Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim

Kompas.com, 7 Februari 2026, 12:44 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Penelitian terbaru mengaitkan efek perubahan iklim dengan meningkatnya kasus gigitan hiu pada manusia.

Dalam unggahan di blog pribadinya, peneliti Nottingham Trent University, Nicholas Ray menyoroti bahwa selama ini pemberitaan di media hanya menarasikan serangan hiu akibat faktor tunggal. Padahal setiap spesies hiu memiliki perilaku dan habitat yang berbeda.

“Gigitan hiu adalah hasil dari interaksi kompleks antara perubahan iklim, dinamika ekosistem, dan perilaku manusia," kata Ray dilansir dari Euro News, Jumat (6/2/2026).

Baca juga: Perubahan Iklim Picu Hilangnya Spesies Pohon Terpenting di Hutan Dunia

Ray juga membantah mitos bahwa hiu dengan sengaja memburu manusia, sebab hewan ini mengandalkan indra seperti elektroresepsi dan getaran bukan penglihatan.

"Jika kita terus menganggap setiap gigitan hiu sebagai bukti bahwa hiu menyerang kita, kita gagal mengajukan pertanyaan yang lebih bermakna yakni kondisi lingkungan seperti apa yang ada, bagaimana kita telah mengubah sistem pesisir, dan bagaimana kita dapat mengurangi risiko tanpa menstigmatisasi satwa liar," imbuh dia.

Dia menjelaskan, analisis data gigitan hiu yang terjadi baru-baru ini menemukan banyak insiden terjadi di dekat pantai khususnya di dekat muara dan di sekitar pelabuhan Sydney, Australia setelah hujan lebat.

Setiap suhu naik 1 derajat celsius, atmosfer dapat menampung sekitar 7 persen lebih banyak uap air yang dapat menyebabkan curah hujan lebih deras dan intensif.

Ray menyampaikan, kondisi itu meningkatkan kemungkinan terjadinya banjir, yang berdampak pada salinitas, suhu, hingga jarak pandang di pesisir.

Menurut studi di Australia bagian timur, hiu banteng yang dilaporkan banyak menyerang manusia pada bulan lalu tertarik pada sistem perairan yang tergenang air karena mangsanya berpindah tempat.

Baca juga: Krisis Iklim Ubah Siklus Hidup N2O, Jadi Lebih Cepat Terurai di Atmosfer

Limpasan perkotaan, perubahan sistem sungai, luapan limbah, dan aktivitas penangkapan ikan semuanya memengaruhi tempat berkumpulnya spesies seperti hiu banteng untuk mengejar mangsanya.

“Penelitian yang dilakukan di Australia bagian timur telah mendokumentasikan hiu banteng menghabiskan waktu yang lama di tempat-tempat seperti Pelabuhan Sydney selama bulan-bulan yang lebih hangat, bertepatan dengan kenaikan suhu air dan peningkatan aliran air tawar," jelas Ray.

Reaksi Serupa 

Studi menunjukkan, hiu putih juga merespons perubahan iklim. Pergerakan mereka, kata peneliti, erat kaitannya dengan tempat berkumpulnya mangsa serta kondisi perubahan suhu laut.

Adapun serangkaian insiden serangan hiu terjadi di beberapa wilayah pantai Australia pada pertengahan Januari dan menimbulkan kekhawatiran publik.

Seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun meninggal dunia usai terluka akibat serangan hiu ketika berenang di Pelabuhan Sydney pada 18 Januari 2026. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong.

Keesokan harinya, papan selancar seorang anak berusia 11 tahun hancur akibat serangan hiu di Pantai Dee Why. Beberapa jam kemudian, seorang pria juga diserang di wilayah Manly yang berdekatan lokasi itu.

Pada 20 Januari, seorang peselancar dilaporkan mengalami luka di bagian dada setelah diserang hiu di lokasi pantai sekitar 300 kilometer dari kawasan tersebut.

Sementara itu korban lain bernama Mauricio Hoyos diserang hiu galapagos betina pada tengkoraknya.

Baca juga: 2 Nelayan Perempuan Asal Maluku dan Papua Gerakkan Ekonomi Keluarga Pesisir

Hewan sepanjang lebih dari tiga meter itu menerjang dengan kecepatan luar biasa, hampir tidak memberinya waktu menundukkan kepala, demi melindungi pembuluh darah di leher yang mengalirkan darah dari kepala ke jantung.

Rangkaian kejadian ini memicu meningkatnya seruan dari sebagian masyarakat untuk membasmi hiu. Namun, para ilmuwan mengingatkan agar publik tidak terjebak pada ketakutan berlebihan dan mitos tentang satwa dilindungi ini.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau