Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Industri Pakaian Disebut Terlalu Lamban Kurangi Emisi Karbon

Kompas.com, 24 Maret 2026, 19:09 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com - Industri pakaian (apparel) dinilai hanya sedikit berhasil mengurangi penggunaan karbon dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut laporan dari Cascale yang dirilis awal tahun ini, penilaian itu berarti proses dekarbonisasi tidak berjalan pada kecepatan atau skala yang cukup untuk memenuhi target pembatasan pemanasan bumi sebesar 1,5 derajat celsius di atas tingkat pra-industri.

Baca juga:

Sebagai informasi, Cascale atau yang sebelumnya dikenal sebagai Sustainable Apparel Coalition, merupakan organisasi yang terdiri dari 300 perusahaan pakaian, sepatu, dan tekstil yang didirikan pada tahun 2009 oleh Walmart dan Patagonia.

Laporan tersebut menganalisis data energi tahun 2023 dan 2024 menggunakan alat penilaian dampak lingkungan bernama Higg Facility Environmental Module, dilansir dari ESG Dive, Selasa (24/3/2026).

Fokus penelitiannya adalah pada pabrik pembuatan produk jadi (tier 1) dan pabrik pembuatan bahan baku atau kain (tier 2).

Penghitungan emisi karbon industri apparel

Fokus perbaiki pabrik-pabrik besar

Industri pakaian (apparel) dinilai hanya sedikit berhasil mengurangi penggunaan karbon dalam beberapa tahun terakhir.Unsplash/hannahmorgan Industri pakaian (apparel) dinilai hanya sedikit berhasil mengurangi penggunaan karbon dalam beberapa tahun terakhir.

Analisis ini menggunakan ukuran baru bernama Intensitas Karbon Energi Efektif (Effective Energy Carbon Intensity), yang menunjukkan seberapa besar polusi karbon dari penggunaan energi di sebuah pabrik.

"Inti dari ukuran ini adalah menghitung kembali energi listrik yang dipakai pabrik menjadi jumlah bahan bakar fosil yang dibutuhkan untuk menghasilkan listrik tersebut," catat laporan tersebut.

Cara hitung ini memungkinkan peneliti untuk membandingkan langsung antara energi panas seperti pembakaran batu bara di pabrik dan energi listrik yang digunakan.

Laporan ini berfokus pada pabrik-pabrik di negara produsen utama, seperti China, India, Bangladesh, Vietnam, Turkiye, Pakistan, dan Sri Lanka.

Di China, Turkiye, dan Vietnam, misalnya, tingkat polusi pabriknya rata-rata hampir sama.

Namun, di India, Sri Lanka, dan Pakistan, perbedaannya sangat jauh antar-pabrik sehingga angka rata-rata nasional tidak bisa menggambarkan kondisi aslinya. Ada pabrik yang sudah sangat bersih, tapi banyak juga yang masih sangat kotor.

Namun, laporan tersebut juga menemukan, meskipun di beberapa negara tingkat polusinya terlihat merata, beban polusi sebenarnya menumpuk di pabrik-pabrik tertentu saja.

Sebagian kecil pabrik berukuran besar yang boros energi ternyata menyumbang polusi yang jauh lebih banyak dibandingkan pabrik lainnya.

Hal itu artinya, jika berfokus memperbaiki pabrik-pabrik besar ini, kemajuan dalam mengurangi polusi global akan jauh lebih cepat daripada mencoba memperbaiki semua pabrik sekaligus secara merata.

"Laporan ini mempertegas bahwa tidak ada jalan pintas untuk mengurangi emisi karbon," kata wakil presiden senior Higg Index di Cascale, Jeremy Lardeau.

"Kemajuan yang nyata bergantung pada kerja sama di seluruh rantai produksi, bukan sekadar merek-merek yang berpindah-pindah mencari pabrik lain. Besarnya investasi yang dibutuhkan untuk pembersihan karbon secara menyeluruh di tingkat pabrik berarti merek-merek pakaian harus ikut turun tangan secara nyata," tambah dia.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau