JAKARTA, KOMPAS.com - Sripeni Inten Cahyani menjadi satu-satunya perempuan dari delapan anggota Dewan Energi Nasional (DEN) di luar pemerintah yang dilantik Presiden Prabowo Subianto.
DEN bertugas menyusun arah kebijakan energi nasional, menetapkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), serta memastikan implementasinya berjalan di tingkat daerah.
Baca juga:
Inten menuturkan, perannya di DEN bukan sekadar sebagai representasi perempuan, tapi juga memastikan kebijakan energi nasional disusun, dirumuskan, dan diawasi dengan baik dalam lima tahun ke depan.
"Barangkali nanti kami sebagai salah satu anggota pemangku kepentingan khususnya kalangan industri akan lebih erat mengawasi pelaksanaan kebijakan tersebut di lapangan. Apakah itu efektif atau berjalan dengan baik," ujar Inten dalam diskusi Publish What You Pay (PWYP) di Jakarta Pusat, Senin (9/3/2026).
Inten menilai, pengawasan tersebut penting guna meminimalisasi kesenjangan antara perencanaan dengan pelaksanaan Kebijakan Energi Nasional.
Sripeni Inten Cahyani menjadi satu-satunya perempuan di Dewan Energi Nasional (DEN). Perempuan bisa berperan dalam transisi energi di Indonesia.Di sisi lain, Komisaris PT Pupuk Kujang Cikampek ini menyoroti kesenjangan gender bagi perempuan di dunia kerja termasuk di sektor energi dan kebijakan publik.
Salah satunya, fenomena sticky floor yakni kondisi ketika perempuan sulit naik jenjang karier akibat berbagai stereotip.
"Tangganya seolah-olah enggak ada karier kita di atas, sudah patah duluan. Sementara yang laki-laki sudah bisa mencapai manajer atas misalnya, tetapi perempuan sulit," kata Inten.
"Padahal itu sebenarnya stigma saja, dan itu harus kita lawan dan kita harus kelola secara cermat," imbuh dia.
Inten menekankan bahwa perempuan yang selama ini kerap dianggap tidak memiliki suara dalam pengambilan keputusan sebenarnya dapat berperan besar dalam mendorong transisi energi.
Perempuan dapat terlibat dalam berbagai tahapan pembangunan energi, mulai dari penyusunan kebijakan, perencanaan, hingga pengawasan pelaksanaan program.
Baca juga:
Bahkan, perempuan berperan penting dalam pola konsumsi energi di tingkat rumah tangga. Dalam kehidupan sehari-hari perempuan sering mengambil keputusan terkait penggunaan peralatan rumah tangga yang hemat energi, meskipun biaya awalnya lebih mahal.
"Coba bayangkan, hampir setiap ibu-ibu pasti memikirkan penghematan di dalam keluarga dan ini naturalnya. Kenaturalan cocok untuk bicara transisi energi, penghematan, konservasi energi," tutur Inten.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar 77 persen perempuan di Indonesia mampu menjalankan peran di rumah tangga sekaligus bekerja.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya