Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hadapi Suhu Ekstrem, Inggris Bentuk Komisi Khusus Risiko Panas

Kompas.com, 25 Maret 2026, 15:32 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Inggris membentuk Komisi Risiko Panas Nasional untuk mengkaji dan merespons suhu ekstrem yang lebih sering terjadi dengan lebih baik.

Komisi ini akan berbasis di Grantham Research Institute on Climate Change and the Environment di London School of Economics and Political Science (LSE).

Komisi tersebut akan diketuai oleh Emma Howard Boyd, mantan ketua Environment Agency dan London Climate Resilience Review, yang dijadwalkan mulai menjabat posisi barunya di institut tersebut pada 1 April.

Melansir Edie, Senin (23/3/2026) komisi ini akan memberikan peta jalan guna memastikan Inggris memiliki ketahanan terhadap suhu ekstrem tanpa mengorbankan target ekonomi maupun tujuan iklim.

Baca juga: Bumi Catat Rekor Panas Ekstrem Tahun 2025, PBB Ingatkan Dampaknya

"Panas ekstrem tidak pilih-pilih. Itu bisa berdampak secara tidak proporsional terhadap kelompok masyarakat yang paling rentan, mulai dari lansia, anak-anak, serta ibu hamil," papar Howard Boyd.

Respons terhadap suhu ekstrem

Lembaga ini akan bekerja secara mandiri, terlepas dari pemerintah pusat maupun daerah. Tugasnya adalah memberikan saran bagi pemerintah tentang cara menyelamatkan nyawa dan menjaga ekonomi dari bahaya suhu panas.

Anggotanya terdiri dari para ahli di bidang kesehatan masyarakat, risiko kebakaran hutan, cuaca, hingga produktivitas kerja. Anggota tambahan lainnya akan diumumkan akhir tahun ini.

Komisi ini dibentuk setelah suhu di Inggris berkali-kali memecahkan rekor. Tahun 2025 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat, diikuti oleh tahun 2024 di posisi kedua dan 2023 di posisi ketiga.

Komisi ini rencananya akan menerbitkan laporan awal pada musim panas 2026, yang kemudian diikuti dengan laporan akhir pada Juni 2027.

Laporan-laporan tersebut akan fokus pada langkah nyata untuk memperbaiki kondisi rumah, lingkungan kerja, dan kehidupan sehari-hari di tengah suhu bumi yang semakin panas.

Risiko panas yang meningkat

Studi terbaru dari Universitas Oxford menunjukkan bahwa pada tahun 2050-an, jumlah hari dengan panas ekstrem bisa melonjak hingga 150 persen dibandingkan periode 2006–2016.

Baca juga: Suhu Air Laut yang Naik Picu Gelombang Panas Ekstrem di Darat

Studi tersebut juga mencatat bahwa negara-negara dengan bangunan dan fasilitas yang dirancang untuk suhu dingin mungkin akan merasakan dampak yang jauh lebih parah, meski kenaikan suhunya tergolong sedang.

Sementara analisis terbaru dari McKinsey Global Institute menunjukkan bahwa pada tahun 2050, ketika suhu dunia diperkirakan naik 2 derajat C di atas suhu masa sebelum industri, sekitar 40 persen penduduk dunia bisa mengalami stres akibat panas.

Selain itu, 1 persen penduduk akan terancam banjir pesisir. Laporan tersebut memperkirakan bahwa sebagian besar biaya adaptasi iklim akan terserap untuk menangani panas dan kekeringan, di mana pengeluaran terbesarnya akan dialokasikan untuk sistem pendingin dan irigasi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
Pemerintah
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Pemerintah
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau