Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mikroba Laut Dalam Jadi Sekutu Hadapi Perubahan Iklim

Kompas.com, 10 Maret 2026, 16:50 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Perairan laut dalam kian menghangat akibat gelombang panas dan perubahan iklim, sebuah fenomena yang dapat mengancam keseimbangan kimia dan biologis laut yang rentan.

Namun, sebuah studi yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa mikroba Nitrosopumilus maritimus mungkin sudah beradaptasi dengan baik di perairan yang lebih hangat dan minim nutrisi.

Para peneliti pun memprediksi mikroba yang bergantung pada zat besi dan sangat adaptif ini akan memainkan peran penting dalam membentuk kembali distribusi nutrisi laut di tengah iklim yang terus berubah.

Peran mikroba

Melansir Phys, Senin (9/3/2026) mikroba Nitrosopumilus maritimus dan keluarganya jumlahnya sangat banyak, mencapai sekitar 30 persen dari total plankton di laut.

Baca juga: Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu

Para peneliti sepakat bahwa laut sangat bergantung pada mikroba ini untuk menjalankan proses kimia yang menjaga kehidupan di dalamnya.

Berkat kemampuannya mengolah amonia, mereka menjadi 'pemeran utama' dalam menjaga sirkulasi nutrisi di laut. Dengan mengubah zat nitrogen di air laut, mereka bisa mengatur pertumbuhan plankton yang menjadi sumber makanan utama bagi seluruh penghuni laut sehingga kekayaan hayati di laut tetap terjaga.

"Efek pemanasan laut bisa mencapai kedalaman hingga 1.000 meter atau lebih," ujar Wei Qin, profesor mikrobiologi dari University of Illinois Urbana-Champaign.

"Dulu kita mengira perairan laut dalam aman dari pemanasan yang terjadi di permukaan. Namun kini jelas bahwa pemanasan di laut dalam dapat mengubah cara mikroba archaea ini menggunakan zat besi, logam yang sangat mereka butuhkan. Hal ini berpotensi memengaruhi ketersediaan logam penting lainnya di laut dalam," kata Qin lagi.

Dalam studi ini, peneliti menguji mikroba Nitrosopumilus maritimus dengan berbagai tingkat suhu dan jumlah zat besi dalam lingkungan laboratorium yang sangat terjaga.

Hasilnya cukup mengejutkan. Saat suhu air naik namun zat besi sulit didapat, mikroba ini justru menjadi lebih 'pintar' dan efisien dalam menggunakan zat besi yang ada.

Ini membuktikan bahwa mikroba laut ini sangat tangguh dalam menghadapi perubahan iklim yang memicu suhu panas dan kelangkaan nutrisi.

Baca juga: Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?

"Kami menggabungkan temuan ini dengan pemodelan kondisi laut global yang dilakukan oleh Alessandro Tagliabue dari University of Liverpool," kata Qin.

"Hasilnya menunjukkan bahwa komunitas mikroba di laut dalam kemungkinan besar tetap bisa menjalankan atau bahkan meningkatkan peran mereka dalam menjaga siklus nutrisi laut, meskipun suhu bumi makin panas dan nutrisi penting seperti zat besi semakin sulit didapat," terangnya.

Musim panas ini, peneliti akan mengadakan ekspedisi penelitian di atas kapal riset Sikuliaq.

Perjalanan ini dimulai dari Seattle menuju Teluk Alaska, lalu lanjut ke pusaran subtropis, dan berakhir di Honolulu, Hawaii. Sebanyak 20 peneliti lainnya akan ikut serta untuk membuktikan hasil temuan mereka langsung di lapangan, dengan fokus pada bagaimana suhu dan kelangkaan zat besi memengaruhi kehidupan alami mikroba archaea di laut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
Pemerintah
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Pemerintah
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau