JAKARTA, KOMPAS.com - Generasi Z atau gen Z makin sulit mendapatkan pekerjaan, bahkan setelah lulus pendidikan tertinggi. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2025, penduduk yang berusia 20-25 tahun rata-rata baru memerlukan waktu sembilan hingga 13 bulan untuk memasuki dunia kerja.
Sementara penduduk berusia 26-29 tahun harus menunggu 11 sampai 16 bulan untuk bisa bekerja.
Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios), M Bakhrul Fikri menyebut, kendati pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai 5,11 persen, kondisi tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh angkatan kerja muda.
Baca juga: Generasi Sandwich Mudah Burnout akibat Beban Ekonomi dan Tekanan Kerja
"Yang paling kentara sebetulnya terjadi ketidaksesuaian antara ekonomi yang dibilang lebih dari target. Tetapi di sisi sectorialnya itu nggak betul-betul terjadi pertumbuhannya, karena masih banyak anak muda yang susah cari kerja," ungkap Fikri saat dihubungi, Selasa (24/2/2026).
Penyebab lainnya, pembangunan industri disebut lebih berfokus pada sektor padat modal seperti pengolahan mineral dan pertambangan nikel, tembaga, serta bauksit. Fikri menyampaikan bahwa sektor itu membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan tinggi.
Akan tetapi, jumlahnya justru terbatas dan tidak sebanding dengan lonjakan lulusan baru sehingga menyebabkan daya serap angkatan kerja muda cenderung rendah.
"Jadi lulusan pendidikan tertinggi sekarang peningkatannya melebihi lapangan pekerjaan yang dibuat sama pemerintah. Yang di-create pemerintah, lapangan pekerjaan yang tidak mampu menyerap pertumbuhan yang semakin cepat dari lulusan-lulusan pendidikan tertinggi ini," jelas dia.
Fikri turut menyoroti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) lantaran dianggap belum efektif menyerap tenaga kerja dari lulusan baru. Pasalnya, banyak mahasiswa yang tidak sesuai kebutuhan perusahaan.
Baca juga: Sektor Jasa Meningkat Namun Lapangan Kerja Layak Jauh dari Harapan
Di sisi lain, perusahaan masih harus menanggung biaya tambahan untuk pelatihan pegawai baru. Walhasil, mereka enggan merekrut lulusan tanpa pengalaman kerja yang sesuai.
"Ketika mahasiswa magang, perusahaan tempat mereka magang ternyata mungkin tidak bisa menjawab preferensi yang diinginkan oleh generasi angkatan kerja muda hari ini. Itu yang jadi masalah akhirnya mau tidak mau ketika mereka sudah punya pengalaman magang, pendidikannya tinggi tetapi lowongan kerja justru enggak ada," papar Fikri.
Sulitnya mencari kerja sektor formal memicu banyak gen Z beralih ke pekerjaan informal. Menurut data Sakernas BPS November 2025, sebanyak 38,81 persen pekerja di Indonesia berstatus sebagai buruh, karyawan, atau pegawai. Sedangkan 57,7 persen lainnya berstatus pekerja informal.
Gen Z juga lebih selektif dalam memilih pekerjaan lantaran tidak adanya kepastian kerja. Sektor informal dianggap paling bisa menjawab kebutuhan generasi muda saat ini.
"Yang paling penting lagi faktornya adalah banyak sekali kebijakan yang justru bertolak belakang dari penciptaan lapangan kerja. Komposisi dari pekerja formal dan informal semakin timpang, pekerja informal semakin mendominasi, pekerja laki-laki menyusut," beber Fikri.
Celios lantas mendorong agar pemerintah menyetop kebijakan yang tidak pro penciptaan lapangan kerja, memperkuat sektor pendidikan dan kesehatan, hingga memberikan insentif bagi industri inovatif yang padat karya.
Selain itu, Fikri menilai bahwa transisi ekonomi hijau sangat penting untuk membuka peluang kerja berkelanjutan bagi generasi muda.
“Green jobs menawarkan kepastian kerja dan masa depan. Ini penting, apalagi dengan kebijakan Uni Eropa yang mulai menerapkan tarif karbon terhadap produk berjejak emisi tinggi,” ucap dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya