KOMPAS.com - Lebih dari 100 miliar sarung tangan karet nitril dihasilkan tiap tahunnya di dunia. Sarung tangan ini terbuat dari polimer sintetis, bahan yang secara kimiawi serupa dengan plastik dan berasal dari minyak mentah.
Masalah muncul karena sarung tangan yang sebagian besar digunakan untuk keperluan medis ini, hampir semuanya dibuang setelah satu kali pakai.
Hal ini tentu menciptakan tumpukan limbah material yang sangat besar secara global.
Baca juga:
Limbah sarung tangan karet nitril kini bisa didaur ulang menjadi material penangkap emisi karbon di pembangkit listrik. Kabar baiknya, Simon Kildahl, seorang peneliti post-doctoral di Departemen Kimia Universitas Aarhus di Denmark saat ini selangkah lebih dekat untuk menemukan cara mendaur ulang sarung tangan tersebut.
Dalam studi baru yang dipublikasikan di jurnal Chem, ia dan rekan-rekannya menunjukkan bagaimana mereka dapat mengubah limbah karet menjadi penyerap karbon dioksida (CO2) di laboratorium.
Ia menjelaskan bahwa potensi teknologi ini sangatlah besar bagi lingkungan kita.
"Botol plastik dapat didaur ulang dengan relatif mudah. Namun, bahan plastik lainnya bermasalah karena tidak dapat digunakan kembali dengan cara yang sama. Oleh karena itu, bahan-bahan tersebut sering kali berakhir dibakar, seperti hal yang terjadi pada sarung tangan karet," kata Kildahl dikutip dari Phys.org, Jumat (27/2/2026).
Kildahl menerangkan bahwa dalam eksperimennya, peneliti mengubah sarung tangan sehingga dapat menangkap CO2, alih-alih menjadi produk limbah yang melepaskan CO2 dan gas berbahaya lainnya selama pembakaran.
Secara khusus, peneliti mencacah sarung tangan karet itu menjadi potongan-potongan kecil.
Kemudian, potongan tersebut direaksikan dengan katalis berbasis ruthenium dan gas hidrogen. Hasilnya, bahan ini mampu menyerap CO2 dari simulasi gas buang.
"Dalam penerapannya di dunia nyata, proses ini berpotensi dilakukan di pembangkit listrik," jelas Kildahl.
Begitu dipanaskan, produk karet tersebut melepaskan kembali CO2 yang telah diserapnya. Gas CO2 ini kemudian bisa dikirim untuk disimpan di bawah tanah atau diolah menjadi bahan bakar lain.
Sementara itu, material karetnya pun menjadi "segar" kembali dan siap digunakan lagi untuk menangkap CO2 yang baru.
Metode ini benar-benar baru. Meskipun material untuk penangkapan CO2 sudah ada, pendekatan Kildahl menonjol karena menggunakan material limbah yang seharusnya dibakar atau dibuang ke tempat pembuangan sampah.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya