Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 24 Desember 2025, 09:06 WIB
Sri Noviyanti

Editor


KOMPAS.com — Upaya mendorong regenerasi petani sekaligus memperkuat pertanian berkelanjutan terus dilakukan dengan melibatkan generasi muda. Melalui pendekatan inovatif berbasis kewirausahaan dan teknologi, anak muda didorong untuk melihat sektor pertanian sebagai ruang kerja yang relevan, berkelanjutan, dan menjanjikan.

Komitmen tersebut tecermin dalam penyelenggaraan Farmers’ Regeneration Summit yang digelar oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Republik Indonesia bersama Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) di Jakarta, Senin (22/12/2025). Kegiatan ini menjadi puncak dari program Petani Keren, sebuah inisiatif untuk meningkatkan kapasitas pemuda dalam sistem pertanian inovatif dan berkelanjutan.

Dalam acara tersebut, diluncurkan modul pembelajaran Petani Keren, kurikulum berbasis usia yang mencakup pemetaan keanekaragaman hayati pertanian lokal dan permintaan pasar, penerapan praktik pertanian ramah lingkungan dan berteknologi, hingga pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai tambah serta pengembangan agribisnis.

Baca juga: Dorong Regenerasi Petani Jateng, Taj Yasin: Pertanian Bukan Pelengkap tapi Fondasi

Modul ini telah dilatihkan kepada 100 anak muda berusia 17–35 tahun dari berbagai daerah di Indonesia, dengan sebagian peserta berkembang menjadi pelaku usaha pertanian.

Selain itu, turut diluncurkan modul adaptasi Youth and United Nations Global Alliance (YUNGA) tentang pertanian untuk anak usia 7–17 tahun. Modul ini disesuaikan dengan konteks Indonesia dengan dukungan organisasi pemuda World Food Forum Indonesia, sebagai bagian dari upaya menanamkan kesadaran sejak dini mengenai hubungan antara pangan, lingkungan, dan keberlanjutan.

Dalam forum yang sama, FAO menyerahkan risalah kebijakan (policy brief) kepada Kemenpora RI untuk mendukung pengambilan kebijakan terkait regenerasi petani.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, hampir 80 persen petani Indonesia berusia di atas 40 tahun, sementara sekitar setengah dari total pengangguran berasal dari kelompok usia 15–29 tahun. Policy brief tersebut menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk membuka akses anak muda terhadap lahan, pembiayaan, teknologi, serta penguatan koperasi dan kelembagaan ekonomi.

Baca juga: Regenerasi Petani di Banyumas: Tantangan dan Solusi untuk Masa Depan

“Regenerasi petani adalah isu lintas generasi dan lintas sektor. Keterlibatan anak muda dalam sektor pertanian, peternakan, dan perikanan perlu didorong melalui pendekatan kewirausahaan dan kepemimpinan yang inovatif. Hal ini sejalan dengan agenda pembangunan nasional dan upaya untuk mengejar pertumbuhan ekonomi inklusif,” ujar Asisten Deputi Pengembangan Kepemudaan Global Kemenpora RI Esa Sukmawijaya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (23/12/2025).

Sebagai bagian dari pendekatan praktik, program Petani Keren juga mengembangkan model pertanian cerdas, semi-intensif, dan permakultur di Jakarta dan Lampung sebagai ruang belajar langsung bagi anak muda dalam memahami sistem pertanian inovatif dan berkelanjutan.

Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menyatakan program tersebut bertujuan memperluas peluang kerja bagi generasi muda sekaligus mengubah persepsi tentang citra petani.

“Pendekatan pertanian modern dan berkelanjutan memungkinkan anak muda melihat sektor ini sebagai bidang usaha yang dinamis,” katanya.

Baca juga: Mengintip Regenerasi Petani Kopi Desa Cikoneng

Sebagai informasi, kegiatan tersebut diselenggarakan dengan dukungan Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) dan Perkumpulan Warga Muda, serta dirancang sebagai ruang dialog kebijakan dan kolaborasi lintas sektor.

Farmers’ Regeneration Summit juga melibatkan pemuda dari Indonesia Timur, kelompok difabel, serta komunitas hobi, sebagai upaya memastikan pendekatan regenerasi petani yang inklusif.

Direktur Eksekutif Perkumpulan Warga Muda, I Putu Arya Aditia, menilai isu regenerasi petani perlu hadir di ruang-ruang anak muda yang lebih beragam agar pertanian dipahami sebagai isu bersama.

“Regenerasi petani tidak cukup dibahas di ruang kebijakan formal. Isu ini perlu hadir di komunitas hobi, ruang kreatif, kelompok seniman serta kelompok yang selama ini jarang dilibatkan, termasuk pemuda dari Indonesia Timur dan difabel, agar pertanian dipahami sebagai isu bersama dan relevan dengan kehidupan dan tren kebudayaan pop hari ini,” ujarnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau