Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan

Kompas.com, 6 Maret 2026, 20:17 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Sebuah studi terbaru mempertanyakan hubungan PFAS atau per- dan polyfluoroalkyl substances, yang juga dikenal sebagai bahan kimia abadi, terhadap penuaan.

PFAS sebenarnya membuat barang yang dipakai sehari-hari menjadi lebih kuat, tahan air, dan tahan panas. Contohnya wajan anti lengket, karpet tahan noda, dan wadah makanan.

Baca juga:

Adapun bahan kimia yang bisa tidak terurai hingga ratusan tahun ini juga berisiko bagi kesehatan karena berhubungan dengan beberapa jenis kanker, obesitas, infertilitas, dan perubahan hormon, bila masuk tubuh manusia. 

Risiko kesehatan tersebut membuat para pemimpin global mengambil tindakan. Pada tahun 2001, Konvensi Stockholm menargetkan bahan kimia PFAS jenis lama seperti PFOS dan PFOA untuk dihentikan penggunaannya, dilansir dari Earth.com, Jumat (6/3/2026).

Namun, perusahaan kemudian memperkenalkan PFAS yang lebih baru sebagai pengganti. Banyak orang sekarang bertanya apakah versi yang lebih baru ini benar-benar lebih aman. 

Bahan kimia abadi PFAS bisa percepat penuaan?

Diterbitkan di jurnal Frontiers in Aging, penelitian tersebut dipimpin oleh Dr. Xiangwei Li dan rekan-rekannya di Sekolah Kedokteran Universitas Shanghai Jiao Tong (SJTUSM) di China.

Tim tersebut menggunakan data dari 326 orang dewasa yang bergabung dalam Survei Kesehatan dan Gizi Nasional AS antara tahun 1999 dan 2000.

Setiap peserta memberikan sampel darah. Para ilmuwan menguji sampel tersebut untuk 11 bahan kimia PFAS yang berbeda.

Ketika para peneliti membandingkan kadar PFAS dengan penanda penuaan biologis, dua bahan kimia menonjol.

Asam perfluorononanoat (PFNA) dan erfluorooktanasulfonamida (PFOSA) yang merupakan bagian dari keluarga PFAS ditemukan pada 95 persen peserta penelitian.

Kadar yang lebih tinggi dari kedua bahan kimia ini dikaitkan dengan proses penuaan biologis yang lebih cepat.

Dampak paling nyata terlihat pada pria berusia 50 hingga 64 tahun. Sementara itu, pada perempuan, pola yang sama tidak terlihat sejelas itu.

Baca juga: Bahan Kimia Abadi PFOA Bisa Sebabkan Gangguan Kehamilan

Risiko dari bahan kimia abadi

Sebuah studi terbaru mempertanyakan hubungan PFAS, yang juga dikenal sebagai bahan kimia abadi, terhadap penuaan.Shutterstock/Twinsterphoto Sebuah studi terbaru mempertanyakan hubungan PFAS, yang juga dikenal sebagai bahan kimia abadi, terhadap penuaan.

Berdasarkan temuan ini, para peneliti mengeluarkan peringatan yang jelas tentang potensi risiko yang ditimbulkan oleh senyawa tersebut.

“Di sini kami menunjukkan bahwa bahan kimia abadi tertentu, yaitu asam perfluorononanoat (PFNA) dan perfluorooktanasulfonamida (PFOSA), tampaknya mempercepat penuaan biologis, dengan pria paruh baya menjadi kelompok yang paling rentan,” kata Li.

Temuan ini menunjukkan bahwa beberapa alternatif PFAS yang lebih baru belum tentu merupakan pengganti berisiko rendah dan memerlukan perhatian serius terkait dampak lingkungannya.

Akan tetapi, secara keseluruhan, kadar PFAS tampak serupa pada laki-laki dan perempuan.

Hasil ini menunjukkan bahwa jenis bahan kimia tertentu lebih penting daripada jumlah total dalam darah.

Peneliti juga meneliti mengapa usia paruh baya menunjukkan efek yang lebih kuat. Menurut mereka, usia paruh baya merupakan periode sensitif ketika tubuh menjadi lebih rentan terhadap stres dan kerusakan.

“Usia paruh baya adalah jendela biologis yang sensitif di mana tubuh menjadi lebih rentan terhadap stresor terkait usia, yang mungkin menjelaskan mengapa kelompok ini merespons lebih kuat terhadap paparan bahan kimia,” jelas Dr. Ya-Qian Xu, penulis pertama studi tersebut.

Peneliti menambahkan pria mungkin berisiko lebih tinggi karena dapat dipengaruhi pula dari faktor gaya hidup mereka seperti merokok.

Baca juga: Rencana Inggris Atasi Zat Kimia Abadi PFAS yang Tahan Ratusan Tahun

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
Pemerintah
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Pemerintah
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau