135).
Baca juga: Bacaan Takbiran Idul Fitri Versi Pendek dan Panjang, Lengkap Arab, Latin, serta Artinya
Senada dengan hal itu, Syekh Jamaluddin al-Qasimi (wafat 1332 H) menjelaskan dalam kitabnya bahwa bacaan takbir dapat mendorong seorang hamba untuk semakin mengenal keagungan Tuhan.
وَفَائِدَةُ طَلَبِ الشُّكْرِ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ هُوَ أَنَّهُ تَعَالَى لَمَّا أَمَرَ بِالتَّكْبِيرِ، وَهُوَ لَا يَتِمُّ إِلَّا بِأَنْ يَعْلَمَ الْعَبْدُ جَلَالَ اللَّهِ وَكِبْرِيَاءَهُ وَعِزَّتَهُ وَعَظَمَتَهُ...
“Adapun faedah diperintahkannya bersyukur pada ayat ini adalah bahwa Allah Ta’ala, ketika memerintahkan untuk bertakbir, maka hal itu tidak akan sempurna kecuali apabila seorang hamba mengetahui keagungan Allah, kebesaran-Nya, kemuliaan-Nya, dan keperkasaan-Nya...” (Mahasin at-Ta’wil, vol. 2, h. 28).
Dalam praktiknya, membaca takbir pada malam Idul Fitri disunnahkan untuk dilakukan dengan suara yang keras (jahr). Tujuannya adalah untuk menampakkan syiar Islam serta menghidupkan suasana hari kemenangan.
Syekh Ibrahim al-Bajuri (wafat 1276 H) menyebutkan bahwa anjuran ini berlaku universal bagi seluruh Muslim.