KOMPAS.com - Penelitian terbaru mengaitkan efek perubahan iklim dengan meningkatnya kasus gigitan hiu pada manusia.
Dalam unggahan di blog pribadinya, peneliti Nottingham Trent University, Nicholas Ray menyoroti bahwa selama ini pemberitaan di media hanya menarasikan serangan hiu akibat faktor tunggal. Padahal setiap spesies hiu memiliki perilaku dan habitat yang berbeda.
“Gigitan hiu adalah hasil dari interaksi kompleks antara perubahan iklim, dinamika ekosistem, dan perilaku manusia," kata Ray dilansir dari Euro News, Jumat (6/2/2026).
Baca juga: Perubahan Iklim Picu Hilangnya Spesies Pohon Terpenting di Hutan Dunia
Ray juga membantah mitos bahwa hiu dengan sengaja memburu manusia, sebab hewan ini mengandalkan indra seperti elektroresepsi dan getaran bukan penglihatan.
"Jika kita terus menganggap setiap gigitan hiu sebagai bukti bahwa hiu menyerang kita, kita gagal mengajukan pertanyaan yang lebih bermakna yakni kondisi lingkungan seperti apa yang ada, bagaimana kita telah mengubah sistem pesisir, dan bagaimana kita dapat mengurangi risiko tanpa menstigmatisasi satwa liar," imbuh dia.
Dia menjelaskan, analisis data gigitan hiu yang terjadi baru-baru ini menemukan banyak insiden terjadi di dekat pantai khususnya di dekat muara dan di sekitar pelabuhan Sydney, Australia setelah hujan lebat.
Setiap suhu naik 1 derajat celsius, atmosfer dapat menampung sekitar 7 persen lebih banyak uap air yang dapat menyebabkan curah hujan lebih deras dan intensif.
Ray menyampaikan, kondisi itu meningkatkan kemungkinan terjadinya banjir, yang berdampak pada salinitas, suhu, hingga jarak pandang di pesisir.
Menurut studi di Australia bagian timur, hiu banteng yang dilaporkan banyak menyerang manusia pada bulan lalu tertarik pada sistem perairan yang tergenang air karena mangsanya berpindah tempat.
Baca juga: Krisis Iklim Ubah Siklus Hidup N2O, Jadi Lebih Cepat Terurai di Atmosfer
Limpasan perkotaan, perubahan sistem sungai, luapan limbah, dan aktivitas penangkapan ikan semuanya memengaruhi tempat berkumpulnya spesies seperti hiu banteng untuk mengejar mangsanya.
“Penelitian yang dilakukan di Australia bagian timur telah mendokumentasikan hiu banteng menghabiskan waktu yang lama di tempat-tempat seperti Pelabuhan Sydney selama bulan-bulan yang lebih hangat, bertepatan dengan kenaikan suhu air dan peningkatan aliran air tawar," jelas Ray.
Studi menunjukkan, hiu putih juga merespons perubahan iklim. Pergerakan mereka, kata peneliti, erat kaitannya dengan tempat berkumpulnya mangsa serta kondisi perubahan suhu laut.
Adapun serangkaian insiden serangan hiu terjadi di beberapa wilayah pantai Australia pada pertengahan Januari dan menimbulkan kekhawatiran publik.
Seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun meninggal dunia usai terluka akibat serangan hiu ketika berenang di Pelabuhan Sydney pada 18 Januari 2026. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong.
Keesokan harinya, papan selancar seorang anak berusia 11 tahun hancur akibat serangan hiu di Pantai Dee Why. Beberapa jam kemudian, seorang pria juga diserang di wilayah Manly yang berdekatan lokasi itu.
Pada 20 Januari, seorang peselancar dilaporkan mengalami luka di bagian dada setelah diserang hiu di lokasi pantai sekitar 300 kilometer dari kawasan tersebut.
Sementara itu korban lain bernama Mauricio Hoyos diserang hiu galapagos betina pada tengkoraknya.
Baca juga: 2 Nelayan Perempuan Asal Maluku dan Papua Gerakkan Ekonomi Keluarga Pesisir
Hewan sepanjang lebih dari tiga meter itu menerjang dengan kecepatan luar biasa, hampir tidak memberinya waktu menundukkan kepala, demi melindungi pembuluh darah di leher yang mengalirkan darah dari kepala ke jantung.
Rangkaian kejadian ini memicu meningkatnya seruan dari sebagian masyarakat untuk membasmi hiu. Namun, para ilmuwan mengingatkan agar publik tidak terjebak pada ketakutan berlebihan dan mitos tentang satwa dilindungi ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya