Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Era Trump, AS Hapus Referensi dan Sensor Data Krisis Iklim

Kompas.com, 31 Januari 2026, 14:10 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) menghapus referensi tentang krisis iklim dan keadilan lingkungan, khususnya selama tahun pertama masa jabatan kedua Donald Trump sebagai presiden.

AS bahkan melakukan sensor secara permanen bukti dan memblokir akses ke data yang bertentangan dengan agenda presidennya itu.

Baca juga:

“Ada persepsi bahwa sains yang tidak sejalan dengan agenda akan dibungkam dan temuan yang sering disalahartikan atau terbukti salah akan dipublikasikan untuk mendukung agenda tersebut,” kata Jonathan Gilmour yang bekerja dengan koalisi Public Environmental Data Partners, dikutip dari Thomson Reuters Foundation via Eco-Business, Sabtu (31/1/2026).

Presiden AS Donal Trump menghapus referensi krisis iklim

Trump sebut krisis iklim sebagai "tipuan"

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara di dalam pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos pada 21 Januari 2026. Amerika Serikat pada era Donald Trump menghapus referensi krisis iklim dan membatasi akses data lingkungan. Ilmuwan khawatir sains dibungkam.AFP/MANDEL NGAN Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara di dalam pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos pada 21 Januari 2026. Amerika Serikat pada era Donald Trump menghapus referensi krisis iklim dan membatasi akses data lingkungan. Ilmuwan khawatir sains dibungkam.

Sebagai informasi, yang dimaksud agenda dari Trump ialah penyangkalannya terhadap krisis iklim akibat emisi gas rumah kaca (GRK).

Trump menyebut krisis iklim sebagai "tipuan" dan pemerintahannya berupaya "menghidupkan" kembali energi fosil sebagai salah satu penyumbang tertinggi emisi GRK.

Upaya tersebut, antara lain dengan mengaktifkan kembali pembangkit listrik tenaga batu bara yang ditutup, meningkatkan produksi minyak dan gas alam, serta menghapus insentif pajak untuk sumber energi terbarukan.

“Mengaburkan apa yang terjadi baik di dalam maupun di luar pemerintahan dan mencoba membungkam para ilmuwan serta menghentikan aliran data yang memberi tahu kita tentang dunia, kesehatan masyarakat, dan lingkungan di sekitar kita, merusak seluruh premis demokrasi,” ujar Gilmour.

EPA hapus referensi krisis iklim disebabkan aktivitas manusia

Badan federal yang bertugas melindungi kesehatan manusia dan lingkungan (EPA) disebut sudah diam-diam menghapus referensi tentang krisis iklim yang disebabkan oleh ulah manusia.

EPA juga menghapus menghapus sekitar 80 halaman dari situs webnya, yang sebagian besar berkaitan dengan penyebab dan dampak krisis iklim.

“Jadi, misalnya, di halaman EPA tentang penyebab perubahan iklim, halaman tersebut masih ada, tapi informasi tentang bagaimana perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia tidak dapat dijelaskan oleh peristiwa alam telah dihapus dan semua informasi yang tersisa membahas tentang alasan alami untuk variasi iklim Bumi,” tutur Izzy Pacenza dari Environmental Data & Governance Initiative.

Referensi tentang "variabilitas iklim alami" atau "variabilitas alami" yang ditulis sejumlah ilmuwan yang tidak setuju dengan bahaya pemanasan global justru sering muncul dalam laporan Departemen Energi di negara tersebut.

Bahkan, seorang juru bicara EPA mengakui bahwa lembaganya sudah tidak lagi menerima perintah dari "kelompok fanatik iklim".

“Di EPA era Trump, kami menjunjung tinggi standar sains terbaik, transparansi total, dan komitmen untuk memenuhi kewajiban hukum kami. Versi situs web sebelumnya yang tidak memenuhi standar tersebut diarsipkan dan tersedia untuk umum," ucap juru bicara tersebut.

Baca juga:

AS juga menghentikan penambahan informasi baru ke dalam basis data bencana alam yang total kerugiannya mencapai satu miliar dollar (sekitar Rp 16.773,5 triliun) atau lebih.

Pacenza mengatakan, penghapusan fakta secara terarah akan menyebabkan hilangnya kepercayaan terhadap dampak krisis iklim.

Gilmour dan tempat Pacenza bekerja merupakan bagian dari Public Environmental Data Partners, koalisi organisasi yang berupaya melestarikan beberapa data terkait iklim yang dibatasi oleh pemerintah.

“Krisis ini telah memaksa masyarakat untuk bergerak dengan cara yang mungkin tidak akan terjadi sebelumnya," tutur Gilmour.

Meski jumlah pasti kumpulan data lengkap yang hilang mungkin relatif kecil, Gilmour khawatir pemutusan hubungan kerja menimbulkan kerusakan besar.

Banyak pakar iklim yang kehilangan pekerjaan (PHK) karena pemerintah memangkas tenaga kerja federal tidak digantikan. Basis pengetahuan mereka pun hilang.

“Yang kita lihat adalah infrastruktur sumber daya manusia di balik kumpulan data tersebut… sedang dipangkas, dialihkan, dan diintimidasi. Hal itu memiliki dampak berantai yang bahkan belum kita pahami. Ada begitu banyak pekerjaan baik yang tidak akan selesai karena seluruh kantor sekarang menjadi kosong," jelas dia. 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
Pemerintah
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Pemerintah
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau