Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perusahaan Fesyen Ini Tetapkan Target Berbasis Sains untuk Kurangi Dampak Lingkungan pada Lahan

Kompas.com, 24 Maret 2026, 19:41 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

KOMPAS.com - H&M Group menetapkan serangkaian target berbasis sains untuk mengurangi dampak operasionalnya terhadap lingkungan, khususnya terkait penggunaan lahan, termasuk mencegah konversi ekosistem alami dan menekan jejak lahan dalam rantai pasok.

Dikutip dari ESG Today, Selasa (24/3/2026), perusahaan menyebutkan, target tersebut disusun dengan panduan dari Science Based Targets Network (SBTN) dan telah divalidasi oleh organisasi tersebut.

SBTN merupakan inisiatif global yang diluncurkan pada 2019 oleh sejumlah organisasi, seperti CDP, World Resources Institute (WRI), WWF, United Nations Global Compact, dan Conservation International.

Baca juga: Craftsmanship dan Sustainability, Strategi Filoposy Bertahan di Industri Fesyen

Inisiatif ini bertujuan membantu perusahaan menetapkan target berbasis sains tidak hanya untuk emisi karbon, tetapi juga untuk aspek lingkungan lain seperti keanekaragaman hayati, lahan, air tawar, dan laut.

H&M Group menjadi salah satu dari 17 perusahaan yang mengikuti program percontohan SBTN sejak 2023 untuk menguji proses validasi target berbasis alam.

Chief Executive Officer SBTN, Erin Billman, menilai langkah H&M sebagai bagian dari upaya konkret sektor bisnis dalam menghadapi krisis lingkungan global.

“Dengan mengadopsi target berbasis sains untuk lahan, H&M Group mengambil langkah yang terukur dan berbasis ilmu pengetahuan untuk mengatasi hilangnya alam secara global,” ujar Billman.

Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut menunjukkan bagaimana perusahaan dengan rantai pasok global yang kompleks dapat menerjemahkan komitmen keberlanjutan menjadi aksi nyata yang terukur.

Tiga Fokus

Target baru H&M selaras dengan tiga fokus utama SBTN, yaitu mencegah konversi ekosistem alami, mengurangi jejak penggunaan lahan, dan meningkatkan keterlibatan dalam pengelolaan lanskap prioritas.

Sebagai bagian dari target tersebut, H&M menargetkan penggunaan 100 persen bahan baku berkelanjutan pada 2030, serta meningkatkan porsi material daur ulang hingga 50 persen. Perusahaan juga menargetkan penurunan jejak lahan pertanian sebesar 3,85 persen dibandingkan baseline tahun 2019.

Selain itu, perusahaan berencana memperkuat persyaratan bagi pemasok untuk memastikan sumber bahan bebas dari deforestasi, serta mendukung praktik pertanian regeneratif di wilayah pemasok utama.

Chief Sustainability Officer H&M Group, Leyla Ertur, mengatakan ancaman terhadap alam secara langsung berdampak pada keberlanjutan industri.

Baca juga: Tekstil Hijau dari Kombucha, Revolusi Fesyen Ramah Lingkungan

“Ancaman dan degradasi alam juga memengaruhi sumber daya yang menjadi andalan industri kami, yakni kesehatan tanah, siklus air, dan keanekaragaman hayati,” ujar Ertur.

“Dengan berkomitmen pada target lahan SBTN, kami mendasarkan keputusan pada ilmu pengetahuan dan memperkuat kemampuan kami untuk melindungi ekosistem bersama rantai pasok, petani, dan komunitas,” lanjutnya.

Melalui target tersebut, H&M menyatakan akan mendukung pemulihan ekosistem melalui praktik pertanian yang lebih berkelanjutan, sekaligus mengurangi tekanan terhadap lahan melalui peningkatan penggunaan bahan daur ulang.

Langkah ini mencerminkan tren global di mana perusahaan mulai memperluas komitmen keberlanjutan tidak hanya pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga pada perlindungan ekosistem dan sumber daya alam secara menyeluruh.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
BUMN
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau