Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kenapa Gen Z Makin Sulit Cari Kerja Setelah Lulus?

Kompas.com, 24 Februari 2026, 12:22 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Generasi Z atau gen Z makin sulit mendapatkan pekerjaan, bahkan setelah lulus pendidikan tertinggi. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2025, penduduk yang berusia 20-25 tahun rata-rata baru memerlukan waktu sembilan hingga 13 bulan untuk memasuki dunia kerja.

Sementara penduduk berusia 26-29 tahun harus menunggu 11 sampai 16 bulan untuk bisa bekerja.

Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios), M Bakhrul Fikri menyebut, kendati pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai 5,11 persen, kondisi tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh angkatan kerja muda.

Baca juga: Generasi Sandwich Mudah Burnout akibat Beban Ekonomi dan Tekanan Kerja

"Yang paling kentara sebetulnya terjadi ketidaksesuaian antara ekonomi yang dibilang lebih dari target. Tetapi di sisi sectorialnya itu nggak betul-betul terjadi pertumbuhannya, karena masih banyak anak muda yang susah cari kerja," ungkap Fikri saat dihubungi, Selasa (24/2/2026).

Penyebab lainnya, pembangunan industri disebut lebih berfokus pada sektor padat modal seperti pengolahan mineral dan pertambangan nikel, tembaga, serta bauksit. Fikri menyampaikan bahwa sektor itu membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan tinggi.

Akan tetapi, jumlahnya justru terbatas dan tidak sebanding dengan lonjakan lulusan baru sehingga menyebabkan daya serap angkatan kerja muda cenderung rendah.

"Jadi lulusan pendidikan tertinggi sekarang peningkatannya melebihi lapangan pekerjaan yang dibuat sama pemerintah. Yang di-create pemerintah, lapangan pekerjaan yang tidak mampu menyerap pertumbuhan yang semakin cepat dari lulusan-lulusan pendidikan tertinggi ini," jelas dia.

Fikri turut menyoroti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) lantaran dianggap belum efektif menyerap tenaga kerja dari lulusan baru. Pasalnya, banyak mahasiswa yang tidak sesuai kebutuhan perusahaan.

Baca juga: Sektor Jasa Meningkat Namun Lapangan Kerja Layak Jauh dari Harapan

Di sisi lain, perusahaan masih harus menanggung biaya tambahan untuk pelatihan pegawai baru. Walhasil, mereka enggan merekrut lulusan tanpa pengalaman kerja yang sesuai.

"Ketika mahasiswa magang, perusahaan tempat mereka magang ternyata mungkin tidak bisa menjawab preferensi yang diinginkan oleh generasi angkatan kerja muda hari ini. Itu yang jadi masalah akhirnya mau tidak mau ketika mereka sudah punya pengalaman magang, pendidikannya tinggi tetapi lowongan kerja justru enggak ada," papar Fikri.

Pilih Jadi Pekerja Informal

Sulitnya mencari kerja sektor formal memicu banyak gen Z beralih ke pekerjaan informal. Menurut data Sakernas BPS November 2025, sebanyak 38,81 persen pekerja di Indonesia berstatus sebagai buruh, karyawan, atau pegawai. Sedangkan 57,7 persen lainnya berstatus pekerja informal.

Gen Z juga lebih selektif dalam memilih pekerjaan lantaran tidak adanya kepastian kerja. Sektor informal dianggap paling bisa menjawab kebutuhan generasi muda saat ini.

"Yang paling penting lagi faktornya adalah banyak sekali kebijakan yang justru bertolak belakang dari penciptaan lapangan kerja. Komposisi dari pekerja formal dan informal semakin timpang, pekerja informal semakin mendominasi, pekerja laki-laki menyusut," beber Fikri.

Celios lantas mendorong agar pemerintah menyetop kebijakan yang tidak pro penciptaan lapangan kerja, memperkuat sektor pendidikan dan kesehatan, hingga memberikan insentif bagi industri inovatif yang padat karya. 

Selain itu, Fikri menilai bahwa transisi ekonomi hijau sangat penting untuk membuka peluang kerja berkelanjutan bagi generasi muda.

Green jobs menawarkan kepastian kerja dan masa depan. Ini penting, apalagi dengan kebijakan Uni Eropa yang mulai menerapkan tarif karbon terhadap produk berjejak emisi tinggi,” ucap dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
Pemerintah
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Pemerintah
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau