Penulis
KOMPAS.com - Kenaikan suhu air laut termasuk pemicu terjadinya gelombang panas ekstrem di daratan.
Menurut studi gabungan dari berbagai lembaga, kenaikan suhu permukaan laut mendorong sekitar 50 hingga 64 persen peningkatan gelombang panas di darat secara global.
Baca juga:
Laporan ini tertuang dalam studi berjudul “Large-scale Aggregation of Humid Heatwaves Exacerbated by Coastal Oceanic Warming”.
"Kami menggunakan pendekatan jaringan kompleks yang diterapkan pada data reanalisis iklim untuk menunjukkan peningkatan intensitas gelombang panas lembap yang teramati memiliki hubungan erat dengan pemanasan laut pesisir selama periode 1982–2023," kata para peneliti, dilansir dari Down to Earth, Rabu (25/3/2026).
Kenaikan suhu air laut termasuk pemicu terjadinya gelombang panas ekstrem di daratan. Simak penjelasannya.Peneliti dari Potsdam Institute for Climate Impact Research, Fenying Cai, menjelaskan hubungan antara laut yang memanas dengan kondisi di darat.
"Kami melihat adanya hubungan yang erat antara pemanasan perairan pesisir dan terjadinya peristiwa cuaca ekstrem yang panas dan lembap secara beruntun, terutama di daerah tropis, di mana lautan menyuplai lebih banyak uap air ke atmosfer, yang kemudian terbawa ke daratan dan memperkuat panas," jelas Cai.
Di wilayah yang jauh dari garis khatulistiwa, pola gelombang atmosfer juga ikut berperan. Kombinasi pemanasan darat dan laut menciptakan cuaca ekstrem yang sulit dihindari.
Adapun dunia yang makin panas membuat gelombang panas menjadi fenomena permanen.
Para ahli memantau risiko ini menggunakan ambang batas suhu bola basah (wet bulb temperature). Angkanya berada di sekitar 31,5 derajat celsius.
Jika suhu dan kelembapan melewati batas ini, keringat di tubuh dinilai tidak lagi efektif untuk mendinginkan suhu badan. Kondisi tersebut sangat berbahaya karena bisa heatstroke (sengatan panas).
Baca juga:
Kenaikan suhu air laut termasuk pemicu terjadinya gelombang panas ekstrem di daratan. Simak penjelasannya.Pada tahun 2023, banyak negara di Asia, khususnya di Asia Selatan dan Asia Barat, yang mengalami gelombang panas ekstrem. Studi tersebut menunjukkan, fenomena itu dipicu oleh kenaikan suhu Samudera Hindia.
Kejadian serupa juga melanda wilayah lain. Suhu permukaan laut yang memecahkan rekor di Atlantik Utara pada tahun 2023 menyebabkan gelombang panas hebat di sisi selatan Amerika Selatan.
Penemuan ini memberikan harapan baru untuk sistem peringatan dini.
"Yang terpenting, suhu permukaan laut di wilayah pesisir muncul sebagai indikator peringatan dini potensial untuk kejadian panas lembap ekstrem yang meluas," ucap salah satu penulis studi tersebut, Jurgen Kurths.
Sebagai informasi, Indonesia diprediksi akan memasuki musim kemarau mulai April 2026. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau ini datang lebih awal dan lebih kering.
Adapun puncak musim kemarau di Indonesia tahun ini diprediksi terjadi pada Agustus 2026.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya