KOMPAS.com - Sebuah studi terbaru mempertanyakan hubungan PFAS atau per- dan polyfluoroalkyl substances, yang juga dikenal sebagai bahan kimia abadi, terhadap penuaan.
PFAS sebenarnya membuat barang yang dipakai sehari-hari menjadi lebih kuat, tahan air, dan tahan panas. Contohnya wajan anti lengket, karpet tahan noda, dan wadah makanan.
Baca juga:
Adapun bahan kimia yang bisa tidak terurai hingga ratusan tahun ini juga berisiko bagi kesehatan karena berhubungan dengan beberapa jenis kanker, obesitas, infertilitas, dan perubahan hormon, bila masuk tubuh manusia.
Risiko kesehatan tersebut membuat para pemimpin global mengambil tindakan. Pada tahun 2001, Konvensi Stockholm menargetkan bahan kimia PFAS jenis lama seperti PFOS dan PFOA untuk dihentikan penggunaannya, dilansir dari Earth.com, Jumat (6/3/2026).
Namun, perusahaan kemudian memperkenalkan PFAS yang lebih baru sebagai pengganti. Banyak orang sekarang bertanya apakah versi yang lebih baru ini benar-benar lebih aman.
Diterbitkan di jurnal Frontiers in Aging, penelitian tersebut dipimpin oleh Dr. Xiangwei Li dan rekan-rekannya di Sekolah Kedokteran Universitas Shanghai Jiao Tong (SJTUSM) di China.
Tim tersebut menggunakan data dari 326 orang dewasa yang bergabung dalam Survei Kesehatan dan Gizi Nasional AS antara tahun 1999 dan 2000.
Setiap peserta memberikan sampel darah. Para ilmuwan menguji sampel tersebut untuk 11 bahan kimia PFAS yang berbeda.
Ketika para peneliti membandingkan kadar PFAS dengan penanda penuaan biologis, dua bahan kimia menonjol.
Asam perfluorononanoat (PFNA) dan erfluorooktanasulfonamida (PFOSA) yang merupakan bagian dari keluarga PFAS ditemukan pada 95 persen peserta penelitian.
Kadar yang lebih tinggi dari kedua bahan kimia ini dikaitkan dengan proses penuaan biologis yang lebih cepat.
Dampak paling nyata terlihat pada pria berusia 50 hingga 64 tahun. Sementara itu, pada perempuan, pola yang sama tidak terlihat sejelas itu.
Baca juga: Bahan Kimia Abadi PFOA Bisa Sebabkan Gangguan Kehamilan
Sebuah studi terbaru mempertanyakan hubungan PFAS, yang juga dikenal sebagai bahan kimia abadi, terhadap penuaan.Berdasarkan temuan ini, para peneliti mengeluarkan peringatan yang jelas tentang potensi risiko yang ditimbulkan oleh senyawa tersebut.
“Di sini kami menunjukkan bahwa bahan kimia abadi tertentu, yaitu asam perfluorononanoat (PFNA) dan perfluorooktanasulfonamida (PFOSA), tampaknya mempercepat penuaan biologis, dengan pria paruh baya menjadi kelompok yang paling rentan,” kata Li.
Temuan ini menunjukkan bahwa beberapa alternatif PFAS yang lebih baru belum tentu merupakan pengganti berisiko rendah dan memerlukan perhatian serius terkait dampak lingkungannya.
Akan tetapi, secara keseluruhan, kadar PFAS tampak serupa pada laki-laki dan perempuan.
Hasil ini menunjukkan bahwa jenis bahan kimia tertentu lebih penting daripada jumlah total dalam darah.
Peneliti juga meneliti mengapa usia paruh baya menunjukkan efek yang lebih kuat. Menurut mereka, usia paruh baya merupakan periode sensitif ketika tubuh menjadi lebih rentan terhadap stres dan kerusakan.
“Usia paruh baya adalah jendela biologis yang sensitif di mana tubuh menjadi lebih rentan terhadap stresor terkait usia, yang mungkin menjelaskan mengapa kelompok ini merespons lebih kuat terhadap paparan bahan kimia,” jelas Dr. Ya-Qian Xu, penulis pertama studi tersebut.
Peneliti menambahkan pria mungkin berisiko lebih tinggi karena dapat dipengaruhi pula dari faktor gaya hidup mereka seperti merokok.
Baca juga: Rencana Inggris Atasi Zat Kimia Abadi PFAS yang Tahan Ratusan Tahun
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya