KOMPAS.com - Di tengah maraknya AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, orangtua bisa menyiapkan anak dengan keterampilan tertentu agar siap menghadapi masa depan.
Misalnya, orangtua bisa mengajarkan buah hati tentang kreativitas, rasa ingin tahu, dan pemecahan masalah.
Baca juga:
Ahli neurosains teoritis, Vivienne Ming menganjurkan orangtua untuk kurangi mengajarkan keterampilan yang tidak akan dibutuhkan anaknya dalam 10 tahun ke depan.
"Sebagai seorang ahli saraf dan pengusaha, saya telah menghabiskan seluruh karier saya dengan mengajukan sebuah pertanyaan sederhana: Keterampilan apa yang akan menjadi penting ketika AI mampu menghasilkan jawaban dan mengotomatiskan sebagian besar pekerjaan kognitif?" tulis Ming, dilansir dari CNBC, Sabtu (28/3/2026).
AI diprediksi akan mengotomatiskan banyak pekerjaan. Apa yang harus dilakukan orangtua agar anak bisa menghadapi era AI?Orangtua dinilai perlu menggeser cara mendidik dari mentransmisi pengetahuan ke pembangunan kapasitas anak agar bisa bertahan terhadap ancaman AI.
Menurut Ming, orangtua sebaiknya mengajari anak-anaknya untuk lebih kritis dan kreatif saat berinteraksi dengan AI.
Ia menyarankan orangtua mengubah peran anaknya dari konsumen pasif, menjadi kritikus aktif terhadap hasil karya AI.
Mereka juga perlu memosisikan anaknya sebagai pihak yang mempertanyakan, membimbing, dan mengevaluasi AI. Sementara itu, AI diposisikan hanya sebagai kolaborator cerdas, tapi naif.
Buah hati akan belajar memanfaatkan pengetahuan luas AI bukan sebagai sumber kebenaran, melainkan mitra debat untuk mempertajam perspektif unik mereka sendiri.
"Dunia sudah memiliki jawaban yang 'benar' di sakunya, hampir gratis. Nilai sebenarnya yang dibawa anak Anda adalah jawaban yang hanya mereka yang bisa berikan," ucap Ming.
"Sebagai Kepala Kritikus AI, mereka mengeksplorasi dan menciptakan makna mereka sendiri dari apa yang diketahui AI. Itulah esensi dari kerja kreatif, dan itulah yang dibutuhkan dunia lebih banyak lagi," tambah dia.
Sistem pendidikan saat ini masih terobsesi dengan kebenaran yang kerap menghilangkan naluri anak untuk bersedia melakukan kesalahan.
Sistem pendidikan tersebut mengajarkan anak bahwa kegagalan mencerminkan nilai diri mereka, alih-alih menjadi pendorong pertumbuhan.
Eksplorasi dan kegagalan memprediksi pembelajaran mendalam lebih baik daripada mengulang jawaban yang benar.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya