KOMPAS.com - United Nations Framework on Climate Change Conference (UNFCCC) menyebut perang AS-Israel vs Iran memicu lonjakan tarif penerbangan karena kenaikan harga minyak, hingga mengganggu operasional sekolah di Asia dan Australia.
Sebagian besar ketidakpastian harga disebabkan serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz, jalur selebar 38 kilometer yang dilalui sekitar seperlima pasokan kapal pembawa minyak global.
“Dampak dari terganggunya pasokan energi dirasakan di seluruh dunia. Negara-negara sedang terguncang,” ungkap Sekretaris Eksekutif UNFCCC, Simon Stiell dilansir dari Euro News, Selasa (17/3/2026).
Baca juga: Konflik AS-Israel Vs Iran Jadi Momentum Indonesia Percepat Penggunaan BBM Bersih
Akibat konflik, penerbangan yang masih beroperasi harus menempuh rute lebih panjang guna menghindari zona bahaya. Lantaran waktu perjalanan menjadi lebih lama, penggunaan bahan bakar lebih banyak, dan menambah emisi.
Maskapai penerbangan Australia, Qantas, terpaksa mengubah rute penerbangan Perth ke London, yang kini memerlukan pengisian bahan bakar di Singapura. Kenaikan harga tiket diperkirakan akan berlanjut, meski konflik antarnegara tersebut mereda.
Di Bangladesh, kenaikan bahan bakar minyak (BBM) menyebabkan universitas-universitas ditutup lebih awal, dengan memajukan liburan Idul Fitri untuk menghemat energi dan mengurangi penggunaan transportasi.
Sementara, pemerintah Pakistan memutuskan menutup operasional sekolah selama dua pekan dan memerintahkan universitas untuk beralih pembelajaran ke daring.
Baca juga: Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Tunjangan BBM untuk pemerintah turut dipangkas hingga 50 persen di negara tersebut. Kantor-kantor publik juga hanha dibuka selama empat hari per pekannya, sedangkan setengah dari pegawai akan bekerja jarak jauh.
Jam kerja di Filipina dipangkas satu hari sebagai respons terhadap kenaikan harga bahan bakar yang terkait dengan konflik di Timur Tengah.
Selain itu, aksi mengirit energi listrik dilakukan di Thailand di mana pegawai pemerintah diwajibkan menggunakan tangga daripada lift, menaikkan suhu pendingin ruangan hingga 27 derajat celsius, dan mengenakan kemeja lengan pendek.
Pemerintah Vietnam, yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah meminta perusahaan-perusahaan agar karyawannya bekerja dari rumah.
Di berbagai negara, kenaikan harga bensin dan solar telah menyebabkan panic buying atau kepanikan membeli di SPBU. Puluhan SPBU di Australia serta beberapa kota dilaporkan kehabisan pasokan, sehingga pemasok bahan bakar komersial membatasi pembelian per pelanggan.
Dengan meningkatnya kekhawatiran akan kekurangan pasokan, Australia telah melonggarkan standar kualitas bahan bakarnya, sehingga memungkinkan kembalinya bahan bakar yang disebut 'kotor' dengan kandungan sulfur tinggi, yang dikaitkan dengan polusi udara yang parah.
"Di Inggris, para pengemudi diimbau untuk menghindari perjalanan yang tidak perlu. Pengemudi dapat mempertimbangkan untuk mengurangi beberapa perjalanan yang tidak penting dan mengubah gaya mengemudi mereka untuk menghemat bahan bakar," ungkap presiden organisasi otomotif AA, Edmund King.
Stiell mencatat, Mesir telah menetapkan batas harga roti karena kekhawatiran akan inflasi di tengah melonjaknya tarif minyak dunia. Harga bahan bakar yang tinggi diprediksi akan berdampak pada biaya produksi dan transportasi, yang memengaruhi petani maupun konsumen.
Baca juga: LPEM UI: Defisit APBN Bisa Lampaui 3 Persen Jika Harga Minyak Tetap Tinggi
Di beberapa negara, dampaknya terhadap sistem pangan lebih langsung. Restoran di India, misalnya, harus menyesuaikan menu mereka atau tutup sementara karena kekurangan gas untuk memasak .
“Ketergantungan pada bahan bakar fosil berarti perekonomian, anggaran rumah tangga, dan keuntungan bisnis berada di bawah belas kasihan guncangan geopolitik dan volatilitas harga di dunia yang kacau,” kata Stiell.
Dia berpandangan, negara-negara harus segera beralih menggunakan energi terbarukan untuk tetap bertahan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya