KOMPAS.com - Perairan laut dalam kian menghangat akibat gelombang panas dan perubahan iklim, sebuah fenomena yang dapat mengancam keseimbangan kimia dan biologis laut yang rentan.
Namun, sebuah studi yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa mikroba Nitrosopumilus maritimus mungkin sudah beradaptasi dengan baik di perairan yang lebih hangat dan minim nutrisi.
Para peneliti pun memprediksi mikroba yang bergantung pada zat besi dan sangat adaptif ini akan memainkan peran penting dalam membentuk kembali distribusi nutrisi laut di tengah iklim yang terus berubah.
Peran mikroba
Melansir Phys, Senin (9/3/2026) mikroba Nitrosopumilus maritimus dan keluarganya jumlahnya sangat banyak, mencapai sekitar 30 persen dari total plankton di laut.
Baca juga: Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Para peneliti sepakat bahwa laut sangat bergantung pada mikroba ini untuk menjalankan proses kimia yang menjaga kehidupan di dalamnya.
Berkat kemampuannya mengolah amonia, mereka menjadi 'pemeran utama' dalam menjaga sirkulasi nutrisi di laut. Dengan mengubah zat nitrogen di air laut, mereka bisa mengatur pertumbuhan plankton yang menjadi sumber makanan utama bagi seluruh penghuni laut sehingga kekayaan hayati di laut tetap terjaga.
"Efek pemanasan laut bisa mencapai kedalaman hingga 1.000 meter atau lebih," ujar Wei Qin, profesor mikrobiologi dari University of Illinois Urbana-Champaign.
"Dulu kita mengira perairan laut dalam aman dari pemanasan yang terjadi di permukaan. Namun kini jelas bahwa pemanasan di laut dalam dapat mengubah cara mikroba archaea ini menggunakan zat besi, logam yang sangat mereka butuhkan. Hal ini berpotensi memengaruhi ketersediaan logam penting lainnya di laut dalam," kata Qin lagi.
Dalam studi ini, peneliti menguji mikroba Nitrosopumilus maritimus dengan berbagai tingkat suhu dan jumlah zat besi dalam lingkungan laboratorium yang sangat terjaga.
Hasilnya cukup mengejutkan. Saat suhu air naik namun zat besi sulit didapat, mikroba ini justru menjadi lebih 'pintar' dan efisien dalam menggunakan zat besi yang ada.
Ini membuktikan bahwa mikroba laut ini sangat tangguh dalam menghadapi perubahan iklim yang memicu suhu panas dan kelangkaan nutrisi.
Baca juga: Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
"Kami menggabungkan temuan ini dengan pemodelan kondisi laut global yang dilakukan oleh Alessandro Tagliabue dari University of Liverpool," kata Qin.
"Hasilnya menunjukkan bahwa komunitas mikroba di laut dalam kemungkinan besar tetap bisa menjalankan atau bahkan meningkatkan peran mereka dalam menjaga siklus nutrisi laut, meskipun suhu bumi makin panas dan nutrisi penting seperti zat besi semakin sulit didapat," terangnya.
Musim panas ini, peneliti akan mengadakan ekspedisi penelitian di atas kapal riset Sikuliaq.
Perjalanan ini dimulai dari Seattle menuju Teluk Alaska, lalu lanjut ke pusaran subtropis, dan berakhir di Honolulu, Hawaii. Sebanyak 20 peneliti lainnya akan ikut serta untuk membuktikan hasil temuan mereka langsung di lapangan, dengan fokus pada bagaimana suhu dan kelangkaan zat besi memengaruhi kehidupan alami mikroba archaea di laut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya