KOMPAS.com - Inggris membentuk Komisi Risiko Panas Nasional untuk mengkaji dan merespons suhu ekstrem yang lebih sering terjadi dengan lebih baik.
Komisi ini akan berbasis di Grantham Research Institute on Climate Change and the Environment di London School of Economics and Political Science (LSE).
Komisi tersebut akan diketuai oleh Emma Howard Boyd, mantan ketua Environment Agency dan London Climate Resilience Review, yang dijadwalkan mulai menjabat posisi barunya di institut tersebut pada 1 April.
Melansir Edie, Senin (23/3/2026) komisi ini akan memberikan peta jalan guna memastikan Inggris memiliki ketahanan terhadap suhu ekstrem tanpa mengorbankan target ekonomi maupun tujuan iklim.
Baca juga: Bumi Catat Rekor Panas Ekstrem Tahun 2025, PBB Ingatkan Dampaknya
"Panas ekstrem tidak pilih-pilih. Itu bisa berdampak secara tidak proporsional terhadap kelompok masyarakat yang paling rentan, mulai dari lansia, anak-anak, serta ibu hamil," papar Howard Boyd.
Lembaga ini akan bekerja secara mandiri, terlepas dari pemerintah pusat maupun daerah. Tugasnya adalah memberikan saran bagi pemerintah tentang cara menyelamatkan nyawa dan menjaga ekonomi dari bahaya suhu panas.
Anggotanya terdiri dari para ahli di bidang kesehatan masyarakat, risiko kebakaran hutan, cuaca, hingga produktivitas kerja. Anggota tambahan lainnya akan diumumkan akhir tahun ini.
Komisi ini dibentuk setelah suhu di Inggris berkali-kali memecahkan rekor. Tahun 2025 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat, diikuti oleh tahun 2024 di posisi kedua dan 2023 di posisi ketiga.
Komisi ini rencananya akan menerbitkan laporan awal pada musim panas 2026, yang kemudian diikuti dengan laporan akhir pada Juni 2027.
Laporan-laporan tersebut akan fokus pada langkah nyata untuk memperbaiki kondisi rumah, lingkungan kerja, dan kehidupan sehari-hari di tengah suhu bumi yang semakin panas.
Studi terbaru dari Universitas Oxford menunjukkan bahwa pada tahun 2050-an, jumlah hari dengan panas ekstrem bisa melonjak hingga 150 persen dibandingkan periode 2006–2016.
Baca juga: Suhu Air Laut yang Naik Picu Gelombang Panas Ekstrem di Darat
Studi tersebut juga mencatat bahwa negara-negara dengan bangunan dan fasilitas yang dirancang untuk suhu dingin mungkin akan merasakan dampak yang jauh lebih parah, meski kenaikan suhunya tergolong sedang.
Sementara analisis terbaru dari McKinsey Global Institute menunjukkan bahwa pada tahun 2050, ketika suhu dunia diperkirakan naik 2 derajat C di atas suhu masa sebelum industri, sekitar 40 persen penduduk dunia bisa mengalami stres akibat panas.
Selain itu, 1 persen penduduk akan terancam banjir pesisir. Laporan tersebut memperkirakan bahwa sebagian besar biaya adaptasi iklim akan terserap untuk menangani panas dan kekeringan, di mana pengeluaran terbesarnya akan dialokasikan untuk sistem pendingin dan irigasi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya