Editor
KOMPAS.com - H&M Group menetapkan serangkaian target berbasis sains untuk mengurangi dampak operasionalnya terhadap lingkungan, khususnya terkait penggunaan lahan, termasuk mencegah konversi ekosistem alami dan menekan jejak lahan dalam rantai pasok.
Dikutip dari ESG Today, Selasa (24/3/2026), perusahaan menyebutkan, target tersebut disusun dengan panduan dari Science Based Targets Network (SBTN) dan telah divalidasi oleh organisasi tersebut.
SBTN merupakan inisiatif global yang diluncurkan pada 2019 oleh sejumlah organisasi, seperti CDP, World Resources Institute (WRI), WWF, United Nations Global Compact, dan Conservation International.
Baca juga: Craftsmanship dan Sustainability, Strategi Filoposy Bertahan di Industri Fesyen
Inisiatif ini bertujuan membantu perusahaan menetapkan target berbasis sains tidak hanya untuk emisi karbon, tetapi juga untuk aspek lingkungan lain seperti keanekaragaman hayati, lahan, air tawar, dan laut.
H&M Group menjadi salah satu dari 17 perusahaan yang mengikuti program percontohan SBTN sejak 2023 untuk menguji proses validasi target berbasis alam.
Chief Executive Officer SBTN, Erin Billman, menilai langkah H&M sebagai bagian dari upaya konkret sektor bisnis dalam menghadapi krisis lingkungan global.
“Dengan mengadopsi target berbasis sains untuk lahan, H&M Group mengambil langkah yang terukur dan berbasis ilmu pengetahuan untuk mengatasi hilangnya alam secara global,” ujar Billman.
Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut menunjukkan bagaimana perusahaan dengan rantai pasok global yang kompleks dapat menerjemahkan komitmen keberlanjutan menjadi aksi nyata yang terukur.
Target baru H&M selaras dengan tiga fokus utama SBTN, yaitu mencegah konversi ekosistem alami, mengurangi jejak penggunaan lahan, dan meningkatkan keterlibatan dalam pengelolaan lanskap prioritas.
Sebagai bagian dari target tersebut, H&M menargetkan penggunaan 100 persen bahan baku berkelanjutan pada 2030, serta meningkatkan porsi material daur ulang hingga 50 persen. Perusahaan juga menargetkan penurunan jejak lahan pertanian sebesar 3,85 persen dibandingkan baseline tahun 2019.
Selain itu, perusahaan berencana memperkuat persyaratan bagi pemasok untuk memastikan sumber bahan bebas dari deforestasi, serta mendukung praktik pertanian regeneratif di wilayah pemasok utama.
Chief Sustainability Officer H&M Group, Leyla Ertur, mengatakan ancaman terhadap alam secara langsung berdampak pada keberlanjutan industri.
Baca juga: Tekstil Hijau dari Kombucha, Revolusi Fesyen Ramah Lingkungan
“Ancaman dan degradasi alam juga memengaruhi sumber daya yang menjadi andalan industri kami, yakni kesehatan tanah, siklus air, dan keanekaragaman hayati,” ujar Ertur.
“Dengan berkomitmen pada target lahan SBTN, kami mendasarkan keputusan pada ilmu pengetahuan dan memperkuat kemampuan kami untuk melindungi ekosistem bersama rantai pasok, petani, dan komunitas,” lanjutnya.
Melalui target tersebut, H&M menyatakan akan mendukung pemulihan ekosistem melalui praktik pertanian yang lebih berkelanjutan, sekaligus mengurangi tekanan terhadap lahan melalui peningkatan penggunaan bahan daur ulang.
Langkah ini mencerminkan tren global di mana perusahaan mulai memperluas komitmen keberlanjutan tidak hanya pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga pada perlindungan ekosistem dan sumber daya alam secara menyeluruh.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya