Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menjaga Napas Terakhir Orangutan Tapanuli dari Ancaman Banjir dan Hilangnya Rimba

Kompas.com, 17 Desember 2025, 16:01 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Bencana banjir bandang yang melanda Sumatra Utara akhir tahun 2025 membawa dampak tragis bagi populasi satwa liar, termasuk Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), spesies kera langka di dunia.

Kompas.com menurunkan artikel penemuan satu orangutan Tapanuli yang mati terperangkap di antara tumpukan material banjir di Tapanuli Tengah pada 12 Desember 2025.

Satu Orangutan Tapanuli berjenis kelamin betina, yang ditaksir berusia remaja, ditemukan tim relawan di aliran Sungai Garoga, Desa Pulo Pakkat, Kabupaten Tapanuli Tengah, tersangkut di antara tumpukan kayu dan lumpur yang terbawa arus deras banjir bandang.

Saat ditemukan, ia nyaris hampir tidak terlihat. Hanya bagian kaki dan tangan, yang menyembul di tumpukan kayu dan lumpur. 

"Bersama tim, pelan-pelan kami singkirkan tumpukan kayu dan lumpur. Dan kondisi masih utuh, tapi sudah mengalami pembusukan," ujar relawan Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Tapanuli Selatan, Decky Chandrawan (12/12/2025).

Temuan ini juga dikonfirmasi Kepala Bidang Konservasi dan Sumber Daya Alam Wilayah III Padangsidimpuan, Susilo Ari Wibowo yang membenarkan adanya penemuan satu jasad Orangutan Tapanuli.

Satu orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) ditemukan mati oleh tim relawan, saat melakukan pencarian korban banjir di aliran Sungai Garoga, Desa Pulo Pakkat, Kecamatan Sukabangun, Tapanuli Tengah, Rabu (3/12/2025). DECKY CHANDRAWAN Satu orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) ditemukan mati oleh tim relawan, saat melakukan pencarian korban banjir di aliran Sungai Garoga, Desa Pulo Pakkat, Kecamatan Sukabangun, Tapanuli Tengah, Rabu (3/12/2025).

Para ilmuwan dan konservasionis memperingatkan bahwa banjir bandang ini menjadi "gangguan tingkat kepunahan" (extinction level disturbance) bagi Orangutan Tapanuli.

The Guardian menyebut, curah hujan ekstrem hingga 1.000 mm dalam empat hari diperkirakan telah menewaskan antara 33 hingga 54 individu kera endemik ini, setara dengan 6,2 persen hingga 10,5 persen dari total populasi tersisa.

Padahal, sebelum bencana, jumlah orangutan Tapanuli di alam liar kurang dari 800 individu, dan semuanya hidup terbatas di ekosistem Batang Toru.

Biological Anthropologist, Erik Meijaard, merupakan salah satu ahli yang pertama mendeskripsikan spesies ini, menyatakan kekhawatiran mendalam. “Ini adalah bencana total. Jalan menuju kepunahan kini jauh lebih curam,” tegas Erick.

Meijaard menyamakan "gangguan" di era modern ini seperti wabah Ebola tahun 2000-an yang menghancurkan populasi gorila barat dan simpanse di Afrika tengah.

Para ahli biologi telah lama memperingatkan, hilangnya satu persen populasi Orangutan Tapanuli sudah cukup mendorong mereka ke ambang kepunahan mengingat laju reproduksi mereka yang sangat lambat, yakni hanya sekali setiap enam hingga sembilan tahun.

Data citra satelit menunjukkan hampir 4.000 hektar hutan yang sebelumnya utuh tersapu longsor dan banjir, menghancurkan sumber makanan dan tempat berlindung Orangutan Tapanuli.

Infografis kondisi Orangutan Tapanuli di Tengah Bencana Bajir Sumatera DOK. CHATGPT Infografis kondisi Orangutan Tapanuli di Tengah Bencana Bajir Sumatera

Kemalangan beruntun yang dialami Orangutan Tapanuli tidak hanya kali ini berasal dari bencana alam. Sebelumnya, tekanan pembangunan jangka panjang mendorong habitat mereka yang sempit di Batang Toru terus dihimpit.

Laporan The Guardians sebelumnya (9/12/2025) menyebut ancaman sebelumnya juga datang dari rencana perluasan area tambang seperti pembangunan jalan akses yang akan memotong habitat ekosistem Batang Toru atau kehadiran pembangkit listrik tenaga air.

Baca juga: Media Asing Soroti Kematian Orangutan Tapanuli, Satwa Langka yang Tersapu Banjir Sumatera

Hal ini menjadi seolah perebutan lahan hidup antara manusia dan orangutan, mengingat eksplorasi tambang tersebut kini menjadi sumber pendapatan bagi sekitar 3.500 karyawan di mana 70 persen di antaranya adalah penduduk lokal.

Padahal, Orangutan Tapanuli, dengan ciri khas rambut keriting berwarna kayu manis dan wajah lebar, bukan hanya orangutan paling langka, tetapi juga mewakili garis keturunan tertua dari semua spesies orangutan yang tiba di Sumatra dari daratan Asia lebih dari 3 juta tahun lalu.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau