Eksperimen ini membawa manusia selangkah lebih dekat ke alternatif yang lebih ramah iklim yang selaras dengan tujuan Panel Antarpemerintah PBB tentang Perubahan Iklim (IPCC), khususnya menghilangkan 5–16 miliar ton CO2 dari atmosfer setiap tahunnya pada 2050.
Untuk mencapai target tersebut, CO2 harus ditangkap dari pembangkit listrik tenaga biomassa atau langsung dari udara.
Masalahnya, metode yang ada saat ini justru membutuhkan peningkatan produksi yang berbahan dasar minyak bumi. Hal ini secara otomatis malah mengurangi manfaat positifnya bagi iklim.
Oleh sebab itu, lebih baik manusia memanfaatkan sampah yang jumlahnya melimpah, daripada terus-terusan mengeruk minyak bumi dari dalam tanah.
"Dengan sarung tangan karet bekas ini, kita bisa membuat bahan penyerap CO2 yang hampir seluruh bahannya berasal dari sampah. Kita hanya butuh sedikit tambahan hidrogen," terang Kildahl.
Lebih lanjut, eksperimen ini masih dalam tahap laboratorium. Tujuannya adalah agar proses ini bisa diterapkan dalam skala besar dan menguntungkan secara ekonomi, sebuah target yang menurut Kildahl sangat mungkin untuk dicapai.
"Namun, kami telah mencapai bukti konsep. Jika kita dapat meningkatkan skala dan efisiensi biaya reaksinya, serta memperbaiki beberapa parameter kinerja untuk penangkapan CO2 dengan bahan ini, teknologi ini pun sudah mendekati tahap pengujian prototipe di lingkungan nyata," pungkas Kildahl.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya