Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet

Kompas.com, 6 Maret 2026, 16:14 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Lebih dari 100 miliar sarung tangan karet nitril dihasilkan tiap tahunnya di dunia. Sarung tangan ini terbuat dari polimer sintetis, bahan yang secara kimiawi serupa dengan plastik dan berasal dari minyak mentah.

Masalah muncul karena sarung tangan yang sebagian besar digunakan untuk keperluan medis ini, hampir semuanya dibuang setelah satu kali pakai.

Hal ini tentu menciptakan tumpukan limbah material yang sangat besar secara global.

Baca juga:

Mengolah limbah sarung tangan karet 

Daur ulang sarung tangan karet

Limbah sarung tangan karet nitril kini bisa didaur ulang menjadi material penangkap emisi karbon di pembangkit listrik. FREEPIK/FREEPIK Limbah sarung tangan karet nitril kini bisa didaur ulang menjadi material penangkap emisi karbon di pembangkit listrik.

Kabar baiknya, Simon Kildahl, seorang peneliti post-doctoral di Departemen Kimia Universitas Aarhus di Denmark saat ini selangkah lebih dekat untuk menemukan cara mendaur ulang sarung tangan tersebut.

Dalam studi baru yang dipublikasikan di jurnal Chem, ia dan rekan-rekannya menunjukkan bagaimana mereka dapat mengubah limbah karet menjadi penyerap karbon dioksida (CO2) di laboratorium.

Ia menjelaskan bahwa potensi teknologi ini sangatlah besar bagi lingkungan kita.

"Botol plastik dapat didaur ulang dengan relatif mudah. Namun, bahan plastik lainnya bermasalah karena tidak dapat digunakan kembali dengan cara yang sama. Oleh karena itu, bahan-bahan tersebut sering kali berakhir dibakar, seperti hal yang terjadi pada sarung tangan karet," kata Kildahl dikutip dari Phys.org, Jumat (27/2/2026).

Kildahl menerangkan bahwa dalam eksperimennya, peneliti mengubah sarung tangan sehingga dapat menangkap CO2, alih-alih menjadi produk limbah yang melepaskan CO2 dan gas berbahaya lainnya selama pembakaran.

Secara khusus, peneliti mencacah sarung tangan karet itu menjadi potongan-potongan kecil.

Kemudian, potongan tersebut direaksikan dengan katalis berbasis ruthenium dan gas hidrogen. Hasilnya, bahan ini mampu menyerap CO2 dari simulasi gas buang.

"Dalam penerapannya di dunia nyata, proses ini berpotensi dilakukan di pembangkit listrik," jelas Kildahl.

Begitu dipanaskan, produk karet tersebut melepaskan kembali CO2 yang telah diserapnya. Gas CO2 ini kemudian bisa dikirim untuk disimpan di bawah tanah atau diolah menjadi bahan bakar lain.

Sementara itu, material karetnya pun menjadi "segar" kembali dan siap digunakan lagi untuk menangkap CO2 yang baru.

Metode ini benar-benar baru. Meskipun material untuk penangkapan CO2 sudah ada, pendekatan Kildahl menonjol karena menggunakan material limbah yang seharusnya dibakar atau dibuang ke tempat pembuangan sampah.

Baca juga: 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
BUMN
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau